Aku Bersaksi Tiada JRX selain JRX

Ah, Jerinx. JRX. Dari mana saya harus mulai?

Kamu tahu dia, kan? Iya, yang itu. Seorang pemarah yang punya hobi mengajak orang debat kusir di Twitter. Tentang apa? Waduh, apa saja. Mulai dari esensi menjadi punk, feminisme, reklamasi Teluk Benoa, kebijakan Jokowi, hingga agama istrinya. Jerinx itu lentur, Sat. Semisal kamu punya hot take yang tepat guna dan berani mengungkapkannya di ranah liar dunia maya, hampir dipastikan kamu akan berantem dengan beliau.

Tapi begini: kalau kamu perhatikan betul, argumennya sering benar. Hanya, gayanya yang provokatif membuat perdebatan kerap berakhir dalam kontes umpatan atau ajakan baku hantam. Ketika ia memulai konflik berkepanjangan dengan pedangdut Via Vallen akibat kebiasaan Via menyanyikan lagunya tanpa izin, ia memantik percakapan menarik tentang hak cipta dan performing rights di industri musik lokal. Namun ini Jerinx. Sesuai dugaan, linimasanya lantas dipenuhi adu jotos daring dengan akun-akun Twitter tidak jelas yang menyindirnya karena ia punk tapi ribet soal hak cipta.

Ingat saat ia begitu keras menentang RUU Permusikan? Kritik beruntunnya terhadap Anang Hermansyah, anggota Fraksi X DPR yang memprakarsai RUU tersebut, membuatnya dilaporkan ke polisi. Tanggapan Jerinx? Ia meminta bantuan Raul Lemos, suami mantan istri Anang, Krisdayanti, melalui Twitter. Jenius.

Atau saat ia mengirim kultwit panjang lebar yang ditujukan pada Menteri Perikanan Susi Pudjiastuti? Jerinx melontarkan sindiran pedas pada Susi karena beliau dianggap gagal menentang proyek reklamasi Teluk Benoa, Bali. Ketika Susi memblokir akun salah seorang teman Jerinx yang mendukung argumennya, ia menyebut Menteri tersebut “cupu”. Gagah.

Kehidupan kedua Jerinx sebagai Om-om pemarah di medsos membuat kita mudah lupa bahwa dia adalah penabuh drum jagoan. Superman Is Dead, band yang ia dirikan bersama Bobby Kool, tumbuh dari grup ingusan pencinta Green Day yang bermain di bar-bar sempit Bali menjadi salah satu band punk paling sukses di Indonesia. Ia turut andil dalam lagu-lagu ikonik seperti “Kuta Rock City”, “Jika Kami Bersama”, dan “Sunset di Tanah Anarki”. Bahkan, kamu mungkin tak sadar bahwa mereka baru merilis album yang keren tahun lalu, Tiga Perompak Senja.

Rekam jejaknya di aktivisme dan isu sosial juga mentereng. Bersama banyak aktivis, ia mendorong gerakan Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI) yang gigih menolak reklamasi Teluk Benoa. Ia pun menyumbangkan suaranya untuk isu pelanggaran HAM lain, di antaranya penuntasan kasus Pembantaian '65-66.

Jerinx, Pemberi Kejernihan

Saya termasuk orang yang percaya bahwa kata-kata punya kuasa dan bacot adalah senjata. Memang tak ada pemerintah yang runtuh karena kata-kata, tetapi ucapan dan perdebatan dapat memantik nalar dan mendorong kita untuk membayangkan realitas lain: sebuah semesta paralel di mana dinasti politik tidak ada, korupsi musnah selamanya, dan Fadli Zon sungguh-sungguh pernah membintangi iklan Daia.

Coba tahan gambar itu sejenak. Sedap, kan? Kata-kata mewujudkan Indonesia imajiner itu dalam kepala kita, dan dengan sentakan yang tepat kita akan mulai mendambakan utopia tersebut. Syukur-syukur, bersatu padu untuk memperjuangkannya. Atau paling tidak, kita bisa jadi lebih realistis menghadapi para politikus yang silih berganti menjanjikannya.

Kita tidak diajarkan untuk berpikir seperti ini. Bertahun-tahun lalu, saat masih menjadi pekerja LSM, saya pernah turut serta dalam program yang mengangkat isu demokrasi dan hak asasi manusia ke sekolah menengah atas. Di kantin, seorang murid menghampiri saya. Ia baru mendengar tentang teknologi baru bernama petisi daring, katanya, dan ia ingin tahu apakah ia dapat membuat petisi serupa supaya ruang kelasnya dicat dan meja kelasnya yang sudah reyot diganti.

