Komika Bintang Emon Kena Serangan Digital, SAFEnet: Saatnya Melawan Balik

Komika Bintang Emon diserang akun anonim tanpa pengikut (akun bot) dan dituduh menggunakan narkotika sabu-sabu setelah mengkritik kasus penyiraman air keras ke Novel Baswedan yang dilakukan secara “tidak sengaja”. Videonya yang tampil di media sosial berkelakar soal penyerangan yang tidak mungkin dilakukan secara tidak sengaja dan ketidakadilan tuntutan hukuman bagi pelaku.

“Katanya nggak sengaja tapi kok bisa kena muka. Kan kita tinggal di bumi, gravitasi pasti ke bawah. Nyiram badan nggak mungkin meleset ke muka. Kecuali pak Novel Baswedan memang jalannya hand stand. Bisa lho protes, ‘Pak hakim, saya niatnya nyiram badan. Cuma gara-gara dia jalannya bertingkah jadi kena ke muka.’ Bisa. Masuk akal. Sekarang tinggal kita cek, yang nggak normal cara jalannya Novel Baswedan atau hukuman buat kasusnya?” ujar Emon.

Setelah video itu beredar, Emon mengatakan lewat akun Twitter-nya bahwa ada yang mencoba memasuki akun email pekerjaannya dan serangan berupa teror kepada keluarganya. Tak lama kemudian, beredar pula cuitan-cuitan dengan tagar #GakSengaja dan #NovelBaswedan yang berkata bahwa “Bintang Emon Akui Pakai Narkoba”, “Emon Ketagihan Sabu-sabu”, dan “Emon mulai gelisah takut dites urin oleh aparat”.

Ini bukan kali pertama tagar dimanfaatkan untuk meredam narasi-narasi kritis terhadap pemerintah. Beberapa waktu lalu, tagar #TagihanPLNOKSaja sempat menjadi trending untuk menandingi protes masyarakat akan melonjak tingginya tagihan PLN semasa pandemi. Tak lama sebelumnya, muncul pula tagar #NadiemMendengar setelah mahasiswa melakukan aksi daring yang memprotes tidak berkurangnya biaya UKT walaupun mereka tak lagi masuk kuliah. Kedua tagar sama-sama mulai dipopulerkan oleh akun-akun bot yang minim atau tanpa pengikut. Bahkan, kampanye #NadiemMendengar diramaikan pula oleh pesan-pesan giveaway berhadiah Rp50ribu untuk dua pemenang.

Alih-alih menjawab kegusaran publik, serbuan bot ataupun akun buzzer ini justru mencoba membungkam protes dan menggantinya dengan narasi pro-pemerintah. Dalam kasus Emon, pembungkaman itu bahkan berbentuk fitnah dan penyerangan terhadap akun pribadinya.

Damar Juniarto selaku Director Executive SAFEnet (Southeast Asia Freedom of Expression Network) mengatakan serangan digital terhadap Bintang Emon ini tidak dapat dibenarkan secara hukum maupun prinsip-prinsip kebebasan berekspresi. “Tindakan tersebut menggunakan akun bot dan aktivitasnya berbasis pada serangan individual trolling, yaitu menghancurkan reputasi dan juga mengganggu seseorang,” jelas Damar kepada Asumsi.co (15/6).

Penyerangan atau teror yang ditujukan kepada Emon beserta keluarganya dapat dijerat dengan Kitab Undang-undang Hukum Pidana maupun Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). “Saya menyarankan Bintang Emon untuk melakukan pelaporan kepada pihak berwajib, bahwa telah terjadi teror berupa serangan digital kepada dirinya dan keluarganya.”

Damar juga menekankan bahwa peristiwa-peristiwa semacam ini telah terjadi sejak tahun 2017, yaitu ketika pilkada dan propaganda hoaks terhadap YLBHI yang berujung pada pengepungan kantornya atas tuduhan menggelar acara berbau komunisme. Intensitas serangan digital ini semakin meningkat sejak 2019 lalu untuk meredam masyarakat yang menolak RUU KPK dan aksi protes #ReformasiDikorupsi.

“Ketika intensitasnya makin meningkat seperti sekarang, maka sudah saatnya semua pihak yang pernah mengalami peretasan dan gangguan serangan digital melakukan upaya melawan balik, yaitu dengan melakukan pelaporan kepada Komnas HAM untuk meminta perlindungan, melaporkan ini ke kepolisian agar ditindak, dan bukan tidak mungkin kita menyuarakan persoalan ini ke dunia internasional.”

Apa Kata Komika Lain?

Komika Adjis Doaibu selaku Ketua Eksekutif Stand Up Indo, komunitas stand-up comedy Indonesia, menyayangkan fitnah yang ditujukan kepada Bintang Emon ini. “Kami masih percaya karya seharusnya dibalas dengan karya. Apa yang dilakukan Emon kemarin itu kan bisa dibilang sebagai sebuah karya juga. Ia merespons sebuah kejadian. Kalau memang mau dibantah, harusnya dibantah dengan hal yang sama. Tapi ternyata dibantahnya malah dengan fitnah,” ujar Adjis kepada Asumsi.co (15/6).

