post

Pop Culture

Apa Kata Marcel Thee tentang Natal dan Lagu-lagu Natal Favoritnya?

MM Ridho, 25 Desember 2020

Ilustrasi: Ibam/Asumsi.co

Kebahagiaan itu tetap hadir di akhir tahun yang pahit ini. Pohon-pohon terpasang dan lampu-lampu bekerlip. Dendang riang terdengar di mana-mana. Meskipun Natal 2020 tak semeriah biasanya, umat Kristiani Indonesia tetap berbahagia, berbagi kasih dengan keluarga, di dalam rumah masing-masing.

Begitu pula bagi Marcel Thee, jurnalis sekaligus musisi yang kepiawaiannya bisa dilihat dari  eksistensi Sajama Cut selama lebih dari dua dekade. Ada pula proyek musik drone/gospel-nya bersama Danif Pradana, Roman Catholic Skulls, yang bisa bikin para pendengarnya mengira Marcel rajin ke gereja.

Namun, terlepas dari soal religiusitas, agaknya Natal punya tempat istimewa di hati Marcel.

Proyeknya yang terbaru bersama Haikal Azizi (Bin Idris, Sigmun), Nakatomi Plaza, menolak tampil kolot meski membawa semangat antik. Proyek dengan nama yang terinspirasi dari rangkaian film "khas liburan" Die Hard ini mempersembahkan single "Let the Midnight Come" dengan balutan musik post-punk serta alunan synthesizer yang kentara sebagai hadiah Natal 2020.

Asumsi berbincang dengan Marcel Thee tentang perayaan Natal yang kerap kali dikomodifikasi, suasana gereja yang menjadi inspirasinya, hiburan Natal, dan absennya Mariah Carey dalam perbendaharaan musik Natalnya. Dia juga membagikan lagu-lagu Natal kesukaannya. Berikut obrolan kami:

Apa makna Natal buat kamu?

Meskipun resminya Katolik, saya sebenarnya nggak religius. Saya melihat Natal secara sekuler, sama kayak saya lihat liburan agama-agama lain, kayak lebaran, misalnya. Lebih kayak kesempatan untuk berkongregasi sama keluarga. Halal bihalal dengan siapa aja, sih, sebenarnya.

Sekarang ini, kan–di luar pandemi–kultur bertemu tanpa alasan tuh jarang. Sedangkan menurut gue hidup paling penting berinteraksi. Dan Natal ini, dari dulu gue melihatnya sebagai kesempatan yang sangat amat penting untuk bertemu orang-orang yang kita mungkin udah jarang ketemu. Semakin kita dewasa bahkan saudara dekat aja jarang ketemu, apalagi saya udah berkeluarga. Jadi, itu sesuatu yang spesial, sih.

Ada romantisasi, memang, suasana Natal saya rasa secara kultur pop begitu, ya: meskipun kita orang Indonesia, Entah kenapa bayangan Natal pada umumnya seperti di New York. Kayak ada pohon-pohon, lampu, rumah-rumah di suburb Amerika dengan rumah bersalju dan hiasan Natal. Saya rasa mayoritas tuh kebayangnya itu unsur-unsur pop kulturnya.

Itu mungkin komersialisasi ritual agama. Tapi, kalau nggak sinis memandangnya, kita ngeliat itu sebagai sesuatu yang nostalgic dan indah. Meskipun hanya di memori dan saya nggak pernah tinggal di luar negeri ngalamin salju gitu. Tapi mungkin ingat nonton Home Alone atau Die Hard atau serial kayak Friends.

Natal memberi kehangatan sih menurut saya. Sama seperti Lebaran, dari kecil papa dan mama saya mengajak saya halal bihalal ke teman-teman saya yang Muslim. Kayak arisan besar gitu, yang indah, yang kita satu hari ketawa doang, kangen-kangenan gitu, nggak mikirin buruknya kehidupan.

Natal paling berkesan yang pernah kamu alami?

Mungkin sekarang-sekarang ini, sih, karena saya punya anak. Jadi, kayak bisa beliin mereka bermacam-macam kado. Meskipun memang lebih beda karena kita yang nyiapin. Waktu kecil, kan, senang karena kita tinggal menikmati. Pestanya disiapkan orang tua atau saudara-saudara yang lebih tua.

Saya ingat anekdot-anekdot waktu kecil, milih-milih mainan sama orang tua saya. Kayak minta robot-robotan angkatan Godsigma, kayak robot-robot Voltus, Shogun Getta, dan mainan-mainan M.A.S.K, tapi nggak pernah dapat yang saya mau. Saya nggak pernah dikasih kado gede-gede sama orang tua.

Kayaknya nggak ada satu yang khusus, ya. Kebetulan tuh saudara-saudara saya ngumpul setiap tanggal 25 Desember, kecuali tahun ini aja. Itu selalu menyenangkan, sih.

Pernahkah kamu merayakan Natal di luar Indonesia?

Pernah. Saya kecil pernah tinggal di Australia dan Belanda. Yang lebih berkesan, sih, di Indonesia. Di luar negeri saya tinggal hanya sebentar. Misalnya, di Belanda, hanya setahun. Jadi, teman-temannya yang sementara, beda kayak teman-teman dekat.

Apa perbedaan merayakan Natal di luar negeri dan di Indonesia

Mungkin nggak ada yang benar-benar keluarga dekat atau teman-teman dekat. Kebetulan saya di luar negerinya biasa saja, sih. Bukan kayak di daerah kota besar. Saya tinggal selalu di suburb, di kota-kota kecil atau bahkan desa.