"Kenapa tidak mengajak OSIS bekerja sama?" kata saya. Murid itu tertawa dan bilang, "Anak OSIS itu keren-keren, Kak, susah diajak ngomong sama kita-kita." Saya tertegun. Bagaimana cara anak-anak SMA ini berdemokrasi kalau anggota OSIS saja dianggap terlalu keren untuk dijangkau? Bagaimana cara mereka mengimajinasikan dunia di mana suara mereka didengar saat guru mereka saja tidak peduli dengan cat kelas yang mengelupas?

Saya teringat pemaparan Saya Sasaki Shiraishi dalam Pahlawan-pahlawan Belia: Keluarga Indonesia dalam Politik. Sejak era Orde Baru, masyarakat Indonesia ditata ulang serupa keluarga Jawa tradisional. Seorang ibu yang berhati lembut dan cakap mengurus rumah, seorang anak yang berprestasi dan tak banyak tingkah, dan seorang bapak yang tegas dan berwibawa. Tak banyak ruang bagi Ibu maupun anak untuk bersuara. Mereka punya tugas moral untuk menuruti kata-kata bapak selaku kepala keluarga.

Dalam perumpamaan ini, sudah tentu negara dan tentara menempati posisi bapak. Perempuan menjadi ibu yang dirumahkan secara paksa, dan rakyat didapuk menjadi anak yang taat. Wahai teman-temanku yang keturunan Jawa: kapan terakhir kali kamu memprotes keras tindakan bapakmu? Bagaimana hasilnya?

Jika hubungan rakyat dengan penguasanya serupa hubungan anak dan bapak dalam keluarga Jawa, kritik hampir mustahil disampaikan secara langsung. Kita kerap mendengar orang berkata bahwa para politikus kita merupakan kerumunan yang cupet dan sesat pikir. Namun, kita tak bisa menyatakannya secara terang-terangan. Mulai dari Warkop DKI hingga Guru Oemar Bakrie dan Provocative Proactive, kita membangun budaya kritik lewat satire dan sindiran halus. Situasinya tak membaik di era UU ITE. Setiap subtweet bisa jadi bom waktu, dan kini musuhnya bukan Babinsa, tapi sesama warga yang saling curiga.

Saya berani bilang bahwa di saat-saat seperti ini, kita justru butuh sosok seperti Jerinx. Melihat orang seperti Jerinx, kita tergoda untuk bertanya apakah ia sungguh-sungguh segila itu, atau semua ini hanyalah konspirasi untuk menarik perhatian massa. Bisa jadi keduanya benar. Jerinx memang sosok yang eksentrik, dan tak dapat dimungkiri ia punya kapabilitas luar biasa untuk menyulut kemarahan. Namun, sembari menonton draft video Pangeran, Mingguan kemarin sore, saya tersenyum melihat betapa mawas dirinya Jerinx terhadap perangainya sendiri. “Hati orang Indonesia bersahabat banget,” tutur Jerinx. “Makanya kita dijajah.”

Ia sadar betul bahwa ucapannya akan menyinggung banyak orang. Namun, Jerinx cenderung menikmati peranannya sebagai provokator. “Kalau kamu belajar psikologi, kamu akan tahu bahwa kita perlu tokoh jahat untuk memantik keingintahuan dan perhatian publik,” lanjut Jerinx. “Saya mencoba jadi bad cop di sana.”

Kita tak selalu mengakuinya, tapi terkadang kita perlu disentak keluar dari cekikan tata krama. Kenyataannya begini, tidak begitu. Musuhnya A, sebut namanya, tak usah disindir. Kita sama-sama tahu, tapi kita tidak berani bersuara. Saya cuma penulis yang gampang terkena diare dan kamu cuma mahasiswa, apa mungkin kita menyebut nama konglomerat yang menggalang reklamasi Benoa? Tetapi Jerinx berani. Ia tegak sendirian, sampai suara yang selama ini diam-diam setuju berkumpul dan mengangkatnya sebagai ikon. Kemudian kamu sadar, bukan cuma kamu yang berpikir demikian. Kamu tak perlu gentar bersuara dan menampakkan diri. Tiap kali ForBALI mengumumkan aksi, ribuan orang turun ke jalan. Itu bukan angka yang patut disepelekan.

Tidak ada yang elegan dari aksinya. Adakalanya Jerinx seperti ayam jago yang mematuk ke sana kemari, sementara kita menyaksikan dengan ngeri ibarat memandangi bocah baru sunat yang kelewat pecicilan. Tak hanya mengkonfrontasi politikus dengan rekam jejak buruk, ia juga hobi mengajak ribut siapa saja yang menantangnya di Twitter. Tutur katanya kasar, argumennya kadang tak koheren. Ia tak bakal menawan hati para intelektual kota besar yang hendak mendiskusikan masalah-masalah bangsa secara sopan, beradab, dan dingin.

