Lonjakan Kasus dalam Dua Hari dan Potensi Gelombang Kedua COVID-19 di Indonesia

Jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia yang terdata melonjak drastis dalam dua hari terakhir. Pemerintah menjelaskan bahwa peningkatan ini terjadi karena kapasitas tes COVID-19 di tanah air semakin besar dan semakin cepat. 

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto (Yuri), mengatakan pada konferensi pers, Rabu (13/5), ada tambahan 689 kasus COVID-19 baru. Pada hari itu, kasus positif berjumlah 15.438 orang, dengan angka kesembuhan 3.287 orang dan meninggal dunia 1.028 orang.

Sebelumnya, penambahan kasus baru COVID-19 paling tinggi terjadi pada Sabtu (9/5) dengan 533 kasus baru. Yuri mengatakan pemerintah terus meningkatkan kapasitas tes COVID-19. Dari yang awalnya hanya di 19 provinsi, kini pemeriksaan sudah bisa dilakukan di 30 provinsi dengan dua metode, yaitu tes real time polymerase chain reaction (PCR) dan tes cepat molekuler (TCM).

Yuri mengatakan bahwa DKI Jakarta setiap harinya bisa melakukan lebih dari 2.000 tes COVID-19 , sementara Jawa Timur bisa melakukan sekitar 700 tes per hari. Bahkan, menurut Yuri, Kabupaten Yapen di Provinsi Papua pun kini sanggup melakukan pemeriksaan COVID-19 secara mandiri dengan mesin PCR.

“Ini bagian dari program kami, lihat datanya di DKI untuk PCR HIV sudah mampu melaksanakan 2.592 tes di dua rumah sakit. DIY kita tambah 480 tes, di Jatim 768 tes, NTT di kota Kupang 480 tes, Papua 1440 tes, artinya semakin banyak yang kita bisa lakukan untuk melakukan tes," ujarnya.

Pada Kamis (14/5), lonjakan kasus pun kembali terjadi. Ada penambahan 568 kasus baru sehingga kasus positif COVID-19 mencapai 16.006 pada hari tersebut. Dari angka itu, ada 3.518 orang yang dinyatakan sembuh dan 1.043 meninggal dunia.

Yuri pun menjelaskan peningkatan drastis kasus positif COVID-19 dalam dua hari terakhir. Menurutnya, saat ini pemeriksaan dilakukan lebih cepat karena pemeriksaan spesimen semakin terjangkau untuk daerah-daerah.

"Kalau kita perhatikan betul sebaran kenaikan angka ini atau yang kemarin, kita akan melihat bahwa daerah-daerah yang memang memiliki gap pemeriksaan cukup jauh, cukup panjang, akan naik meningkat dengan cepat," kata Yuri dalam konferensi pers, Kamis (01/05).

Yuri pun mencontohkan bahwa kenaikan kasus positif COVID-19 di Sulawesi Tenggara terjadi lantaran daerah ini sudah bisa melakukan tes mandiri. Beda halnya dengan beberapa waktu lalu, di mana spesimen di Sultra harus diterbangkan dulu ke Makassar sehingga proses itu memakan waktu cukup lama.

"Akumulasi ini karena memang pada waktu itu keterbatasan penerbangan, sekarang mampu diperiksa sendiri sehingga pada hari ini tidak ada penambahan karena seluruhnya sudah diperiksa kemarin," ujarnya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memang menargetkan ada peningkatan tes PCR untuk mendeteksi COVID-19 hingga ke daerah. Kondisi itu nantinya akan membuat jumlah kasus positif COVID-19 di daerah dinilai akan meningkat. 

"Sehingga nanti mungkin jangan kaget Bapak-Ibu bahwa minggu depan itu akan cenderung banyak naiknya. Secara teknis memang harusnya itu, karena supaya kita bisa mempercepat selesainya COVID ini, memang jumlah testing harus kita naikkan. Harapan kita bisa mencapai 40 ribu [tes], supaya itu bisa mewakili daerah merah yang kita anggap mewakili daerah tersebut," kata Plt Deputi II Bidang Penanganan Darurat BNPB Dody Ruswandi dalam rapat virtual dengan Komisi VIII DPR, Selasa (12/05).

