Kimilsungia dan Hubungan Mesra Indonesia dengan Korea Utara

Korea Utara punya riwayat hubungan yang mesra dengan Indonesia di masa lampau. Seperti dimuat laman Kementerian Luar Negeri RI, hubungan diplomatik Indonesia dan Korea Utara dimulai pada 17 Juni 1961, yang ditandai dengan pertukaran nota pembukaan kantor konsuler. Pada tahun-tahun itu, Presiden Sukarno menjalin hubungan baik dengan negara-negara Blok Timur seperti Uni Soviet dan Cina.

Indonesia membuka kantor urusan kekonsuleran di Pyongyang, ibu kota Korea Utara, pada 30 Desember 1961. Kurang dari tiga tahun, kantor itu naik tingkat menjadi Konsulat Jenderal, dipimpin oleh Sufri Yusuf.

Presiden Sukarno sendiri mengunjungi Pyongyang pada 1–4 November 1964 dalam upayanya memperkuat hubungan bilateral kedua negara dan mengikat persahabatan dengan negara-negara Asia dan Afrika. Pada masa itu, Indonesia gencar mengajak banyak negara Asia dan Afrika untuk membentuk kekuatan baru guna melawan kolonialisme dan dominasi negara-negara Barat.

Pada Desember 1965, perwakilan Indonesia di Pyongyang menjadi Kedutaan Besar dengan duta besar pertama Raden Ahem Erningpradja, menjabat hingga 1968.

Setelah kunjungan Sukarno ke Pyongyang pada akhir 1964, Presiden Kim Il-sung melakukan kunjungan balasan ke Indonesia pada 10-20 April 1965 untuk menghadiri konferensi Gerakan Non Blok. Dalam kunjungan ini, Kim Il-sung didampingi oleh putranya Kim Jong-il. Kala itu, Indonesia merupakan satu-satunya negara yang dikunjungi oleh dua pemimpin besar Korut secara bersamaan. 

Presiden Sukarno mengajak Presiden Kim Il-sung beserta rombongan berkeliling di Kebun Raya Bogor. Kim Il-sung, yang dijuluki "Matahari Abadi" oleh rakyatnya, mengagumi bunga anggrek berwarna ungu hasil penyilangan C.L. Bundt, botanis keturunan Jerman yang memiliki laboratorium penyilangan di Makassar.

Bundt menamai bunga cantik tersebut dengan nama anaknya, Dendrobium Clara Bunt, dan mendaftarkannya ke Royal Horticultural Society pada 1964. Sukarno menghadiahkan bunga anggrek tersebut kepada Kim Il-sung dan memberinya nama baru Kimilsungia, perpaduan nama Kim Il-sung dan Indonesia.
Kimilsungia menyebar luas di Korea Utara pada akhir 1970-an dengan budidaya besar-besaran oleh para botanis yang disokong pemerintah.

Kimilsungia mekar dua kali setahun dan bisa menghasilkan enam hingga tujuh kuntum bunga pada setiap tangkainya. Pada 1982, putra Sukarno, Guntur Sukarnoputra, mendaftarkan Kimilsungia ke Royal Holiticultural Society dengan nama Dendrobium Kimilsungia.

Bunga inilah simbol persahabatan Indonesia dan Korut. Menariknya, setiap April, kota Pyongyang mengadakan festival bunga Kimilsungia dan Kimjongilia (yang dikembangkan botanis Jepang dan diserahkan kepada Kim Jong-il, anak Kim Il-sung, pada 1988), untuk merayakan kelahiran Kim Il-sung pada 15 April. 

Festival besar ini berlangsung sejak 1999, dan delegasi Indonesia selalu mendapat tempat sebagai tamu kehormatan. Sebagai bentuk apresiasi, pada 2011, pemerintah Korea Utara meresmikan monumen peringatan 46 tahun penyerahan bunga Kimilsungia di Rumah Anggrek Kebun Raya Bogor.

Bunga Kimilsungia juga diberi gelar "immortal flower;" bunga abadi (bahasa Korea: Bulmyoran kot), yang melambangkan wibawa sang pemimpin besar.

“Hubungan Indonesia dengan Korea Utara tidak pernah terputus, ya, orang sama-sama tahu kalau Bung Karno dengan Kim Il-sung punya hubungan yang sangat baik dan dekat,” kata pengamat hubungan internasional dari UIN Jakarta, Teguh Santosa, saat dihubungi Asumsi.co, Selasa (28/04/20).

Teguh menyatakan bahwa hubungan Indonesia dengan Korut sempat dingin di era Orde Baru yang antikomunis. Pada 1982, Presiden Jenderal Suharto enggan berkunjung ke Pyongyang dan mengutus Menteri Luar Negeri Adam Malik untuk bertemu Kim Il-sung. Bahkan, warga Indonesia yang sejak 1960 tinggal di sana, Gatot Wilotikto, tak bisa pulang setelah 1965.

Meski begitu, Korut tetap punya kantor kedutaan besar di Jakarta selama Orde Baru dan setelahnya.

Jenderal Suharto jelas tak ingin dianggap dekat dengan negara-negara sosialis. Pada 1987, Wapres Soedharmono dan Menlu Muchtar Kusumaatmadja mengunjungi Pyongyang untuk bertemu Kim Il-sung dalam rangka menghormati sahabat lama.

“Setelah Suharto tumbang, hubungan kedua negara mulai menghangat. Tahun 2001, Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea Utara didirikan. Tapi memang tahun 2001 itu kan lanskap politik dunia sudah berubah,” kata Teguh.

Perubahan konstelasi global tentu berpengaruh terhadap arah politik nasional Indonesia. Pada 28-30 Maret 2002, Presiden Megawati Sukarnoputri berkunjung ke Pyongyang dan saat itu disambut Presiden Presidium Majelis Rakyat Tertinggi Kim Yong-nam. 

Megawati juga sempat bertemu dengan Kim Jong-il pada 29 Maret 2002. Setelah itu, hubungan Indonesia dengan Korut terus berlanjut hingga ke era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo.

“Sampai sekarang, hubungan Indonesia dengan Korea Utara masih oke, masih baik. Indonesia juga tentu ikut common sense aja. Misalnya baru-baru ini juga Indonesia lewat Menlu Retno Marsudi, waktu acara Asian Regional Forum di Filipina, mengkritik uji coba senjata Korea Utara. Tapi, secara umum hubungan tetap baik ya, hubungan normal,” kata Teguh.

“Tapi jangan salah, Kedutaan Besar Indonesia di Korea Utara nggak pernah ditutup. Kedua negara sama-sama menjaga hubungan, sehingga nyaris nggak ada masalah yang serius dihadapi keduanya. Apalagi Indonesia juga lebih dulu menjalin hubungan dengan Korea Utara dibandingkan dengan Korea Selatan,” ujarnya lagi. Sekadar informasi, hubungan diplomatik Indonesia dengan Korsel baru terjalin pada 1973.

Related Article