Memaknai Ulang Ramadan Semasa Pandemi COVID-19

Niat saya berbuka puasa di sebuah mal di DKI Jakarta pernah pupus karena semua restoran telah penuh sesak. Beberapa orang yang tak kebagian tempat seperti saya terpaksa duduk mengemper di lantai. Saya memilih untuk membeli air kemasan di supermarket dan pulang ke rumah. Di lain waktu, saya membela-belakan untuk stand-by di sebuah restoran sejak pukul setengah lima sore agar tidak kehabisan tempat.

Walaupun buka puasa bisa dilakukan di mana saja, berbuka puasa bersama di luar rumah telah jadi tradisi yang tak terelakkan setiap bulan Ramadan, entah sekadar karena bosan di rumah atau menjadikannya ajang untuk bersilaturahmi dengan kawan-kawan lama.

Buka puasa bersama itu pun kadang berwujud pemberian dari orang lain—seperti ibu kos yang memberikan makanan kepada anak-anak kos karena paham mereka kerap menahan lapar, masjid yang membagi-bagikan makanan bagi orang yang tak mampu, atau kantor yang menyediakan takjil bagi yang masih bekerja. Saat masih mahasiswa, organisasi saya di kampus juga selalu mengadakan piket takjil. Setiap harinya, ada saja yang menyiapkan makanan buat seluruh anggota—dari yang sekadar cemilan seperti kue basah dan cendol hingga martabak dan batagor yang porsinya cukup besar untuk makan malam.

Tak dimungkiri bahwa bulan Ramadan lekat dengan kegiatan-kegiatan komunal yang akhirnya turut mendefinisikan arti bulan puasa di Indonesia. Namun, pandemi COVID-19 mendisrupsi kegiatan-kegiatan tersebut. Sejak awal April, pemerintah telah mewanti-wanti agar kebiasaan berkumpul di kala Ramadan dapat dihindari. Menteri Agama Fachrul Razi menerbitkan Surat Edaran terkait Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri Syawal 1441 H. Fachrul Razi mengatakan kegiatan di masjid ditiadakan—termasuk salat tarawih, iktikaf, dan salat id. Masyarakat pun diminta untuk tidak melakukan kegiatan takbiran. Majelis Ulama Indonesia (MUI), Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), dan Muhammadiyah telah memberikan imbauan serupa.  

Bagi Dwi Lestari, pandemi akan mengganggu rutinitas tarawihnya. “Aku biasanya suka pindah-pindah masjid buat tarawih biar nggak bosan sama suara imamnya. Kadang di dekat kosan di Depok, kadang sampai menjelajah ke masjid Istiqlal. Tapi sekarang mau nggak mau harus tarawih di rumah,” kata Dwi kepada Asumsi.co (22/4).

Sementara itu, bagi Putri Ardhiana, kewajiban melakukan social distancing membuatnya tidak akan pergi mudik untuk pertama kali dalam hidupnya. “Saat lebaran, di kampungku ada tradisi tiga hari berturut-turut silaturahmi ke rumah sanak saudara yang berusia lanjut. Totalnya bisa 20-30 rumah dikunjungi. Di hari pertama lebaran, satu kampung pun berkumpul di rumah kakekku untuk doa bersama dan bagi-bagi sembako,” kata Putri. “Ini nggak bisa diganti pakai platform online." 

Kami sama-sama tak menyangka akan ada masanya ketika bulan Ramadan tak lagi diwarnai dengan keramaian.

Ramadan kali ini akan berbeda, tetapi ustaz Husein Ja’far Al Hadar mengatakan bahwa pandemi dapat menjadi momentum bagi kita untuk memaknai ulang bulan Ramadan beserta kegiatan-kegiatan yang melingkupinya. Setiap tempat bisa dijadikan tempat ibadah—tak melulu mesti pergi ke masjid.

“Kalau kita kembali ke ajaran Islam, masjid bukan hanya bangunan berbentuk kubah, tapi setiap tempat di mana kamu bisa beribadah. Ali Bin Abi Thalib pernah berkata bahwa pasar di era awal Islam telah seperti tempat ibadah. Banyak transaksi yang sesuai dengan hukum dagang Islam: adil dan membuat banyak orang terbantu,” ujar Husein kepada Asumsi.co (22/4).

Puasa pun tidak bisa dimaknai secara sempit, sekadar upaya menahan lapar dan haus. “Bagi saya, inti puasa adalah merelakan untuk melepaskan hak kita untuk kemaslahatan yang lebih besar,” kata Husein.

Upaya melakukan social distancing, misalnya, dapat dimaknai sebagai salah satu bentuk ibadah puasa. Jika mengosongkan perut sepanjang hari jadi upaya untuk memunculkan rasa empati dan memahami beratnya kelaparan, social distancing adalah upaya untuk mencegah penularan COVID-19 dan membuat orang lain berada dalam bahaya.

“Jenis puasa dalam Islam banyak, yang intinya adalah menahan diri. Keluar rumah memang tidak membatalkan puasa, tapi saya rasa pahala puasa orang yang keluar rumah tanpa urusan mendesak malah akan berkurang. Esensi puasa jadi hilang,” tuturnya.

Baginya, Ramadan kali ini dapat jadi ajang untuk mengintrospeksi diri dan menghabiskan waktu lebih banyak dengan orang-orang terdekat. “Dalam beberapa hal, ibadah di rumah jadi lebih baik daripada di masjid. Sebab kita memprioritaskan keluarga. Orang Indonesia rata-rata hanya punya waktu aktif bersama keluarga kurang dari dua jam. Waktu 8 jam di rumah dipakai untuk tidur. Tidak ada ibadah bareng, sharing keagamaan, atau pendidikan. Kalau kita melihat positifnya, kita jadi punya waktu untuk keluarga,” tutur Husein.

Begitu pula dengan iktikaf yang menurutnya bisa dilakukan di dalam rumah dan jadi ajang untuk merenungkan kesalahan-kesalahan kita. “Meskipun iktikaf punya nilai spiritual yang sangat tinggi, bagi saya tidak boleh memaksakan untuk pergi ke masjid. Iktikaf secara batin tetap dapat dilakukan dengan menyendiri di kamar atau di musala rumah. Iktikaf juga jadi ajang kita untuk merenungkan kesalahan-kesalahan—tidak cuma yang sifatnya rohani tetapi juga lahiriah. Apakah kita selama ini terlalu mengotori bumi? Apakah hidup kita tidak bersih?”

Bulan Ramadan juga dapat jadi momentum untuk lebih banyak berbagi dengan orang lain, terutama karena pandemi membuat banyak orang kesusahan dan tak punya cukup pemasukan untuk sekadar membeli makan. 

Jika pada bulan-bulan Ramadan sebelumnya masjid-masjid kerap mengadakan acara buka bersama untuk membagikan makanan ke orang yang membutuhkan, kegiatan tersebut dapat tetap dilanjutkan dengan lebih memerhatikan kaidah social distancing. “Metodenya saja disesuaikan. Makanan bisa diantar ke rumah-rumah, misalnya. Toh sudah banyak organisasi yang melakukan itu,” kata Husein.

“Syukurlah pandemi ini telah terjadi satu bulan sebelum Ramadan. Setidaknya kita sudah mulai beradaptasi dengan keadaan seperti ini. Orang-orang sudah mulai tahu caranya bertahan, mendapatkan makanan, dan juga menyesuaikan cara beribadah.”

Related Article