Manuver Tajam Nazaruddin: ‘Serang’ Fahri Hamzah Hingga Soal Bagi-bagi Uang Korupsi

Mantan politisi Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin kembali bersaksi untuk ketiga kalinya dalam sidang kasus dugaan korupsi mega proyek e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto. Nah, dalam sidang itulah, Nazaruddin bermanuver dengan membongkar banyak hal.

Seperti biasa, Nazaruddin kembali berkicau saat bersaksi di persidangan. Kali ini, ada beberapa pernyataan panas yang keluar dari mulut politisi berusia 39 tahun itu, dimulai dari menyebut nama Fahri Hamzah sampai membela nama SBY.

Apa saja yang disampaikan Nazaruddin? Berikut beberapa poin penting pernyataan Nazaruddin saat menjadi saksi persidangan, Senin 19 Februari kemarin di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta.

Empat poin penting keterangan Nazaruddin

Setidaknya ada empat poin keterangan penting yang dilontarkan Nazaruddin terkait keterlibatan pihak lain dalam kasus dugaan korupsi e-KTP, seperti dinukil dari Kompas.com, Selasa 20 Februari. Apa aja poin-poin itu guys?

1. Catatan pembagian uang dibahas di ruang Ketua Fraksi Demokrat

Berdasarkan penuturan Nazaruddin, catatan pembagian uang korupsi dalam proyek pengadaan e-KTP dibahas di ruang Ketua Fraksi Partai Demokrat yang saat itu dijabat Anas Urbaningrum. Saat itu pertemuan dihadiri Anas dan pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong. 

Tak hanya itu, ternyata ada juga dua anggota Komisi II DPR, Mustoko Weni dan Ignatius Mulyono. Adapun fee yang akan diterima DPR berasal dari keuntungan yang diperoleh pengusaha pelaksana proyek. Meski begitu, Nazaruddin tidak tahu soal teknis pengadaan yang dilakukan pengusaha tersebut.

2. Nazaruddin melihat pemberian uang untuk Ganjar dan Chairuman Harahap

Pengakuan mengejutkan lainnya adalah soal Nazaruddin yang mengaku pernah melihat langsung pemberian uang untuk dua mantan pimpinan Komisi II DPR, Ganjar Pranowo dan Chairuman Harahap. Uang tersebut terkait proyek pengadaan e-KTP. 

Nazar mengatakan bahwa awalnya Ganjar sempat menolak karena semua Wakil Ketua Komisi II DPR hanya diberi 100.000 dollar AS karena sebelumnya Ganjar minta diberikan uang senilai 500.000 dollar AS. Namun akhirnya Ganjar pun menerima.

Tak cuma Ganjar saja, Nazar juga mengaku melihat pemberian uang kepada Chairuman Harahap yang saat itu menjabat sebagai Ketua Komisi II DPR, senilai 500.000 dollar AS dan 50.000 dollar AS. Penyerahan uang itu dilakukan di ruang kerja anggota Komisi II DPR, Mustoko Weni. 

3. Semua Ketua Fraksi DPRI RI terima uang korupsi e-KTP

Yang mengejutkan lagi, Nazaruddin menyebutkan bahwa semua Ketua Fraksi di DPR menerima uang dari proyek pengadaan e-KTP. Nah, salah satu fraksi yang menerima uang panas itu adalah Fraksi Partai Demokrat.

Menurut Nazaruddin, dalam pembahasan pembagian uang di ruangan Ketua Fraksi Demokrat Anas Urbaningrum, dibuat catatan pembagian uang untuk pimpinan fraksi, pimpinan badan anggaran DPR, Komisi II DPR, dan pejabat kementerian.

Nazaruddin menyebutkan, besaran uang untuk setiap Ketua Fraksi DPR RI berbeda-beda. Namun, pembagian itu merata kepada semua pimpinan fraksi. Menurut Nazaruddin, hal itu dikatakan Mustoko Weni yang menjabat Koordinator Badan Anggaran di Komisi II DPR. Lalu, dilaporkan pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong.

