Aksi Mahasiswa 24 September, Sebuah Pelajaran Tentang Janji

Malam itu, para mahasiswa menuai pelajaran penting soal janji. Mereka dapat merapalnya seperti mantra: pada tanggal 19 September, Sekjen DPR berjanji akan menyampaikan tuntutan mahasiswa kepada anggota DPR. Empat hari kemudian, perwakilan mahasiswa kembali mendatangi Senayan untuk menagih janji mereka. Ribuan mahasiswa mengepung gedung DPR dan perwakilan demonstran menemui anggota dewan. Mereka mendapati bahwa Sekjen DPR tak pernah menyampaikan pesan mereka.

Para mahasiswa berdiri serempak di ruang audiensi, seraya menyampaikan mosi tidak percaya. Di luar, kabar buruk ini nyaris memantik kericuhan. Demonstran memanjat pagar gedung, mengabaikan himbauan polisi untuk tenang, dan lemparan botol kembali terjadi. Sebagian demonstran yang mengamuk langsung melantangkan seruan untuk menggempur gedung DPR malam itu juga. Namun, di mobil komando, para perwakilan mahasiswa meminta agar semua peserta unjuk rasa bersabar. 

Besok, kita akan kembali dengan massa jauh lebih besar. Besok, tidak ada lagi kompromi atau mediasi.

Sejarah akan mencatat bahwa ikrar ini diamalkan. Pada hari Selasa (24/9), para demonstran mulai mengerubungi gerbang utama gedung DPR sejak pagi. Pada pukul 09.45, sekitar 50 massa dari Serikat Petani Indonesia telah berorasi di mobil komando. Di jembatan penyeberangan dan halte bus, terhimpun kerumunan kecil mahasiswa yang nekat bermalam. Jaket almamater mereka lusuh. Sebagian saling pijat untuk menghalau masuk angin, tapi wajah mereka tampak sumringah.

Puluhan mahasiswa juga baru tiba dari Jawa Barat. Sebagian tak langsung bergabung dengan massa yang sudah berkumpul di hadapan mobil komando. Mereka agak menjauh, bercerocos ke ponsel dalam bahasa Sunda. Rupanya mereka tengah memberi ancar-ancar kepada kawan-kawannya yang masih dalam perjalanan. Spanduk dan bendera yang mereka usung mengungkapkan kampung halaman mereka: Bandung, Sukabumi, Tasikmalaya.

Keamanan jauh lebih ketat dari kemarin. Kawat berduri memblokir akses ke gerbang utama, juga pintu mungil di samping pagar yang sempat jadi akses keluar-masuk pengunjung gedung DPR yang tak bermobil. Ratusan, bahkan ribuan anggota polisi dan tentara bersiap di dalam kompleks DPR. Sepagi ini, tameng dan alat anti huru-hara telah siap. Mobil barracuda dan meriam air juga telah siaga. Senapan laras panjang yang tengah mereka poles menunjukkan bahwa aparat pun tidak berniat kompromi.

Ada alasan lain mengapa hari itu spesial. Pertama, tanggal 24 September adalah Hari Tani Nasional. Inilah yang menyebabkan massa dari petani berkumpul sejak pagi dan terus berduyun-duyun ke Senayan hingga senja. Massa dari pegunungan Kendeng yang tekun melawan tambang pun tak ketinggalan. Orasi kaum petani didominasi oleh rentetan kritik terhadap UU Pertanahan dan UU Minerba, yang terang-terangan merugikan petani dan masyarakat adat.

Di tanggal yang sama, dua puluh tahun lalu, terjadi Tragedi Semanggi II. Pada 24 September 1999, Undang-undang Penanggulangan Keadaan Bahaya (UU PKB) disahkan DPR meski UU tersebut ditolak masyarakat. UU PKB dinilai akan menjadi dalih militer untuk seenaknya melakukan operasi, dan mencederai semangat demokrasi yang baru saja dimulai oleh Reformasi. Bentrok tak terhindarkan. Aparat bersikap keras, dan dua orang meninggal dunia. Salah satunya adalah Yun Hap, mahasiswa Universitas Indonesia yang diberondong peluru saat sedang membantu kawannya yang terkapar. Tak salah lagi, hari itu penuh emosi.

