Konglomerat di balik Parasite

Kemenangan Parasite di Academy Awards disambut dengan gegap gempita. Audiens di perhelatan Oscar menjerit, bertepuk tangan, dan berdiri menyambut produser Kwak Sin-ae dan Bong Joon-ho yang berdiri dan berjalan ke atas panggung. “Jeritan setelah Parasite diumumkan sebagai pemenang terdengar sama persis dengan jeritan kemenangan tim tuan rumah di pertandingan. Semua orang mencintai Parasite,” kata akun Twitter penulis dan jurnalis Shea Serrano.

Parasite memenangkan penghargaan tertinggi film terbaik Oscar. Film asal Korea Selatan ini juga menerima penghargaan naskah terbaik, film internasional terbaik, dan sutradara terbaik. Sejak memenangkan penghargaan Palm d’Or pada Mei 2019, Parasite telah berkompetisi di puluhan festival film internasional dan mendapatkan lebih dari 200 penghargaan. Parasite mendapat skor tomatometer sebesar 99% di Rotten Tomatoes.

Hampir semua orang sepakat Parasite adalah sebuah “masterpiece”, “film terbaik tahun ini”, bahkan “film terbaik sedekade”. Kemenangannya juga membawa harapan bagi pelaku-pelaku baru di industri kreatif. “Jika Parasite bisa, kita juga bisa,” kata seorang penggemar di Twitter. “Terima kasih Boong Joon-Ho karena telah membuatku merasa ini bukan sekadar angan-angan,” kata penyanyi Rich Brian.

Namun, ada harga yang mahal di balik kesuksesan Parasite. Ada promosi dan kampanye besar-besaran yang membuat film ini berhasil mendapat spotlight internasional.

Seluk-beluk Perusahaan CJ

Parasite diproduksi oleh Barunson E&A dan didistribusikan oleh CJ E&M. Pada Maret 2018, CJ Entertainment menandatangani kesepakatan investasi sebesar US$10,5 juta untuk memproduksi film Parasite bersama Barunson E&A. Tak hanya itu, perusahaan grup CJ juga dikabarkan mengeluarkan dana sebesar 10 miliar won atau US$8,4 juta untuk mempromosikan Parasite di Oscar. Di balik kejeniusan Bong Joon-Ho, grup perusahaan CJ juga berpengaruh besar terhadap kemenangan film ini di Oscar.

Grup CJ telah berpengaruh besar terhadap perkembangan budaya populer di Korea. Perusahaan ini memegang kendali terhadap rantai industri film, musik, dan televisi—mulai dari produksi, pendanaan, lisensi, distribusi, hingga eksibisi. Berawal dari perusahaan makanan dan farmasi, grup perusahaan ini mengembangkan sayapnya ke ranah media dan hiburan di bawah CJ E&M.

CJ awalnya adalah bagian dari perusahaan Samsung. Pada 1996, CJ atau “Cheil Jedang” memisahkan diri sepenuhnya dari Samsung dan mulai masuk ke bisnis media, hiburan, keuangan, informasi, dan komunikasi. Konglomerat Lee Byung-chul jadi pendiri Samsung sekaligus CJ. Setelah ia meninggal dunia, Samsung diwariskan kepada anaknya, Lee Kun-hee. Sementara CJ diambil alih oleh cucunya, Lee Jay-hyun.

CJ mengawali bisnisnya di perfilman dengan berinvestasi di rumah studio DreamWorks. Cucu Byung-chul, Miky Lee, menghubungkan CJ dengan DreamWorks dan menginvestasikan dana sebesar US$300 juta. Kini, Miky Lee menjabat sebagai wakil ketua CJ. Dengan memegang saham di DreamWorks, CJ punya wewenang untuk mendistribusikan film-film produksi studio tersebut ke Korea. CJ pun mendirikan bioskop multiplex bernama CGV untuk memudahkan pendistribusian film-filmnya.

Di tengah krisis finansial Asia yang turut menerpa Korea Selatan dan membuat perusahaan-perusahaan film berskala kecil gulung tikar, CJ berjaya dan mengkapitalisasi pasar. Perusahaan ini juga mulai memproduksi film-filmnya sendiri, dimulai dari Shiri (1999) yang berhasil meraih box office di Korea Selatan. Pada 2007, CJ jadi distributor bagi film-film Paramount Pictures dan Universal Pictures yang berada di bawah United International Pictures.

Tak cuma di film, CJ juga berpengaruh terhadap industri musik Korea. CJ E&M menyelenggarakan ajang penghargaan “Mnet Asian Music Awards” di Macau pada 2011, Singapura pada 2011, dan Hong Kong pada 2012 dan 2013. Lebih dari 1 miliar orang menonton acara ini. CJ juga menyelenggarakan festival musik KCON di berbagai negara di dunia. Bertujuan untuk meningkatkan awareness dan popularitas K-pop ke seluruh dunia, KCON diselenggarakan di Amerika Serikat, Jepang, Arab Saudi, Perancis, hingga Thailand.

