Matinya Akal Sehat dan Pentingnya Menghidupkan Area Tengah dalam Politik

Berada di tengah dulu merupakan salah satu kunci untuk memenangkan kontes elektoral agar bisa merangkul semua kalangan. Namun sekarang tidak ada yang ingin berada di tengah dalam lanskap politik yang terpolarisasi. Anda bersama kami atau melawan kami. Tidak ada tempat untuk mereka yang TIDAK “bersama kami” atau “melawan kami”. Berada di tengah sekarang ini dilihat sebagai indikator kepengecutan dan kekurangan keberanian untuk memihak salah satu calon, seolah-olah berpihak adalah sebuah keniscayaan dalam praktek demokrasi.

Walaupun saya berpikir bahwa memilih untuk netral saat berhadapan dengan kebathilan adalah tindakan yang gegabah dan tidak bertanggung jawab, rasanya area tengah harus dihidupkan kembali untuk menyehatkan diskursus politik dalam publik yang belakangan ini sakit. Warisan dari Pilpres 2014 tidak hanya masyarakat yang terbelah dua, tapi juga matinya akal sehat. Celakanya, dalam lingkungan politik yang semakin hari semakin beracun ini, akal sehat seharusnya jadi modal utama untuk tetap berpikir lurus. Ketiadaan akal sehat membuat kedua kubu berlomba-lomba menuju dasar karena tidak ada yang mengingatkan bahwa mereka sedang bergerak ke arah yang salah.

Tidak sulit untuk melihat bahwa ada bagian dari kedua belah kubu yang secara aktif menggarap masyarakat dengan cara-cara yang patut dipertanyakan, Disinformasi. Penyesatan opini. Segala cara untuk menumpulkan kemampuan publik untuk menafsirkan dan memutuskan apa yang paling baik untuk mereka. Dari sudut pandang politik elektoral, tentu saja itu adalah cara yang sah untuk memenangkan kontes. Tapi jika ini berlangsung terus menerus, dampaknya kepada masyarakat akan sangat buruk. Saya percaya bahwa masyarakat pemilih yang teredukasi dan terinformasi dengan baik adalah hal esensial dalam mewujudkan demokrasi yang ideal. Dengan menyesatkan pemilih, meskipun mendatangkan keuntungan jangka pendek dengan mendatangkan suara, kita akan membuat kualitas demokrasi kita terjerembab jauh dari kondisi ideal.

Dalam tulisan saya sebelumnya, saya menganjurkan pendekatan dan metode yang lebih pragmatis untuk memenangkan Pemilihan Umum. Saya masih percaya dengan hal tersebut dan dalam realpolitik, hal yang paling penting adalah kekuasaan dan cara untuk mendapatkannya. Dalam praktek politik, idealisme memang bisa dan sering kali dikesampingkan. Tapi karena politik seyogianya bertujuan untuk mencapai kesejahteraan bersama dan menguntungkan masyarakat, mustahil untuk tidak memikirkan kemungkinan dampak psikologis politik praktis kepada publik. Saya mungkin bagian dari kalangan pragmatis yang percaya bahwa segala sesuatu halal selama tidak melanggar hukum. Tapi di sisi lain, saya juga seorang idealis yang percaya bahwa dalam demokrasi, yang paling berdaulat adalah rakyat dan kedaulatan rakyat harus didasarkan pada hal-hal yang mulia dan benar,

Penting sekali untuk mencapai titik temu antara pragmatise dan idealisme tersebut. Kita tak bisa mengingkari sifat politik elektoral yang sering kali tak mulia, namun kita juga tak bisa berpura-pura bahwa sifat tersebut tak memiliki efek samping kepada proses kita belajar berdemokrasi. Harusnya ada elemen dalam masyarakat yang bisa menyoroti omong kosong dan kenakalan dari kedua belah pihak. Biasanya ini adalah tugas dari media dan para jurnalis untuk menggonggongi tindakan-tindakan tak terpuji dari pelaku politik. Memang masih ada beberapa elemen dalam Pilar Keempat Demokrasi yang menjalankan fungsi sebagai pengawal masyarakat melawan kelicikan tingkat elit. Namun rasanya tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa media sekarang ini kesulitan untuk menjalankan tugasnya secara imparsial. (Sebagai catatan, saya tidak percaya dengan anggapan bahwa media harus netral. Tidak ada media yang netral. Ini dongeng di ruang kuliah jurnalistik).

Situasi ini diperburuk dengan masyarakat yang terbelah dua dan mempengaruhi bagaimana cara masyarakat menyikapi kritik dewasa ini. Tidak ada orang yang bisa mengkritisi pelaku politik sekarang ini tanpa dituduh memihak kepada kubu lawannya. Jika anda mengkritisi petahana, anda akan dituduh berasal dari kubu oposisi. Jika anda mengkritisi oposisi, anda akan dituduh peliharaannya petahana.  Kritik selalu dianggap sebagai serangan terbuka. Kondisi yang sangat tolol ini menurunkan kualitas demokrasi kita ke level taman kanak-kanak.

Harusnya ada orang yang bisa memberikan kritik tanpa dipandang sengaja menyerang targetnya untuk menguntungkan pihak lawan. Harusnya kita bisa memberi kritik dan ketika kita mengkritisi, tindakan ini dipandang untuk menguatkan fondasi masyarakat kita dalam demokrasi dan bukannya melemahkan. Demokrasi bukan berarti selalu sepakat dengan apa yang anda lihat dan anda dengar. Kemampuan masyarakat untuk berpikir kritis akan tergerus dengan dahsyat jika kritik harus dihapus atas nama loyalitas. Saya pikir masyarakat pemilih harusnya hanya loyal kepada kepentingan masyarakat sendiri dan bukan kepada pihak lain. Minimnya kemampuan berpikir kritis berujung pada ketidakmampuan masyarakat pemilih untuk menentukan apa yang menguntungkan bagi mereka dan apa yang tidak.

Itulah mengapa saya pikir bahwa area tengah dalam peta diskursus politik kita harus dihidupkan kembali. Harusnya ada orang-orang yang bisa berada di tengah, sepenuhnya imparsial kepada kepentingan siapapun kecuali kepentingan publik, dan bisa mengkritik jika ada elit politik yang bermanuver tak terpuji. Lalu, ketika kritik disampaikan, kritik tersebut harus dipandang bukan sebagai serangan politik melainkan sebuah respon dari rakyat yang dipimpin kepada mereka para pemimpin. Akal sehat harus dibangkitkan lagi dan setelah akal sehat kembali hidup, kita harus melindunginya dari siapa pun yang mengambil keuntungan dari absennya akal sehat selama ini dan lebih memilih akal sehat tetap mati.

Tentu saja dalam prakteknya tidak akan mudah untuk menentukan siapa yang bisa berada di area tengah karena bisa saja ada orang mengklaim dirinya berada di tengah namun sebenarnya berasal dari salah satu pihak. Tapi terlepas dari itu semua, area tengah adalah sebuah yang urgensinya besar dalam situasi politik kita sekarang. Dalam era di mana fakta bisa dibengkokkan dan kebenaran dianggap elastis, akal sehat hanya bisa ditumbuhkembangkan di area tengah. Akal sehat adalah senjata pamungkas masyarakat demokratis untuk melawan omong kosong politik.

Pangeran Siahaan adalah Co-founder asumsi.co. Tulisan ini pertama kali dipublikasikan dalam Bahasa Inggris di blog pribadinya: pangeran-siahaan.com

Related Article