Mau Nonton Gratis? Berikut 5 Tayangan Bermutu dan Legal Untukmu

Di antara pusaran berita COVID-19 yang lama-lama bikin jenuh dan aktivitas sehari-hari yang itu-itu saja, film bisa jadi sarana untuk melarikan diri dari realitas atau bahkan menjadi kesempatan untuk menengok realitas yang lain. Sayangnya, karena bioskop-bioskop ditutup dan berbagai tempat penayangan film alternatif tak beroperasi, pilihan itu jadi terbatas.

Bagi banyak orang, berlangganan TV kabel atau platform streaming film menempati urutan kesekian, di bawah banyak kebutuhan lain yang lebih mendesak. Daripada menonton film lewat platform-platform ilegal semacam ind*x**, berikut sejumlah alternatif tempat menonton dan tontonan yang bisa kamu jajal. Semuanya gratis—asalkan kamu punya akses dan kuota internet.

We Are One Film Festival

Puluhan festival film bergengsi di seluruh dunia bergabung untuk menyajikan beragam tontonan secara online dan gratis. Selain karena banyak festival film yang penyelenggaraannya tertunda karena COVID-19, festival daring ini juga jadi ajang untuk melakukan penggalangan dana yang akan disalurkan ke COVID-19 Solidarity Response Fund World Health Organization (WHO).

Festival-festival film seperti Cannes Film Festival, Tokyo International Film Festival, dan Sundance Film Festival mengkurasi film dalam program mereka, kemudian menayangkannya dalam waktu terbatas di kanal YouTube We Are One. Tak hanya film, ada pula talkshow, diskusi, dan workshop bersama pembuat maupun pemain film—seperti diskusi bersama sutradara dan pemain film Parasite (2019) Bong Joon-ho dan Song Kang-ho yang dibawakan oleh Locarno Film Festival hingga diskusi bersama pembuat film Birdman (2014), Alejandro Gonzalez Inarritu, dan seniman pertunjukan Marina Abramovic.

Kesempatan menonton film pendek Atlantiques (2009) karya Mati Diop—prekursor dari film Atlantics (2019) pemenang Grand Prix Cannes Film Festival 2019 tentu sayang bila terlewat. Ada pula film pendek Inabe (2013) karya Koji Fukada—sutradara asal Jepang yang pernah berkolaborasi dengan sineas Indonesia membuat film The Man From The Sea (2018) yang berlatar di Aceh.

Criterion Collection: Black Lives

Kematian George Floyd telah memantik aksi-aksi solidaritas melawan rasisme sistemik di seluruh dunia. Platform streaming film Criterion Collection pun turut berpartisipasi dengan mendonasikan US$25.000 dan US$5.000 setiap bulannya ke organisasi yang mendukung gerakan #BlackLivesMatter.

Selain itu, Criterion Channel juga mengumpulkan sejumlah film tentang kehidupan orang kulit hitam yang dapat ditonton secara gratis dan tanpa berlangganan. Kamu bisa menonton karya-karya sutradara Afrika-Amerika, sinema-sinema klasik, hingga dokumenter seperti Daughter of the Dust oleh Maya Angelou, Black Panther oleh Agnes Varda, Daughters of the Dust oleh Julie Dash, dan Portrait of Jason dari Shirley Clarke.

Platform Criterion Channel memang belum tersedia di Indonesia. Namun, kamu tetap bisa menonton film-film mereka dengan mengaktifkan VPN yang dialamatkan ke Amerika Serikat.

Lockdown Cinema Club

Solidaritas antarsineas di Filipina membuat mereka menginisiasi program bernama Lockdown Cinema Club. Bertujuan untuk menggalang donasi bagi kru-kru film yang kehilangan pekerjaan selama pandemi, sejumlah pembuat film asal Filipina membagikan tautan film mereka di YouTube, Vimeo, dan pelantar lain yang bisa ditonton secara gratis.