Hollywood Reporter melaporkan peran besar Miky Lee membangun industri perfilman Korea Selatan. CJ telah memproduksi dan mendistribusi lebih dari 130 film Korea. Perusahaan ini punya target untuk memproduksi 20 film remake Korea di luar negeri, seperti Miss Granny (2014) yang di-remake 16 negara lain dan Sunny (2011) yang di-remake 5 negara lain. Bioskop CJ CGV telah mempunyai 1.111 layar di Kor oea Selatan dan 3.412 layar di tujuh negara lain—termasuk Indonesia. Semakin populer budaya Korea di kalangan internasional, semakin luas pula jalan menuju kesuksesan. "Tanpa dukungan Lee, Parasite mungkin tak akan pernah ada," kata jurnalis Rebecca Sun.

Monopoli dan Skandal Perusahaan

Nama CJ tak selalu bersih dari praktik monopoli, skandal, dan kontroversi. Sebagai perusahaan konglomerat, CJ juga melakukan monopoli bisnis. Film-film luar negeri yang didistribusikan oleh CJ E&M dan Lotte Entertainment dikatakan kerap melakukan monopoli layar bioskop. November lalu, Frozen 2 mengambil lebih dari 74% porsi layar bioskop Korea Selatan. Begitu pula dengan Avengers: Endgame (2019) yang dikatakan tayang di 90% layar bioskop.

Pada 1966, pemerintah Korea telah mewajibkan bioskop untuk memberikan waktu tayang kepada film-film lokal setidaknya 106 hari per tahun. Namun, peraturan ini dikatakan tidak efektif. Film-film domestik yang diproduksi oleh studio-studio besar seperti CJ E&M mendominasi layar dan menjadi box office. The Sogang Herald menyebutkan bahwa hanya film-film berbujet lebih dari 8 miliar won yang dapat menembus keuntungan dengan rate lebih dari 50%. Sementara film-film lokal berbujet rendah lebih sering merugi karena mendapatkan jumlah layar dan waktu tayang yang terbatas.

Sutradara dokumenter Kim Jae-hwan menyebut CJ morally corrupt”. Filmnya, Granny Poetry Club hanya tayang di 8 layar bioskop dari total 1.182 layar bioskop CGV. Film lain yang diproduksi oleh CGV dengan bujet serupa dikatakan mendapatkan jumlah layar yang jauh lebih banyak. Kasus lain yang membuktikan adanya monopoli adalah pemutaran film lokal The Battleship Island (2017) produksi CJ E&M yang mendapatkan jatah layar sebanyak 2.027 dari 2.700 layar bioskop di Korea.  

Mengatasi masalah ini, pada 2017, pemerintah Korea Selatan mengusulkan untuk mengeluarkan aturan yang melarang monopoli film. Namun, CJ dan Lotte Cinema tidak setuju dan mengatakan bahwa intervensi tersebut akan menghambat fungsi pasar. Profesor Park Kyung-sin dari Universitas Sekolah Hukum Korea mengatakan bahwa lobbying dari perusahaan konglomerat membuat aturan ini sulit untuk disahkan.

Pada 2019, pemerintah Korea Selatan kembali hendak mengesahkan aturan serupa. Sebuah film dilarang untuk mengambil jatah layar lebih dari 50%. Dilansir oleh Yonhap News, regulasi ini diharapkan dapat memberikan solusi dari “praktik kompetisi tidak adil di industri film” dan mencegah “monopoli layar oleh film-film blockbuster”. Namun, belum ada kabar kemajuan terkait aturan ini.

Ketua CJ Lee Jay-hyun juga pernah ditangkap dan dipidana atas tuduhan melakukan penghindaran pajak dan penggelapan uang. Ia dituduh telah menyimpan ratusan juta dollar di bawah nama orang lain, menghindari pajak sebesar US$61 juta, dan menyalahgunakan lebih dari US$84 juta.

Penangkapannya dilakukan setelah pemerintah Korea Selatan mengesahkan undang-undang yang mempersulit konglomerat atau chaebol untuk memonopoli bisnis. Perusahaan-perusahaan besar yang dikuasai oleh segelintir keluarga seperti Hyundai, Samsung, dan CJ dikatakan telah memperlebar kesenjangan ekonomi antara yang kaya dan yang miskin.

Paman Jay-hun, Lee Kun-hee selaku direktur Samsung pun pernah dipenjara. Ia dituduh telah menyuap jaksa, hakim, dan figur-figur politik di Korea. Lee pun terbukti bersalah atas tuduhan penyelewengan uang dan penghindaran pajak. Ia divonis tiga tahun penjara, sebelum kemudian diberikan amnesti oleh mantan Presiden Korea Lee Myung-bak. Diketahui bahwa sang presiden menerima suap dari Kun-hee untuk membebaskannya dari penjara.

Sejarah CJ dan keluarga konglomerat di baliknya punya kisah yang tak jauh berbeda dengan film Parasite. Sebagaimana kata Miky Lee, “Parasite mengangkat isu yang dihadapi semua orang.” Pertanyaannya, lagi-lagi, siapa sebenarnya yang parasit?

Related Article