Jerinx paham betul soal ini. Kepada Pangeran Siahaan, ia menerangkan bahwa penggemarnya bukanlah para SJW urban yang woke dan intelektual. Ia berbicara pada orang-orang kelas pekerja yang datang dari kampung kota dan pelosok, orang-orang yang secara langsung terdampak oleh kebijakan seperti reklamasi dan penggusuran. Baginya, cara ini lebih efektif untuk menjangkau mereka. Dari sana, akan hadir adu argumen yang dapat berujung pada kesimpulan cerdas.

Saya pernah melihat kelakar Jerinx ini terbukti. Beberapa tahun silam, ia tampil di pentas untuk penyintas Pembantaian '65 dan berbagi panggung dengan Paduan Suara Dialita. Auditorium mentereng di Jakarta Pusat tersebut disesaki para Outsiders dan Lady Rose–julukan penggemar Superman Is Dead–yang meniru gaya fesyen rockabilly khas Jerinx. Kerumunan kelas pekerja resah ini tak biasa terlihat di lokasi elit tersebut, apalagi di acara HAM yang menjemukan. Namun, mereka datang dan duduk rapi. Atas komando Jerinx, mereka mendengarkan kesaksian para penyintas '65 dengan khidmat.

Kita Butuh Provokasi

Kamu boleh tertawa, tapi saya sempat melihat bakat provokator ini di sosok Young Lex. Saya tidak asal bicara. Tiga tahun lalu, saya berkesempatan mewawancarainya secara langsung. Ia baru saja melepas video klip lagu “Bad” bersama Awkarin, dan sedang berada di puncak ketenaran. Young Lex menjadi magnet kebencian, dan ia menikmatinya.

Seperti Jerinx, Young Lex punya dua sisi yang menarik. Bisa jadi ia sekadar garong jalanan yang susah diatur. Namun, ia pun paham betul dampak kata-katanya ke publik. Personanya adalah hasil perhitungan yang hati-hati. Mirip Jerinx, ia tahu bahwa audiensnya adalah musisi jalanan dan bocah tanggung di kota-kota kecil. “Gue pengin jadi suara mereka,” tuturnya kala itu. Ia kemudian melancarkan racauan panjang tentang betapa musisi hip hop lokal itu bias kelas dan memaparkan rencananya untuk menjadi pahlawan hip hop kelas pekerja.

Tak lama kemudian, ia merilis lagu tentang pengalamannya bekerja sebagai office boy. Namun, ketika lagu tersebut tak setenar hits-nya yang lain, ia ciut. Young Lex tak bertahan pada rencananya untuk pelan-pelan menyingkapkan kesadaran kelas, atau paling tidak bercerita dengan gamblang tentang latar belakangnya sebagai kelas pekerja. Ia kembali menkonstruksi tubir-tubir medsos yang sepele dan merilis diss track mahaburuk. Waktu mengungkapkan motifnya yang sempat saya duga sejak awal. Ia tak punya motivasi selain membesarkan namanya sendiri.

Apakah Jerinx punya kecenderungan serupa? Entahlah. Yang jelas, ia paham bagaimana cara menarik perhatian publik, lantas menggunakan ketenarannya untuk mengalihkan perhatian itu ke isu-isu yang menurutnya penting. Reklamasi, hak cipta, pelanggaran HAM, relasi antaragama. Bisa jadi ia orang yang narsistik dan menyebalkan. Namun, ia punya kesadaran terhadap isu-isu sosial, atau paling tidak dikelilingi orang-orang yang berkesadaran.

Sekali waktu, komedian Frankie Boyle pernah mengatakan bahwa selalu ada ruang untuk lelucon yang menyinggung. Sebab, seringkali pemikiran kita serupa tapi kita tak pernah mengutarakannya. “Melalui komedi, kita memberi izin bagi sebagian orang untuk melangkah sedikit lebih jauh dan melihat apa yang ada di ujung sana,” ucap Boyle. “Barangkali yang ada di sana penting, menarik, atau paling tidak menghibur.”

Kita membutuhkan Jerinx sebagaimana setiap pasangan perlu cekcok sesekali, dan komedian mana pun perlu setidaknya satu lelucon kasar dalam repertoarnya. Kehadirannya menumpas kecenderungan kita berbasa-basi dan memaksa kita berdiskusi secara terbuka tentang isu yang sungguh-sungguh penting.

Jika ada lebih dari satu Jerinx, mungkin Indonesia akan lumpuh akibat migrain kolektif. Kita cuma butuh satu. Jerinx adalah orang gila yang meneriakkan nama Tuhan di pinggir jalan. Jerinx adalah playmaker tak konsisten yang menyuntikkan sihir pada tim sepak bola. Jerinx adalah joged norak Thom Yorke dan gitar rombeng B.B King. Jerinx adalah Dimitar Berbatov, Mario Balotelli, Rochy Putiray.

Jerinx adalah saya dan kamu. Jerinx adalah kita sekaligus mereka. Jerinx memancar, meliputi, melampaui.

Related Article