Konflik Sudan Pecah, Warna Biru Dominasi Media Sosial

Sudan sedang bergejolak. Rakyat Sudan turun ke jalan memrotes pemerintah yang dinilai gagal menyejahterakan warganya. Ibu kota Sudan, Khartoum, dipenuhi oleh masa demonstran yang jumlahnya terus bertambah. Bahkan, aksi turun ke jalan ini sudah menewaskan banyak orang.

Apa yang Terjadi?

Aksi massa di Sudan mulai sejak Desember 2018 lalu. Ketika massa mulai turun ke jalan, harga-harga bahan pokok terus melonjak. Pemerintah Sudan berdalih bahwa kebijakan ini diambil untuk memperbaiki kondisi ekonomi Sudan yang tengah memburuk.

Alih-alih puas dengan kebijakan tersebut, masyarakat Sudan justru merasa semakin dirugikan. Para demonstran meminta Presiden Omar Al-Bashir yang sudah menjabat sebagai presiden sejak 1993 untuk turun dari jabatannya. Memasuki bulan keempat aksi protes, yaitu pada April 2019, demonstran berhasil menduduki pusat kota, yang letaknya berseberangan dengan kantor pusat tentara. Di sana, demonstran meminta tentara untuk memaksa presiden mundur dari jabatannya.

Lima hari setelahnya, permintaan demonstran pun dituruti. Omar Al-Bashir berhasil dikudeta oleh militer Sudan. Posisinya digantikan dengan dewan militer yang bernama Transitional Military Council (TMC). Dewan ini dipimpin oleh Letjen Abdel Fattah Abdelrahman Burhan dan dibentuk dengan tujuan menjaga keamanan Sudan selama masa transisi.

Enam bulan berlalu sejak Desember 2018, demonstrasi masih terus terjadi karena masyarakat Sudan menginginkan pemerintahan sipil kembali berkuasa. Mereka berharap masa transisi ini segera berakhir dan demokrasi kembali dijalankan. Perwakilan demonstran sudah sempat bertemu dengan perwakilan dewan militer untuk membahas siapa yang pantas memimpin Sudan setelah masa transisi. Meski demikian, negosiasi berhenti dan situasi kembali memanas. Pada 3 Juni kemarin, bentrok antara militer dan demonstran tak terelakkan.

Bentrok yang terjadi mengakibatkan banyak warga sipil meninggal dunia. Belum diketahui jumlah pasti, namun korban tewas diperkirakan mencapai 100 orang. Sedangkan data resmi dewan militer mengatakan bahwa korban tewas mencapai 46 orang.

Dalam pernyataannya, dewan militer sebenarnya berharap kondisi ini tidak terjadi. Mereka menyesali perkembangan demonstrasi mengakibatkan banyaknya warga Sudan yang tewas. Namun, mereka berdalih bahwa operasi ini perlu dilakukan untuk menghentikan oknum-oknum yang sengaja membuat kerusuhan. Dewan militer juga telah menerapkan peraturan darurat dan jam malam untuk seluruh masyarakat Sudan.

Warganet merespons tindakan represif pemerintah Sudan dengan menggunakan warna biru di profil media sosial mereka, sembari menuliskan tagar #BlueforSudan. Warna biru dipilih dengan alasan bahwa warna tersebut merupakan kesukaan Mohammad Hashim Mattar, seorang pria berumur 26 tahun yang ditembak mati oleh aparat keamanan Sudan.

“Respons ini awalnya dimulai dari teman dan keluarga korban,” ujar Amal Amir, seorang warga Inggris keturunan Sudan yang ikut serta meramaikan media sosial dengan warna biru. Ia pun melanjutkan, “itu adalah warna favorit (Mattar) dan merupakan foto profil di seluruh akun media sosialnya.”

Siapa Saja yang Berdemonstrasi?

Demonstran di Sudan berasal dari berbagai kalangan. Mayoritas demonstran merupakan anggota organisasi-organisasi pekerja profesional. Tenaga medis, dokter, hingga pengacara turun ke jalan demi perbaikan kondisi pemerintahan mereka. Selain pekerja profesional, demonstrasi ini juga diwarnai kalangan perempuan belia. 

Peran tenaga profesional dalam demonstrasi Sudan memang tidak terelakkan. Di bawah naungan Sudanese Professionals Association (SPA), tenaga-tenaga profesional ini adalah motor utama penggerak demonstran. Sedikit berbeda dengan cerita demonstrasi di negara-negara lain, yang cenderung dinaungi oleh mahasiswa dan/atau politisi oposisi, demonstrasi Sudan berangkat dari keresahan tenaga profesional terhadap peran warga sipil yang semakin dibatasi. Salah satu tenaga profesional yang paling berperan adalah dokter.

"Dokter memiliki peran yang besar sejak dulu, dan hingga kini, dokter memiliki peran yang besar dalam revolusi ini," ujar dr. Mohammed Nagy Al- Asam, salah satu pemimpin pergerakan demonstrasi Sudan.

Respons dari Dunia Internasional

Mayoritas negara-negara Barat dan Afrika mendukung protes yang dilakukan masyarakat Sudan. Amerika Serikat menyebut tindakan pemerintah Sudan sebagai tindakan yang brutal, sedangkan Inggris Raya meminta dewan militer bertanggung jawab penuh atas tindakannya.

Arab Saudi berharap diskusi di antara kedua belah pihak dapat segera kembali dilakukan. Hal ini dirasa penting agar demonstrasi ini tidak menginspirasi masyarakat di negara-negara lainnya.

Related Article