Maruarar Sirait Beberkan Alasan Jokowi Tak Akan Aksi Telanjang Dada

Ketua DPP PDI Perjuangan Maruarar Sirait menganggap aksi telanjang dada yang dilakukan oleh Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto beberapa waktu lalu sebagai aksi yang kurang pantas. Ara, sapaan akrabnya, menyebut Joko Widodo tak akan melakukan aksi serupa.

Ara mengatakan bahwa ia jadi orang pertama yang melarang Jokowi melakukan aksi seperti itu. Menurut Ara, memang aksi telanjang seperti yang dilakukan Prabowo itu sebagai bentuk ekspresi dalam melakukan branding demi mendapatkan simpati publik.

“Itu soal cara melakukan branding, ada yang membuka baju. Saya orang pertama yang melarang Pak Jokowi (untuk buka baju). ‘Mas jangan, enggak usah ikut-ikutan’,” kata Ara saat rilis survei Cyrus Network soal Pemilu 2019 di D’Consulate Lounge, Menteng, Jakarta, Kamis 19 April.

Ara menegaskan bahwa pihaknya punya cara lain untuk mem-branding Jokowi dan yang jelas bukan dengan membuka baju dan diarak. Sambil bercanda, Ara pun menyebut bukan karena badan Jokowi kurus, sehingga tak mungkin melakukan aksi bertelanjang dada.

“Yang pasti bukan dengan membuka baju. Bukan berarti badan Pak Jokowi kurus ya, tapi memang itu kurang tepat lah,” ujar politisi kelahiran Medan, 23 Desember 1969 tersebut.

Baca Juga: Survei Cyrus Network: Jokowi Masih Teratas, AHY Cawapres Ideal

Seperti diketahui, aksi telanjang dada Prabowo dilakukan usai menerima mandat dari Partai Gerindra untuk maju sebagai capres di Pilpres 2019, pada rapat koordinasi nasional (rakornas) Gerindra, Rabu 11 April malam. Saat itu, Prabowo diarak oleh beberapa kader dengan bertelanjang dada.

Wakil Sekjen Partai Gerindra Andre Rosiade mengatakan bahwa aksi arak-arakan itu spontanitas dari kader yang memilih menginap di kediaman Prabowo, Hambalang, Bogor.

Sementara itu, Ara mengatakan bahwa pihaknya sangat berharap Prabowo Subianto bisa kembali ikut bertarung sebagai capres pada Pilpres 2019 mendatang. Menurut politisi berusia 48 tahun itu, demokrasi akan kurang bagus jika kontestasi Pilpres hanya diikuti satu pasangan calon saja.

"Kami doakan Prabowo maju (sebagai capres). Sebab tidak bagus juga jika demokrasi tetapi hanya ada satu pasangan capres-cawapres (dalam pemilu). Jangan sampai ada satu calon saja," kata Ara.

Baca Juga: Survei Cyrus Network: Golkar Jadi Partai Terkorup Jelang Pemilu 2019

Ara menegaskan nantinya tidak akan ada pilihan lain bagi rakyat jika pemilu mendatang hanya diikuti satu pasangan capres-cawapres. "Dan kami tidak mau pemerintah otoriter," ujarnya.

Kemudian, menanggapi hasil survei Cyrus Network yang hasilnya mengunggulkan Jokowi di atas Prabowo, Ara menjelaskan bahwa hal itu didukung oleh posisi politik Jokowi yang kuat dan tetap santun. Ditambah lagi dukungan parpol yang kuat sehingga membuat posisi Jokowi tetap kokoh.

"Hubungan dengan pihak lain, yakni tokoh agama, ormas, kepemudaan dan sebagainya juga baik,'' ucapnya.

Sekadar informasi, hasil survei Cyrus Network menyatakan elektabilitas Jokowi unggul hingga mencapai angka 58,5 persen, sementara Prabowo hanya meraup 21,8 persen, disusul Gatot Nurmantyo 2,0 persen dan Hary Tanoesoedibjo 1,1 persen. 

Persentase itu didapat berdasarkan top of mind atau dengan pertanyaan terbuka, saat responden diberi pertanyaan "Jika Pilpres dilaksanakan hari ini, siapakah yang paling layak dipilih untuk menjadi Presiden?".

Related Article