Saya ingat sekali waktu itu mendekati Natal di Belanda salju turun satu hari. Itu seru banget, itu salju pertama saya. Saya umur 14 mungkin. Itu aja sih. Tapi cuma satu hari, habis itu mencair saljunya.

Bayangan euforia Natal, kan, selalu Eurosentris. Bagi kamu, apa kekhasan Natal di daerah-daerah tropis seperti Indonesia?

Mungkin itu: suasana kekeluargaannya. Kita mengkompensasi dengan keramaian keluarga gitu. Waktu kecil tetangga saya di perumahan mungkin 60 persennya beragama Islam. Nah, itu teman-teman baik saya tuh sering ikut ke rumah. Bahkan anak-anak Sajama Cut pun juga pernah, ngumpul, minum-minum, dan tukar kado. Mungkin karena saya melihatnya nggak dari kacamata religius.

Euforia di gereja juga ada sih, orang-orang happy sehabis pulang dari gereja dan pergi makan sama teman-teman saya sepulangnya.

Mungkin, sedihnya, belakangan ini semakin ekstrem komersialisasinya. Maksudnya dari dulu memang komersial ya, cuma acara Natal tapi di mal dan yang datang harus bayar, kursinya dijual per kelas hingga VIP. Jadi, kayak eksklusif gitu. Benar-benar nggak ada semangat kebersamaan banget, sih. Sehingga, semakin mengarah ke kesan stereotip bahwa pestanya kebule-bulean dan mewah.

Sedangkan, saya rasa harusnya jauh banget dari situ. Kan ini hari kelahiran Yesus, yang berdasarkan ceritanya lahir sama binatang-binatang. Jadi, nggak ada mewahnya.

Saya bukannya anti korporasi Natal. Cuma, kalau saya lihat di sini, sih, tendensinya begitu. Mungkin karena kita negara tropis, jadi Natal cuma bisa di dalam gedung. Biar dingin. Hahaha.

Apakah Natal mempengaruhi kamu dalam bermusik?

Kalau Sajama Cut ada satu lagu judulnya “Celebrations (Light It Up)”. Selain itu, sih, belum. Tapi saya suka bunyi bunyi bel-bel, strings-strings tua. Rencana, tahun ini mau merilis kaset single gitu. Tapi nggak kekejar, sih.

Lagu-lagu Natal Favorit Marcel Thee:

Bing Crosby - White Christmas

Bing crosby suaranya sudah secara instingtif saya asosiasikan dengan Natal. Tenornya terasa hangat seperti fireplace. Bagi saya, suara dia adalah Natal.

Bing Crosby - Do You Hear What I Hear

Saya ingat saya tahu lagu itu waktu umur 10 tinggal di Canberra, Australia. Lagunya lucu, tapi secara melankolis.

Lagu Natal itu sebenarnya saya suka karena selalu ada melankolia di melodinya. Sederhananya, kayak nggak bener-bener happy. Kayak lagu-lagu pop jepang atau lagu Studio Ghibli, kita nggak tahu ini senang atau sedih. Karena mungkin dibuat untuk anak-anak tapi kita mengerti esensi lagu itu waktu dewasa. Kita menikmatinya lewat diri kita yang masih lebih naif dan lebih pure.

Dean Martin - Silver Bells

Ini juga kayaknya pertama dengar waktu di Australia. Mungkin karena rekaman jaman dulu juga, mikrofon dan suara orang-orang itu–Dean Martin, Bing Crosby, dan Frank Sinatra--suaranya membawa bobot yang seperti itu.

Disney - Christmas Compilation

Karena suasananya fun, seru-seruan aja. Karakter seperti Donald Duck, Mickey Mouse, Goofy, dan lain-lain menyanyikan lagu natal. Itu saya suka sekali.

Meskipun Disney korporasi besar, cuma saya juga punya memori, sih. Waktu saya masih kecil, kaset itu udah ada di mobil aja dari dulu. Papa dan Mama saya selalu pasang itu pas Natal. Nggak selalu, sih, tapi mereka pasang beberapa kali dan itu yang nempel ke memori saya.

Waktu saya udah jadi ayah, saya cari di internet. Jadi, saya puter waktu Natal buat anak-anak saya.

Silent Night

Saya suka versi siapa pun. Kalau dengar itu di gereja saya senang. Apa aja yang di-choir saya senang. Ada sesuatu yang indah di choir-choir itu. Begitu banyak suara yang bergabung dan yakin menyanyi untuk sesuatu makna, baik kita setuju atau tidak dengan makna itu.

Di luar bahwa ia lagu religius, memang secara penulisan bagus. Dinamika lagunya sangat mournful. Lagu bentuk pujian yang indah tentang hari kelahiran Yesus tanpa meledak-ledak atau terlalu teatrikal. Secara songwriting aja levelnya udah seperti The Beatles.

Mungkin kita nggak sadar karena begitu sering dengar lagu-lagu ini. sama kayak kita dengar lagu kayak Garuda Pancasila atau lagu-lagu nasional. Ya, take it for granted gitu. Tapi kalau bicara songwriting, naik-turunnya, gimana mereka menyampaikan apa yang mereka mau sampaikan, itu benar-benar songwriting masterclass.

Kamu nggak suka Mariah Carey?

Nggak. Buat saya nggak ada emosinya, kayak dengar penyanyi di mal. Bukannya mengecilkan penyanyi di mal. Saya hanya merasa nggak ada emosinya, nggak ada rasanya.

Seandainya lagu-lagu tadi belum tercipta, kamu berharap menciptakan lagu yang mana?

Silent Night mungkin, ya.