Jelang jam 12, massa mahasiswa mulai memadati jalanan di depan gedung DPR. Jalan raya akhirnya ditutup sepenuhnya, sementara tol berangsur-angsur sepi. Massa mahasiswa ramai-ramai melempar spanduk, potongan karton, dan kain ke kawat berduri, lantas menginjak-injaknya sampai pipih. Berpegangan kepada spanduk dan tanpa mengindahkan sebagian duri yang masih menjuntai, mereka menarik kawat tersebut menjauh. Gerbang utama DPR pun mendadak lengang dan dikerubungi massa dengan mudah. Sebagian mulai memanjat gerbang, memasang spanduk berisi tuntutan dan mengibarkan bendera merah putih.

Pada pukul 12.36, para demonstran menyampaikan tuntutan: Ketua DPR Bambang Soesatyo mesti keluar menemui mereka. Apabila tidak ada tanggapan dalam 30 menit, gerbang DPR akan dibobol paksa. Tak seperti aksi 23 September, dimana orasi mahasiswa fokus mengkritik serangkaian RUU yang mereka soroti, kali ini orator di mobil komando mahasiswa lebih sibuk menggalang massa. Mahasiswa seolah sudah sepemahaman tentang tuntutan yang mereka perjuangkan. Panggung justru lebih banyak dibagi dengan orasi dari pihak petani dan buruh yang menyampaikan aspirasi, serta Ibu Sumarsih, orang tua korban Tragedi Semanggi I dan penggalang Aksi Kamisan.

Kapolres Harry Kurniawan tampak berusaha bernegosiasi dengan para demonstran dari atap sebuah mobil water cannon. Polisi akan berusaha menengahi diskusi antara demonstran dengan anggota DPR, dan mengupayakan agar ada anggota DPR yang keluar. Pernyataan Kapolres sempat agak mendinginkan suasana, bahkan setelah tenggat waktu 30 menit pertama lewat.

Namun, sekitar pukul 13.30, terjadi tensi perdana. Polisi berusaha memukul mundur massa mahasiswa yang duduk persis gerbang DPR. Sempat terjadi lempar-lemparan botol sebelum akhirnya mahasiswa sepakat untuk mundur sekian meter dari hadapan gerbang DPR. Terdapat sedikitnya 50 personil polisi yang berjaga di gerbang DPR, membawa tameng dan baton.

Setelahnya suasana tegang. Berulang kali, mahasiswa memundurkan tenggat waktu agar Ketua DPR keluar menemui mereka, dan berulang kali pula Kapolres Harry Kurniawan meyakinkan bahwa perwakilan polisi tengah bernegosiasi dengan anggota dewan.

Terdapat bukaan kecil dari pagar yang dijebol di pojok gerbang kanan DPR, menuju taman di tengah gerbang. Polisi menginstruksikan agar semua wartawan dipindah ke sana, dengan jalur evakuasi menuju lingkar kawat berduri yang dikepung mobil meriam air. Fotografer dan wartawan berebut mengambil posisi di atas separator beton yang dipinggirkan ke dekat taman. Sementara, orasi mahasiswa kian panas. Seorang perwakilan Universitas Bung Karno terang-terangan menyebut bahwa kemerdekaan mesti direbut dengan darah. Di balik barikade, para polisi mulai berkasak-kusuk. Semua tahu bentrok tak terhindarkan.

Sempat terjadi perdebatan di mobil komando. Sebagian mahasiswa ingin menggeruduk gerbang DPR sekarang juga juga, sebagian ingin memberi tenggat waktu terakhir. Usai memanggil perwakilan tiap kampus ke mobil komando dan berdiskusi secara internal, sebuah pengumuman sempat disiarkan. Apabila DPR tak mau menemui mahasiswa, mereka akan bikin lumpuh Jakarta. Tak lama kemudian, sebagian mahasiswa mulai membanjir ke jalan tol dan memblokir jalan, tak mengindahkan himbauan polisi maupun sesama demonstran untuk bersabar. Keluhan tak puas pun terdengar dari kerumunan demonstran. Akhirnya mereka mengambil keputusan: apabila jam 16.00 Ketua DPR tidak keluar, gerbang akan dibuka secara paksa.

Sekitar pukul 16.15, kesabaran mereka habis. Massa mahasiswa mendorong barikade polisi yang mengamankan gerbang DPR. Setelah baku hantam dan pelemparan botol yang singkat, polisi menarik diri dari gerbang. Mereka kocar-kacir melewati bukaan kecil ke arah taman depan gerbang, mundur ke belakang barikade. Pada evakuasi ini, sempat terjadi kepanikan. Wartawan yang tengah meliput di dekat jalur evakuasi terjebak antara demonstran dan polisi. Sebagian terjatuh, tak sengaja dihajar baton polisi yang melarikan diri. Saptaji, fotografer Asumsi.co, terkena lemparan batu dari massa di lehernya.

