Lippo Group: Mengubah Mal Jadi RS COVID-19

Niat baik belum tentu berbuah keputusan yang tepat, terutama dalam urusan-urusan yang menyangkut keselamatan banyak orang seperti penanganan wabah COVID-19. Hal ini tampak pada upaya Lippo Group menyulap area komersial Lippo Plaza Mampang menjadi rumah sakit khusus COVID-19 sepekan belakangan. RS yang diproyeksikan sanggup menampung 415 tempat tidur ini akan dikelola Lippo Group melalui Siloam Hospitals.

Dilansir Merdeka, VP Head of Corporate Communication Lippo Karawaci, Danang Kemayan Jati, menyatakan bahwa RS tersebut akan beroperasi mulai pekan ini. Ia bahkan mengklaim Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengapresiasi inisiatif tersebut pada kunjungannya Selasa (31/3) kemarin.

Namun, upaya ini ditentang oleh para penghuni Nine Residence, apartemen yang bangunannya menyatu dengan mal Lippo Plaza. Saya menghubungi Rijal, bukan nama sebenarnya, yang memiliki satu unit hunian di sana. Ia memang tak tinggal di Nine Residence dan menyewakan unitnya. Masalahnya, kata Rijal, “Tiga teman saya yang tinggal di sana belum mendapatkan pemberitahuan apa pun dari manajemen gedung." Padahal, "Pengerjaan Rumah Sakit tetap berlangsung dan plang nama Siloam juga sudah terpasang," ujarnya. 

Meski akses untuk penghuni terpisah dari akses mal, Rijal tetap khawatir dan tidak tahu harus melakukan apa. Tempat parkir untuk penghuni dan pengunjung tidak dibedakan. Penyewa unit apartemennya bahkan sudah meninggalkan Nine Residence dan memilih tinggal di hotel untuk sementara. Sepengamatan Rijal, pembangunan RS COVID-19 hampir selesai. "Ranjang sudah masuk dan [para pekerja] sudah mulai memasukkan barang-barang medis,” katanya.

Elisa Sutanudjaja, peneliti RUJAK Center for Urban Studies, menilai langkah Lippo Group mengubah area mal menjadi RS COVID-19 bermasalah. “Ini seperti dengan sengaja memindahkan hot spot wabah ke kawasan permukiman,” ujar Elisa.

Pertama, katanya, jelas ada risiko terhadap kesehatan penghuni apartemen. Di sisi lain, berkat faktor komunikasi pemerintah yang tak memadai semasa awal wabah melanda Indonesia, ada potensi konflik dan stigma pada masyarakat setempat. Menurut Elisa, niat baik Lippo dapat diwujudkan dengan cara lain.

“Jika Lippo punya banyak alat dan tenaga kesehatan tapi tidak punya tempat, dia bisa kerja sama dengan pemprov DKI mengubah aset-aset pemprov DKI,” kata Elisa. “Misalnya GOR. Atau, yang lebih ekstrem, pakai Convention Center, di Senayan atau di Kemayoran. Toh nggak akan ada pameran juga.”

Senada dengan Elisa, pengamat tata kota Nirwono Joga berpendapat sebaiknya pemerintah mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas publik yang telah ada. “Jika [rumah sakit, klinik, dan puskesmas] masih kurang, pemerintah dapat memanfaatkan fasilitas publik berkapasitas besar seperti stadion olahraga, gedung olahraga, gelanggang remaja, gedung pertemuan, hingga taman luas (seperti di AS yang menggunakan Central Park New York),” ujarnya.

Manajemen Nine Residence menerbitkan surat keterangan tertulis yang menjabarkan langkah-langkah mereka dalam mengurangi risiko COVID-19: disinfeksi rutin untuk semua area umum setiap 3 jam dan setiap 1 jam pada permukaan yang sering disentuh seperti tombol lift; menutup semua fasilitas umum seperti gym dan kolam renang, serta menyingkirkan semua furnitur lobi untuk mencegah pertemuan di area umum; mengimbau penghuni untuk diam di rumah, mengikuti protokol social distancing, dan melapor jika menunjukkan gejala.

Dengan kata lain, sama seperti pengelola bangunan-bangunan yang tak berdekatan dengan calon rumah sakit khusus COVID-19.

Padahal yang terpenting, menurut Nirwono, adalah "mendapatkan persetujuan dari penghuni apartemen dan penghuni bangunan lain yang berdekatan langsung dengan mal tersebut, termasuk pengurus RT, RW dan Pemda setempat."

Meninjau pembangunan yang sudah berjalan, Elisa berpendapat bahwa penghuni harus mendesak pengadaaan fasilitas khusus. “Sudah kepalang tanggung. Penghuni harus meminta pengamanan maksimal, jangan cuma beda akses. Mereka butuh fasilitas tambahan yang didiskusikan dengan ahli kesehatan masyarakat.”

Related Article