Kubu Prabowo Bakal Makin ‘Garang’ Berkat Kwik Kian Gie

Mantan Menteri Koordinator bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri pada masa pemerintahan Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, Kwik Kian Gie akhirnya memilih jalan berbeda dari partainya PDI Perjuangan di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Kwik memutuskkan untuk bergabung dengan kubu Prabowo Subianto.

Merapatnya Kwik bersama tim Prabowo awalnya membuat banyak pihak bertanya-tanya, apalagi dirinya dianggap membelot ke kubu lawan. Namun, semua menjadi jelas setelah sosok kelahiran Pati, Jawa Tengah pada 11 Januari 1935 itu menjelaskan bahwa ide-idenya pernah tak digubris Joko Widodo.

Kwik sendiri mengaku bahwa ia sudah pernah menawarkan ide-ide atau pemikiran-pemikirannya soal ekonomi kepada Presiden Jokowi. Sayangnya, bagai bertepuk sebelah tangan, Kwik mengatakan bahwa Jokowi sama sekali tak merespons pemikiran-pemikiran yang sudah ia sampaikan itu.

"Mengenai Pak Jokowi, apakah pernah mengajak saya bicara? Tidak," kata Kwik saat konferensi pers di rumah Prabowo, Jalan Kertanegara IV, Jakarta Selatan, Senin malam, 17 September 2018.

Kini, Kwik pun masuk menjadi penasihat pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno di Pilpres 2019. Padahal, seperti kita ketahui, Kwik sendiri saat ini statusnya masih merupakan fungsionaris PDIP dan sebelumnya juga pernah menjadi bagian dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) partai.

Nah, soal ide-idenya itu, Kwik mengaku bahwa ia sudah lebih dulu mengajak Jokowi berbincang soal ekonomi. Momen perbincangan itu sendiri berlangsung saat keduanya sama-sama menghadiri pemakaman mantan Ketua MPR Taufik Kiemas.

Saat itu, Kwik mengajak Jokowi bicara di rumah Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, di Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat. Pada kesempatan itu, Kwik meminta Jokowi untuk memaksimalkan popularitasnya tak sekedar untuk DKI Jakarta saja tapi juga untuk kepentingan negara.

"Bapak sekarang kan sudah jadi gubernur, sangat populer, tolong gunakan popularitas ini untuk kepentingan partai dan kepentingan negara ini. Bicaranya jangan hanya urusan DKI saja, tetapi urusan negara," kata pria berusia 83 tahun itu.

Sebenarnya, lanjut Kwik, Jokowi sendiri sempat merespons dan menanyakan maksud pembicaraaannya. Momen itulah yang langsung dimanfaatkan Kwik untuk menawarkan bahan-bahan yang ia punya untuk Jokowi.

Bahan-bahan yang jumlahnya banyak itu, jelas Kwik, dikumpulkan selama menjadi divisi penelitian dan pengembangan (litbang) dan Ketua DPP PDIP . Tak hanya itu saja, bahan itu juga dikumpulkan saat ia menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat pada rentang 1999.

Sayangnya, Jokowi justru tak merespons sama sekali dari banyaknya bahan dalam bentuk hard copy dan soft copy yang sudah diberikan Kwik. "Satu kata pun tidak ada reaksi, tidak ada sambutan apa-apa," ujarnya.

Tak hanya itu saja, Kwik pun bercerita soal pengalaman tak mengenakkan lainnya yang serupa dan terjadi di internal PDIP. Jadi, Kwik sendiri pernah menulis booklet berjudul Platform Presiden pada 2004 saat Megawati maju jadi capres. Buku serupa juga ditulis oleh Kwik pada 2009 saat Megawati kembali mencalonkan diri.

Sayangnya, sama seperti Jokowi, pemikiran-pemikiran yang coba ditawarkan Kwik justru tak direspons. "Ibu Megawati kan ketua umum, dia mengasumsikan bahwa akan ada respons, tapi sama sekali tidak. Dari sekjen tidak, dari litbang tidak, dari siapapun tidak," ujarnya.

Pada akhirnya, lantaran ide-ide dan pemikiran-pemikiran ekonominya tak diterima oleh Jokowi atau PDIP, maka bukanlah langkah yang sulit bagi Kwik untuk memutuskan bergabung dengan PDIP meski disebut pembelot.

"Jadi logis kan kalau dengan sendirinya bicara dengan Pak Prabowo lebih dulu," kata Kwik.

Terkait Kwik ini sendiri, Direktur Paramater Politik Indonesia Adi Prayitno mengamini bahwa keputusan Kwik bergabung dengan kubu Prabowo ketimbang bertahan bersama kubu Jokowi, memang sudah seharusnya.

“Sepertinya begitu, salah satunya soal ide Kwik yang tak direspons Jokowi. Ini soal akomodasi ide Kwik ya, karena Kwik bukan orang yang berada di pusara kekuasaan kan, bukan orang yang cukup dominan di PDIP, yang sentrum pemikirannya menjadi referensi,” kata Adi kepada Asumsi.co, Kamis, 20 September.

Menurut Adi, Kwik memiliki ide-ide ekonomi yang cukup baik. Sayangnya, posisi Kwik justru tak dilirik, terutama terkait pandangan-pandangannya. Adi melihatnya Kwik ini seperti mengalami marginalisasi politik.

“Bisa saja karena marginalisasi politik bahwa suara-suara dan usulan-usulan Kwik itu tidak dijadikan preferensi atau yang kedua bisa saja karena selera politik, tapi alasan yang substansial ya begitu, bahwa dia termarginal posisinya.”

“Penting sekali ide-idenya Kwik ini bagi kubu Prabowo. Dia kan ekonom yang diakui kapasitas dan integritasnya. Jadi Kwik ini salah satu politisi yang dianggap paham ilmu ekonomi yang secara absah pendapat dan pandangan-pandangannya itu valid dan mendekati kebenaran.”

Jadi, lanjut Adi, wajar saat Kwik ingin merapat ke kubu Prabowo jadi banyak pihak yang gelisah. Karena Kwik ini mewakili salah satu tokoh, aktor, dan pemikir ekonomi yang mantap dan mapan, serta banyak diikuti orang karena pemikiran ekonominya.

“Dia bisa jadi influencer dalam bidang ekonomi,” kata Dosen Ilmu Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut.

Adi pun meyakini bahwa hadirnya Kwik tentu akan membuat tim dan program ekonomi Prabowo-Sandi akan semakin garang. Prabowo-Sandi yang memang fokus mengusung program ekonomi, akan dilengkapi dengan sosok senior seperti Kwik. 

“Dengan hadirnya Kwik, kubu Prabowo yang fokus dengan program ekonominya sepertinya akan semakin kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah. Karena kebijakan ekonomi adalah satu-satunya kebijakan yang mendapatkan porsi cukup besar menjadi perhatian masyarakat.”

Related Article