Komedi adalah sarana untuk menyampaikan keresahan ataupun kritik. Bagi Adjis, kasus yang terjadi pada Bintang Emon tak membuat dirinya gentar untuk mengekspresikan pendapatnya. “Kalau masalah takut atau nggak, saya yakin teman-teman [stand-up comedian] nggak pernah takut untuk menyuarakan apapun selama bertanggung jawab. Stand-up itu kan memang berdasarkan keresahan. Kami bukan joke-telling, tapi story-telling. Kami menceritakan apa yang kami rasakan, gitu.”

“Yang tadinya marah, tapi malah jadi pengen ketawa. Kenapa sih sampai kayak gini? Pengennya sih orang yang nge-brief ini ketahuan. Kita pengen ngasih workshop gratis, lah, kok bikin cerita yang mengada-ngada,” lanjut Adjis.

Menurut komika Sakdiyah Ma’ruf, komedi bisa jadi pisau bermata dua. Di satu sisi, komedi bisa jadi sarana olok-olok kelompok minoritas yang dipinggirkan seperti penggunaan black face sebagai wujud rasisme hingga mengejek mahasiswa Papua dengan sebutan monyet.

Namun, di sisi lain, komedi juga bisa jadi sarana perlawanan. “Ini kekuatan komedi sesungguhnya. Berbeda dengan mata pisau pertama di mana komedi melayani kebutuhan narasi kekuasaan dan mayoritas, komedi ini berasal dari suara rakyat,” ujar Sakdiyah kepada Asumsi.co lewat pesan singkat (15/6).

Sakdiyah mencontohkan komika Sarah Cooper di Amerika Serikat yang sehari-harinya membuat video parodi Presiden Donald Trump. Begitu pula komika Dave Chappelle yang menggratiskan konten stand-up comedy-nya untuk membahas kasus George Floyd dan Black Lives Matter. Mengutip George Orwell yang mengatakan bahwa, “kamu nggak benar-benar lucu sampai kamu menyinggung yang berkuasa dan yang angkuh,” Sakdiyah menilai komedi yang sesungguhnya adalah yang menyuarakan suara penderitaan terdalam.

“Karena pada akhirnya comedy is about telling the truth. Komedi sangat efektif untuk perlawanan karena kita nggak bisa mengelak. Dengan Sarah Cooper membuat parodi Donald Trump, misalnya, masyarakat makin sadar tentang apa yang terjadi. Kalau pemerintah geram dan membungkam, lah, marah, kok, sama pelawak? Kan makin kelihatan buruknya.”

Menurut Sakdiyah, maraknya komedi dapat jadi salah satu indikator sehatnya demokrasi dan kebebasan berekspresi di sebuah negara. Pihak yang kena kritik bisa jadi tidak suka dengan apa yang disampaikan, tetapi bukan berarti jalan keluarnya adalah membungkam lewat intimidasi ataupun penangkapan.

Kelompok komedian asal Australia bernama The Chaser, misalnya, pernah melakukan prank kepada pemerintah dan polisi dalam rangka hajatan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC). Mereka menilai anggaran yang dikeluarkan oleh negara untuk pengamanan acara tersebut terlalu berlebihan dan merugikan masyarakat.

The Chaser pun berupaya mengelabui sistem keamanan acara tersebut dengan ikut iring-iringan limosin dan membawa orang yang didandani seperti Osama Bin Laden di dalam kendaraan. Mereka sempat ditangkap selama 2-3 hari karena mengganggu acara, tetapi hasil prank tersebut dibolehkan untuk disiarkan ke publik. The Chaser juga rutin menyiarkan acaranya di stasiun televisi ABC yang anggarannya berasal dari pemerintah.

Menangkap komedian atau siapapun yang mengkritik pihak berkuasa sama saja dengan menyingkap kebobrokan rezim itu sendiri. Seorang kartunis asal Malaysia, Zunar, kerap membuat kartun yang sarat kritik terhadap pemerintahan Malaysia. Ia berulang kali masuk penjara hingga tidak diperbolehkan untuk pergi ke luar negeri. “Ia pernah bercerita ada jaksa penuntut yang mengatakan kenapa dirinya tidak buat kartun Donal Bebek saja. Setelahnya, semua pejabat yang ia kritik dibuat karikatur ala Donal Bebek, Mickey Mouse, dan lain-lain. You see, win-win.

“Satu-satunya cara untuk berdamai dengan komedian adalah dengan menjamin kebebasan berekspresinya. Kalau kebablasan, ada kontrol tersendiri dari penikmat dan masyarakat. Selebihnya, kalau negara ikut campur, itu seperti menepuk air terciprat muka sendiri. Doesn’t look good at all,” ujar Sakdiyah.

Bintang Emon menolak untuk berkomentar terkait kejadian yang menimpanya. Namun, ia masih terkonfirmasi akan hadir dalam sesi webinar "Kuliah Stand Up Comedy" bersama Adjis dan Gilang Bhaskara pada Selasa, 16 Juni 2020. 

Related Article