post

Current Affairs

Kisah Agustinus Wibowo Traveling Selepas Lockdown

Ramadhan, 28 Mei 2020

Rasanya sulit untuk tetap menjaga kewarasan saat ruang gerak terpaksa dibatasi selama pandemi. Masa selepas lockdown atau pembatasan sosial berskala besar tentu dinanti banyak orang. Mereka akan bepergian dan melepas belenggu yang telah berbulan-bulan mengekang.

COVID-19 bukanlah satu-satunya pandemi yang terjadi di zaman kita. Bila merujuk pandemi SARS, harapan bahwa hidup akan berjalan seperti biasa di masa depan bukanlah harapan kosong.

Pada musim semi tahun 2003, kota Beijing menjadi episentrum penyebaran SARS, yang menular lewat udara dan menyebabkan radang paru-paru. Penyakit ini sangat mematikan. Pada waktu itu, Agustinus Wibowo, seorang penulis perjalanan asal Indonesia, hidup dan tinggal di sana.

Baca Juga: Manusia VS Pandemi, dari Masa ke Masa

Wabah SARS membuat pemerintah Beijing mengambil kebijakan isolasi kota atau lockdown. Kebijakan itu membuat perpindahan antar-kota dan antar-provinsi dihentikan total, dan para pendatang dari kota lain harus dikarantina selama dua minggu.

Penduduk setempat dilarang meninggalkan kompleks perumahan masing-masing. Transportasi publik ditiadakan. Kantor dan toko berhenti beroperasi, kendaraan tidak boleh lalu-lalang di jalanan, serta sekolah dan universitas ditutup. Beijing menjadi kota mati.

Penerapan lockdown itu menggunakan sistem klaster. Orang yang tinggal di lingkungan sekolah atau mahasiswa yang tinggal di asrama tidak boleh keluar atau melewati tembok sekolah. Sementara yang tinggal di luar, seperti Agustinus yang tinggal di apartemen, tidak bisa ke kampus.

Agustinus mengaku bahwa hidup dalam karantina selama berminggu-minggu sangatlah menyiksa. Namun, pada musim panas 2003, selang beberapa bulan sejak SARS merebak, pemerintah Cina mengumumkan bahwa lockdown akhirnya selesai karena tak ada lagi kasus baru.

Dari situ, Agustinus memahami bahwa kebijakan isolasi sangat ketat yang diterapkan oleh pemerintah Cina memang efektif untuk menghentikan wabah penyakit baru yang mematikan itu. Selepas wabah dan tak ada lagi lockdown, ia memutuskan untuk bepergian ke Pakistan.

Perjalanan 72 Jam Setelah Lockdown

Agustinus berkemas. Rencana bepergian memang sudah lama mendekam di kepalanya, terutama saat ia mengalami lockdown. Penulis buku Selimut Debu, Garis Batas, dan Titik Nol itu memilih bertualang lewat jalur darat. Dari Beijing, ia ke Urumqi, lalu melanjutkan perjalanan ke kota perbatasan Kashgar di Xinjiang Uighur. Setelah itu, ia melintasi perbatasan Cina dan Pakistan.

Baca Juga: Kata Sains, Pandemi yang Lebih Parah Akan Datang jika Kerusakan Alam Terus Terjadi

Kata Agustinus, perjalanan dari Beijing ke Urumqi nonstop dan memakan waktu sekitar 42 jam. Sementara itu, dari Urumqi ke Kashgar menghabiskan waktu selama 30 jam.

“Perjalanannya sekitar lima hari, jauh banget, memang. Seperti Jakarta ke Papualah ya jaraknya, sekitar 3.700 km,” kata Agustinus saat bercerita kepada Asumsi.co, Kamis (28/05/20).

“Tahun 2003 di Beijing, buat kami udah sangat serem banget karena peringatannya, ‘Oh kalau sudah kena [penyakit] itu pasti mati’. Kebijakan lockdown Cina saat itu membuat orang dari luar nggak bisa masuk dan orang dari dalam nggak bisa keluar tanpa izin khusus.”

Semasa lockdown, negara-negara tetangga Cina seperti Kazakhstan, Kyrgistan, Pakistan, Korea Utara, dan Rusia menutup perbatasan, sehingga orang-orang Cina tidak bisa keluar. Ketika perbatasan dibuka, Agustinus menumpang kendaraan pertama ke Pakistan.