Daftar film dikumpulkan dalam dokumen google docs berisi tautan dan password untuk mengakses film. Film-film yang dapat ditonton termasuk karya sutradara Filipina ternama Lav Diaz, Shireen Seno, dan Jaja Arumpac. Ada pula film dari sejumlah negara Asia Tenggara lain seperti film pendek Fatimah (2018) karya sutradara asal Indonesia Adi Marsono, Colorful Knots oleh Polen Ly asal Kamboja, dan Five Trees (2017) oleh Nelson Yeo asal Singapura.

Dengan slogan “watch all you want, give what you can”, inisiatif ini telah mencapai target donasi—tetapi akses seluruh film tetap dibuka dan kini telah berlanjut hingga edisi ke-6. “Kanal donasi kami kini telah tutup, tetapi kami akan tetap membagikan film-film untuk menemani semua orang semasa karantina,” ungkap mereka.

Negeri di Bawah Kabut (Shalahuddin Siregar, 2010)

Dirilis 10 tahun silam, Negeri di Bawah Kabut (2010) yang merupakan film dokumenter panjang pertama Shalahuddin Siregar kini telah dapat ditonton lewat YouTube. Film mengikuti kehidupan dua keluarga petani yang tinggal di Desa Genikan—desa terpencil di lereng Gunung Merbabu, Jawa Tengah. Aktivitas sehari-hari dua keluarga tersebut, menanam sawi, kentang, dan wortel, dirintangi cuaca yang tidak menentu akibat perubahan iklim. Mereka pun terancam gagal panen dan kekurangan pemasukan untuk menyekolahkan anak.

Shalahuddin Siregar dalam wawancaranya di filmindonesia.or.id dahulu sempat berkata film ini mencoba menjadi dekat dengan penonton lewat karakter-karakternya. Jika kebanyakan film dokumenter di Indonesia memilih teknik wawancara dan merekam aktivitas subyeknya hanya dalam satu-dua pekan, Shalahuddin melakukan observasi dan syuting selama dua tahun untuk membangun kepercayaan antara kamera dan subyek.

Negeri di Bawah Kabut tak punya konflik besar, tetapi keintiman dibangun lewat kamera yang seolah menyorot tanpa jarak. Dalam ulasannya di Cinema Poetica, kritikus film Adrian Jonathan Pasaribu menuliskan film ini adalah satu dari sedikit film Indonesia yang dapat berbicara tentang kelas ekonomi yang lain tanpa terjebak dalam narasi moralis—bahwa tak semua jerih payah pasti berbuah kekayaaan dan kesetaraan.

Sepet (Yasmin Ahmad, 2005)

Film-film karya sutradara Malaysia Yasmin Ahmad menggambarkan relasi-relasi multikultural secara intens. Dalam Muallaf (2008), misalnya, dua perempuan bersaudara beragama Islam melarikan diri dari ayah mereka yang abusif dan mengungsi di rumah seorang guru katolik. Walaupun kerap dianggap kontroversial dan ditolak oleh kelompok konservatif, film-film Yasmin meraih penghargaan di berbagai festival film internasional bergengsi seperti Tokyo International Film Festival dan Berlin International Film Festival.

Yasmin Ahmad meninggal dunia pada 2009—film-filmnya pun telah jarang ditayangkan kembali. Kita berkesempatan untuk menonton salah satu filmnya, Sepet (2005), yang ditayangkan secara terbatas selama sepekan di kanal YouTube Great Little Stories. Dalam bahasa Indonesia, “sepet” berarti “sipit”. Film ini mengeksplorasi hubungan antara seorang perempuan keturunan Melayu dengan laki-laki keturunan Cina—keduanya saling jatuh cinta, tetapi terhalang tekanan masyarakat atas perbedaan ras, kelas, dan bahasa.

Selain dapat menonton secara gratis, kolom komentar di YouTube juga dimanfaatkan sebagai ajang tanya jawab: pemain utama film Sharifah Amani dan Ng Choo Seong, produser-produser film, dan saudara kandung Yasmin Ahmad—Datin Orked Ahmad—rutin menjawab pertanyaan-pertanyaan penonton terkait film ini. Sepet telah memenangkan penghargaan Le Grand Prix du Jury di Creteil International Women’s Film Festival ke-27 dan Best Film Award di Tokyo International Film Festival ke-18.  

Related Article