Kunjungi Afghanistan di Tengah Ancaman Teror, Jokowi Samai Catatan Soekarno

Presiden RI, Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke Kabul, Afghanistan, Senin (29/01) pagi. Mantan Gubernur DKI Jakarta yang tetap berangkat ke Kabul meski kota itu tengah menghadapi rangkaian teror bom tersebut menyamai catatan Presiden RI Pertama, Soekarno. Dalam hal apa ya guys?

Menggunakan pesawat kepresidenan Indonesia 1, tadi pagi Jokowi akhirnya tetap terbang menuju Kabul meski wilayah tersebut dalam ancaman serangan bom. Jokowi ditemani Ibu Negara, Iriana Joko Widodo saat melakukan kunjungan kenegaraan itu dan tiba di Bandara Internasional Hamid Kariadi, Kabul, Afghanistan, Senin (29/01) pukul 11.40 Waktu Setempat (WS) atau pukul 14.10 WIB.

Kunjungan ke Afghanistan membuat Presiden RI ke-7 tersebut menyamai catatan Presiden RI Pertama, Soekarno. Ya, Jokowi menjadi Presiden RI kedua setelah Soekarno yang pernah mendatangi Afghanistan. 

Hal itu disampaikan oleh Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, Bey Machmudin, yang menyebut kedatangan Jokowi ke Afghanistan itu merupakan yang pertama kalinya sejak 57 tahun silam. 

Sebelumnya, Presiden RI Pertama, Soekarno pernah datang berkunjung ke Afghanistan pada 1961 silam. Itu artinya 5 presiden setelah Soekarno seperti Soeharto, BJ Habibie, Gus Dur, sampai SBY tak pernah sama sekali berkunjung ke Afghanistan.

"Kunjungan Kenegaraan Presiden Jokowi ke Afghanistan merupakan kunjungan kedua Presiden Republik Indonesia ke Afghanistan setelah Kunjungan Kenegaraan Presiden Sukarno pada tahun 1961," kata Bey dalam keterangan tertulis seperti dilansir Detikcom, Senin (29/01).

Saat tiba di bandara, Duta Besar Republik Indonesia untuk Afghanistan, Arief Rachman dan Kepala Protokol Negara Afghanistan menyambut kedatangan Presiden Jokowi dan Ibu Iriana di pintu pesawat. Suasana hangat pun terasa dalam penyambutan tersebut meski Afghanistan saat itu tengah diselimuti salju.

"Udara dingin bahkan hujan salju yang menyelimuti Kabul tidak mengurangi hangatnya penyambutan yang dilakukan pemerintah Afghanistan. Berturut-turut pejabat Afghanistan yang menyambut," lanjut Bey.

Pejabat Afghanistan yang menyambut kedatangan Jokowi adalah Wakil Presiden, Sarwar Danish; Menteri Luar Negeri, Salahudin Rabban; Menteri Keuangan, Eklil Hakimi; Duta Besar Afghanistan untuk Indonesia, Roya Rahmani; Gubernur Kabul, Mohammad Yaqoub Haidan; dan Wali Kota Kabul, Abdullah Habibzal.

Jokowi sendiri sadar betul jika kondisi kota Kabul saat ini tengah darurat usai diserang ledakan bom yang memakan korban jiwa yang mencapai ratusan orang. Meski begitu, Jokowi pun tak gentar dan tetap ingin menyelesaikan kunjungan kenegaraannya tersebut.

"Beberapa hari lalu, kota ini diguncang bom mobil menggunakan ambulans, yang menewaskan lebih seratus orang. Lalu pagi ini terdengar kabar serangkaian ledakan juga terdengar di Kabul, tak jauh dari sebuah akademi militer," jelas Jokowi.

Apa sih alasan Jokowi tetap ingin pergi dan berkunjung ke Kabul, Afghanistan? Di depan Parlemen Pakistan, Jumat (26/01) lalu, Jokowi menyampaikan bahwa umat Islam adalah korban terbanyak dari konflik, perang, dan terorisme. Hal itulah yang membuat Jokowi pun menegaskan tak ingin membiarkan teror terus terjadi. 

"Datanya sangat memprihatinkan: 76 persen serangan teroris terjadi di negara Muslim dan 60 persen konflik bersenjata di dunia terjadi di negara Muslim. Lebih jauh lagi, jutaan saudara-saudara kita harus keluar dari negaranya untuk mencari kehidupan yang lebih baik, 67 persen pengungsi berasal dari negara Muslim," jelasnya.

"Apakah kita akan biarkan kondisi yang memprihatinkan ini terus berulang terjadi? Tentu tidak. Kita tidak boleh membiarkan negara kita, dunia, berada dalam situasi konflik. Penghormatan kita kepada kemanusiaan, kepada humanity, seharusnya yang menjadi pemandu kita dalam berbangsa dan bernegara," tegasnya.

Related Article