Melihat massa mulai berbondong-bondong memanjat pagar gedung DPR, meriam air beraksi. Sebagian mahasiswa tumbang ke tanah setelah diberondong air, dan kerumunan mahasiswa di hadapan pagar dipukul mundur. Mobil polisi yang tadinya menjadi tempat Kapolres bernegosiasi diduduki oleh massa. Mereka melempar batu, botol berisi air kencing, bahkan potongan kayu dan lempengan baja. Polisi pun panas dan ikut lempar-lemparan, seraya memukul demonstran.

Di pengeras suara, terdengar Kapolres berusaha susah payah menenangkan massa dan menyuruh anggota kepolisian untuk tidak terprovokasi, tapi himbauannya tak diacuhkan. Bentrok ini menyulut emosi kedua pihak. Sedikit demi sedikit, polisi terpaksa mundur ke balik barikade. Dari kejauhan, tampak massa berdiri di atas mobil polisi yang telah direbut seraya mengibarkan bendera berlambang anarki. Saat itu juga, gas air mata dikeluarkan untuk kali pertama.

Gas air mata memaksa wartawan dan mayoritas polisi untuk mundur ke balik kawat berduri yang mengelilingi gerbang utama sebelah kiri. Hujan batu dan botol menyusul tak lama kemudian. Sebagian wartawan memberanikan diri maju mendekati para demonstran, berteriak bahwa mereka adalah wartawan yang tak sepantasnya disasar amuk massa. Namun, padatnya gas air mata dan meriam air yang tak jemu mengguyur gerbang kanan seolah mendorong polisi maupun demonstran untuk membabi buta. Gas air mata keluar untuk kali kedua, hujan batu kian deras dan mengenai kaki seorang wartawan. Di tengah kepanikan tersebut, polisi memerintahkan wartawan untuk mundur dan berlindung di dalam kompleks DPR.

Sebuah pemandangan menarik menyambut kami saat berjalan mundur ke arah gedung MPR. Tak jauh dari air mancur, dilindungi ajudan dan staf, tampak Ketua DPR Bambang Soesatyo. Angin kencang meniupkan gas air mata ke arah gedung DPR. Bambang Soesatyo, yang tak mengenakan masker maupun pasta gigi untuk melindungi matanya, tampak sesak napas dan kelimpungan. Suara batuk-batuknya dipotong oleh bunyi bom asap dan petasan yang mulai dilempar anggota Brimob dari balik gerbang. Dari kejauhan, asap membubung dan langit berubah kelabu. Semua orang yang tadinya menyaksikan demonstrasi dari balik gerbang, mulai lari tunggang langgang ke gedung MPR.

Suasana di dalam gedung MPR maupun di tengah-tengah demonstrasi sama kacaunya. Di gedung MPR, korban gas air mata terkapar di mana-mana. Staf DPR, wartawan, hingga polisi sikut-sikutan ke kamar mandi, berebut membasuh wajah mereka dengan air. Sementara di luar, massa perlahan-lahan dipukul mundur ke arah persimpangan Semanggi dan Slipi. Proses ini tidak mudah, juga tidak luput dari kekerasan.

Peperangan di luar gedung tak kunjung reda. Sekitar pukul 18.45, wartawan yang mengungsi ke Media Center DPR mendengar kabar bahwa terjadi bentrok antara polisi dengan warga serta demonstran di daerah Palmerah. Perlahan-lahan, kami menyelinap ke pintu belakang gedung DPR yang menghadap langsung ke penyeberangan rel kereta Palmerah.

Di persimpangan itu, tampak personil Brimob melempar bom asap, gas air mata, dan petasan ke arah massa. Mobil dan motor di Jl. Tentara Pelajar yang selalu padat saban malam terjebak di tengah-tengah bentrok. Beberapa kali, bentrokan berhenti akibat kereta komuter yang lewat di rel. Demonstran telah bercampur dengan warga sekitar Palmerah dan pelajar yang melempar batu. Tak lama kemudian, tampak bara api dari sepeda motor yang dibakar. Meriam air menanggapinya dengan riuh, tetapi amarah para demonstran tak mudah padam.