“Isinya orang-orang Pakistan yang sudah lama terkurung di Cina, terus para pekerja Cina yang mau bikin proyek di Pakistan. Jadi satu bus itu mayoritas pekerja Cina, ada beberapa pebisnis Pakistan yang terjebak, dan kayaknya hanya saya sendiri turis yang ada di situ.”

"New Normal" di Era Wabah SARS

Agustinus mengingat fase kelaziman baru (new normal) yang harus dijalaninya selepas wabah SARS itu. “Ketika kereta saya sudah mau sampai di Urumqi, waktu diukur suhu tubuh saya tinggi, sekitar 38 derajat celcius. Mungkin efek kecapean juga selama berpuluh-puluh jam duduk di dalam kereta. Nah, kata dokternya sih kalau suhu tubuh saya nggak turun ke 37 derajat celcius, saya bisa dikarantina.”

Meski suhu tubuhnya tinggi, dokter menyebut Agustinus tak mungkin terinfeksi SARS. Namun, SARS atau bukan, orang dengan suhu tubuh tinggi wajib masuk karantina.

Baca Juga: COVID-19 Bisa Jadi Penyakit Endemik, dan Itu Kabar Baik

Agustinus ingat dokter menyarankannya untuk minum air mineral tiga liter supaya panas tubuhnya turun. Ketegangan tak hentinya menyerang, sampai akhirnya suhu tubuhnya turun dan ia bisa turun bebas dari kereta ke tempat tujuan tanpa karantina.

Agustinus mengaku memang beberapa kali mengalami kondisi tubuh yang kurang stabil, panas naik turun, sehingga kerap mendapat perhatian petugas pemeriksa atau dokter. Saat perjalanan naik bus selama dua hari dua malam dari Kasghar ke Pakistan, melewati wilayah pegunungan yang tingginya sekitar 4.000 meter di atas permukaan laut, situasi tak mengenakkan pun kembali terjadi.

“Kalau ada orang yang berasal dari dataran rendah tiba-tiba masuk ke wilayah dataran tinggi, itu juga kan nggak bisa adaptasi dengan cepat, kondisi tubuhnya pun nggak stabil.”

Begitu masuk Pakistan, ada dokter lain yang mengukur suhu tubuh Agustinus. Hasilnya 38 derajat celcius lagi. Setelah mengukur suhu, dokter Pakistan itu pun menanyakan asal usulnya.

“Saya bilang dari Indonesia. Nah, tiba-tiba dokter Pakistan ini malah langsung memeluk saya. Saya dirangkul dan dicium. Dokter itu bilang ‘Wah kamu saudara muslimku, nggak akan menularkan penyakit’. Padahal, dokter itu nggak tau bahwa saya tinggal di wilayah episentrum wabah SARS di Beijing.”

Dari perbedaan respons antara dokter Cina dan Pakistan, Agustinus pun melihat adanya perbedaan kultur yang sangat jelas. Menurutnya, dokter di Cina, semuanya memakai APD lengkap dan sangat serius menangani wabah SARS. Sedangkan dokter di Pakistan biasa-biasa saja, hanya mengenakan baju lengan pendek dan kaca mata seadanya.

“Jadi kita bisa melihat komparasi dua budaya yang berbeda, yang mana Cina sangat menekankan sains, karena memang agama di sana juga bukan menjadi hal yang dominan. Solusi mereka kalau ada wabah penyakit pun selalu direspons dengan sains, dilengkapi lockdown, pemeriksaan ketat. Tentu itu sudah merupakan bagian dari etos kerja mereka sejak dulu,” kata Agustinus.

“Sedangkan negara tetangga mereka, Pakistan, okelah mereka juga memblokir perbatasan. Tetapi konsep bahwa ini penyakit menular, yang berbahaya, yang bisa ditularkan oleh orang yang seagama sekalipun, itu nggak ada di pikiran mereka.”

Agustinus belajar banyak dari wabah SARS yang pernah dialaminya. Di tengah pandemi COVID-19, Agustinus yang saat ini berada di Jakarta, merasa sudah terbiasa dengan situasi pembatasan-pembatasan oleh pemerintah.

“Saya masih belum tahu tentang rencana perjalanan setelah pandemi, mengingat dunia perjalanan belum tentu akan segera normal dalam waktu dekat ini. Negara-negara mungkin tidak akan langsung membuka pintu, dan masih membutuhkan proses karantina bagi pengunjung asing yang masuk. Jadi sementara, wait and see dulu, di samping itu, saya sedang menyiapkan buku baru, jadi sementara tidak bisa traveling saya fokus dulu ke pengerjaan buku.”