Potensi Munculnya Gelombang Kedua

Sementara itu, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 (GTPPC-19), Wiku Adisasmito, mengatakan bahwa saat ini pemerintah sedang mempersiapkan skenario terburuk apabila gelombang kedua COVID-19 terjadi di Indonesia. 

"Pertama, gelombang kedua nasional pandemi Corona tidak boleh sampai terjadi. Tapi kami perlu mempersiapkannya," kata Wiku dalam konferensi pers lewat kanal YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (14/05).

Menurut Wiku, gelombang kedua pandemi COVID-19 hanya akan terjadi pada daerah yang masyarakatnya abai dengan rekomendasi kesehatan sesuai anjuran pemerintah. Ia pun meminta masyarakat agar selalu disiplin untuk menjaga jarak.

"Mungkin, saat ini sangat penting untuk melakukan observasi di masing-masing wilayah, bukan hanya lingkup nasional. Apa pun yang terjadi pada lingkup lokal akan berdampak pada situasi nasional," ujarnya.

“Saya rasa gelombang kedua akan muncul jika terjadi relaksasi PSBB yang terlalu dini dan larangan mudik tidak ketat. Hal ini selain menambah jumlah yang terinfeksi juga mungkin memang menggeser lokasi episentrum,” kata Berry Juliandi, Sekjen Akademi Ilmuwan Muda sekaligus pengajar di Departemen Biologi Institut Pertanian Bogor (IPB) saat dihubungi Asumsi.co, Jumat (15/05).

Sementara itu, Kepala Departemen Epidemiologi FKM Universitas Indonesia Tri Yunis Miko Wahyono menyatakan bahwa yang saat ini perlu diperhatikan adalah munculnya episentrum lain di daerah-daerah. Senada dengan Berry, Tri mengatakan, “Lonjakan penularan masih berpotensi terjadi jika pemerintah menghentikan masa PSBB sebelum wabah mereda. PSBB tetap tidak bisa dikurangi.”

Bicara soal lonjakan kasus dalam dua hari terakhir seperti yang disampaikan Yuri, Tri pun tak heran. Ia pun sepakat bahwa kalau kapasitas pemeriksaan ditingkatkan hingga ke daerah-daerah, maka potensi jumlah kasus positif meningkat pun jadi terbuka lebar.

“Jadi, kemampuan lab itu menunjukkan penindakan. Tapi apakah dari lab yang kurang sebelumnya itu infeksinya lebih tinggi atau lebih rendah? Tidak ada yang bisa membuktikan,” ucapnya. “Kalau sekarang ini kemampuan deteksinya 500 atau 600, yang dulunya 300 atau 400, yang sebelumnya 200 atau 300, sebenarnya angka 500 itu mulai kapan? Jangan-jangan sudah dari sebulan yang lalu, mana ada yang tahu. Begitu kira-kira kondisi di Indonesia.”

Kalau di Malaysia atau Thailand, katanya, begitu ada kasus muncul, langsung diisolasi. Kemudian, setelah isolasi di rumah sakit, lalu ada isolasi di rumah. Begitu pula di Singapura, yang mana isolasinya dipantau dengan baik.

“Sementara kita bertahap, awalnya lab-nya satu, itu saja jangan-jangan infeksinya sudah banyak. Kemudian, lab-nya dinaikkan jadi enam, infeksinya jangan-jangan sudah banyak juga, kita nggak tahu semua itu. Meski begitu, sekarang memang kemampuan deteksi kita sedikit membaik.”

Hingga Jumat (15/05), jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia sudah mencapai 16.496 orang. Dari angka itu, ada 1.076 orang yang meninggal dunia dan 3.803 orang dinyatakan sembuh.

Related Article