Konflik di pintu belakang ini berlanjut terus hingga larut malam. Pada pukul 20.30, tersiar kabar bahwa gerbang utama DPR yang menghadap Jl. Gatot Subroto telah steril. Gontok-gontokkan dengan para demonstran telah berpindah ke Bundaran Semanggi dan perempatan Slipi. Di pintu utama DPR, kedua ruas jalan termasuk jalan tol ditutup dan sepenuhnya lengang. Botol bekas, selongsong gas air mata, dan batu berserakan. Mobil meriam air polisi yang tadi sore direbut demonstran telah hancur – kacanya pecah, ban digembosi, dan bodinya dihiasi cacian terhadap polisi yang dicoret dengan pylox.

Beberapa wartawan memilih untuk ngaso, mengobrol di halte bus dan pemisah jalan yang masih berdiri. Sambil mengisap rokok dan membasuh wajah dengan air untuk menangkal dampak gas air mata, mereka berkelakar tentang bagaimana Jakarta jadi sepi seperti desa.

Hingga menjelang pukul 23.00, tidak ada indikasi bahwa jalur Semanggi maupun Slipi bisa ikut steril. Menyusuri Jl. Gatot Subroto menuju perempatan Slipi, tampak motor-motor demonstran yang rusak bergelimpangan, juga ratusan anggota Brimob yang tengah beristirahat. Mendekati turunan menuju perempatan Slipi, seorang anggota Brimob menyarankan agar wartawan dan warga yang ingin evakuasi untuk belok kiri ke arah Jl. Tentara Pelajar dan penyeberangan rel Palmerah saja. Sebab, daerah itu sudah lebih aman ketimbang perempatan Slipi.

Dari kelokan menuju Jl. Tentara Pelajar, tampak ratusan motor yang ditinggalkan pemiliknya. Sebagian mahasiswa dengan baju lusuh dan muka memar tampak lari tunggang langgang dari polisi yang memaki-maki sambil menenteng pentungan. Mereka berlari ke arah motornya, dan kabur menuju Pejompongan. Dari pintu samping DPR, puluhan anggota Brimob dengan perlengkapan anti huru-hara berderap menuju arah stasiun Palmerah.

Di stasiun, sebuah kereta komuter terhenti dan tidak bisa melanjutkan perjalanan. Massa telah mundur ke arah penyeberangan rel, dan masih bentrok dengan polisi. Sekitar 500 meter sebelum Stasiun Palmerah, beberapa mahasiswa mengerubungi kawannya yang berdarah hebat dari hidung. Menurut pengakuan mereka, kawan ini kena tembak peluru karet dari polisi saat hendak mengambil motornya. Mereka menolak didokumentasikan oleh Asumsi.co, dan lekas menyembunyikan jaket almamaternya saat melihat wartawan mendekat.

Sementara di penyeberangan rel Palmerah, sebuah motor masih terbakar. Polisi telah berhasil memukul mundur massa sampai rel kereta, tapi demonstran tak mudah menyerah. Kedua pihak saling serang–polisi melempar bom asap, demonstran dengan batu, keduanya pun menggunakan kembang api. Dari atas jembatan penyeberangan menuju Stasiun Palmerah, warga dan wartawan berkerumun menonton bentrok.

Saat kedua pihak bertukar serangan kembang api, sebuah lelucon tentang pesta tahun baru mencairkan suasana. Stasiun Palmerah sendiri penuh sesak dengan warga yang penasaran, penumpang kereta komuter yang terdampar, dan mahasiswa yang menyelamatkan diri. Sementara, ambulans menembus asap gas air mata yang perlahan-lahan membubung dan menghampiri persimpangan rel kereta.

Seperti dilansir Kompas.com, 232 orang menjadi korban luka-luka dan tiga orang dalam kondisi kritis dari aksi 24 September. Sesudahnya, LBH Jakarta membeberkan bahwa terjadi tindakan represif aparat yang berlebihan, penggunaan gas air mata yang telah kedaluwarsa dan beracun, hingga intimidasi terhadap wartawan yang meliput di lapangan. Ananda Badudu, musisi yang mengorganisir bantuan amal bagi demo 23-24 September melalui Kitabisa.com, juga menuding bahwa beberapa ambulans yang hendak menjemput korban di tempat kejadian dihalang-halangi oleh polisi berbaju preman.

Malam itu, kita semua menuai pelajaran penting soal janji. Sekali diucapkan, ia mesti ditepati, apapun tumbalnya.

Related Article