post

Budaya Pop

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas: Marthino Lio Impoten, Sal Priadi Jadi Sahabatnya

MM Ridho, 6 November 2020

Foto: Palari Films

Aktor Marthino Lio dan penyanyi Sal Priadi akan membintangi film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas sebagai Ajo Kawir dan Tokek, sepasang karib yang hidupnya dipenuhi oleh berbagai petualangan dan kenahasan.

“Ajo Kawir, seorang jagoan yang tak takut mati, diperankan oleh Marthino Lio … Sedangkan untuk memerankan Tokek, yang berteman dengan Ajo Kawir sejak kecil, dipilih Sal Priadi, penyanyi dan penulis lagu,” demikian pernyataan resmi Palari Films.

Dalam film yang diadaptasi dari novel Eka Kurniawan itu, mereka akan bersanding dengan Ladya Cheryl sebagai pemeran Iteung, perempuan petarung penuh kebebasan, yang sudah diumumkan sejak 18 Februari 2020.

Lio, aktor sekaligus pengisi soundtrack film Ada Apa Dengan Cinta? 2 akan tampil sebagai pria impoten yang suka berkelahi dan menjalin cinta penuh kerumitan dengan Iteung. Dunia keduanya menjadi semakin kompleks setelah mereka menikah. Bagaimana mungkin jiwa penuh petualangan dihadapkan pada masalah ereksi?

Ini akan menjadi debut Sal dalam dunia perfilman. Pelantun lagu “Amin Paling Serius” dalam duet bersama Nadin Amizah tersebut akan berperan sebagai sahabat yang menemani Ajo Kawir sejak kecil hingga dewasa, melalui berbagai kenahasan dan hidup penuh kekerasan.

Foto: Palari Films

Seperti Ladya yang melatih fisik, mengendarai motor RX-King, sampai menemui psikolog untuk memahami sisi kejiwaan dan berbagai lapisan masa lalu yang dilewati karakter Iteung untuk dapat berperan total, Lio mengaku sempat berkendara Jakarta-Yogyakarta-Jakarta secara berulang-ulang, juga secara langsung menanyakan pengalaman kerabatnya yang mengalami impotensi untuk dapat mendalami kehidupan Ajo Kawir.

Sementara, Sal rela fotonya membeli obat vitalitas tersebar di dunia maya sebagai perwujudan solidaritas karakter Tokek.

Film besutan Edwin, yang sebelumnya menyutradarai Posesif (2017) dan Aruna dan Lidahnya (2018), ini melibatkan Eka Kurniawan dalam penulisan skenario dan selama proses syuting berlangsung. Seluruh proses syuting sejak Februari 2020 itu sudah selesai dan film ini direncanakan tayang pada tahun 2021.

Kabupaten Rembang dipilih sebagai lokasi syuting karena kekayaan bentang alamnya diharapkan dapat menggambarkan latar waktu yang sesuai, yakni tahun 1980-an dan 1990-an.  Sebagai medium penyelaras dengan zamannya, Edwin menggunakan kamera analog seluloid 16 milimeter untuk mengabadikan adegan-adegan di film itu.

Melalui film ini, Edwin dan Eka mengaku hendak mempertanyakan relasi kuasa dan maskulinitas. Persoalan mental, dunia kekerasan, kebebasan, dan penggunaan bahasa akan menjadi hal-hal yang menurutnya patut dinanti dan disoroti pada film ini.

“Kami membayangkan bahwa ada ruh dari novel yang bisa ditransfer ke medium lain: bagaimana dunia yang riil merespon dunia imajinasi—dan saling berdiskusi,” kata Eka kepada Asumsi.co dalam konferensi pers (18/2/2020).