4. Gamawan Fauzi terima 4,5 juta dolar AS

Selain pihak-pihak yang disebutkan di atas, ada juga nama mantan Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi yang kembali disebut Nazaruddin. Menurut Nazaruddin, Gamawan terlibat korupsi e-KTP dan mendapatkan uang senilai total 4,5 juta dollar AS dari proyek e-KTP.

Menurut Nazaruddin, beberapa pemberian diberikan melalui adik Gamawan, Azmin Aulia, dan orang kepercayaan Gamawan. Beberapa pemberian dalam bentuk ruko dan tanah di Jakarta Selatan. Nazaruddin mengaku dilaporkan oleh para pengusaha bahwa pemberian untuk Gamawan telah terlaksana.

Nazaruddin sebut nama Fahri Hamzah

Selain itu, Nazaruddin juga menyebut nama Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah. Nazaruddin mengatakan bahwa ia akan segera melaporkan dugaan korupsi yang dilakukan Fahri dan meminta KPK menindaklanjuti laporannya.

"Saya akan segera menyerahkan berkas ke KPK tentang korupsi yang dilakukan Fahri Hamzah," ujar Nazaruddin seusai bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin 19 Februari.

Nazaruddin mengungkapkan bahwa kasus korupsi itu dilakukan Fahri saat masih menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR. Nazaruddin memastikan berkas-berkas dan bukti yang ia miliki menjelaskan secara detail jumlah dan waktu pemberian uang kepada Fahri.

Menurut Nazaruddin, penyerahan uang untuk Fahri dilakukan beberapa kali. Namun, Nazaruddin enggan mengungkap perihal kasus yang melibatkan Fahri.

"Insya Allah bukti yang akan saya serahkan ini cukup untuk membuat Fahri jadi tersangka," terang Nazaruddin.

Fahri Hamzah tak tinggal diam. Politisi yang akrab disapa Bung Mantap itu bahkan menyebut ada agenda terselubung yang dibawa Nazaruddin.

"Nazaruddin jangan dijawab, tapi diserang saja, sebab dia bawa pesan orang lain. Kalau saya ada kasus, kenapa 2018? Saya akan bongkar terus persekongkolan mereka," tegas Fahri Hamzah.

SBY-Ibas dan Anas

Selain nama Gamawan Fauzi dan Fahri Hamzah, Nazaruddin juga menyebut nama Presiden RI Ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Anas Urbaningrum, serta putra SBY, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas). Apa kata Nazaruddin?

"Soal e-KTP, Pak SBY tidak pernah terlibat dan Mirwan Amir kalau di Cikeas tidak pernah (seperti yang disampaikan). Kalau soal e-KTP, Ibas itu tidak pernah sama sekali," celoteh Nazaruddin.

Seolah ingin menegaskan, Nazaruddin juga menyebut nama SBY dan Ibas tidak ada dalam surat tuntutan Irman dan Sugiharto. "Makanya tuntutan Pak Irman yang komplet itu tidak ada namanya," lanjutnya.

Setelah menegaskan bahwa SBY dan Ibas tak terlibat proyek e-KTP, Nazaruddin malah menyebut Anas Urbaningrum kerap menggunakan nama partai untuk kepentingan pribadi. Nazaruddin kemudian meminta Anas mau mengakui perbuatannya.

"Mas Anas itu selalu membawa nama Demokrat tapi dipakai untuk kepentingan pribadi. Saya akan bangga dengan Mas Anas untuk saat ini kalau dia mau jujur, jujur tentang kesalahan yang dia lakukan di Hambalang, Wisma Atlet, kasus perguruan tinggi, termasuk di akademik. Kalau berani jujur kan hebat," beber Nazaruddin.

"Kan bagaimana dia mendekatkan diri dengan Allah, tobat, daripada dia nyangkal ini. Bilang mau gantung di Monas, enggak ngaku," pungkasnya.

Related Article