Kiat Sukses Isolasi Diri Akibat COVID-19

Ingat, dunia belum berakhir. Tapi bayangkan skenario berikut: setelah menunjukkan gejala serupa flu, kamu parno soal COVID-19 dan memutuskan untuk iseng memeriksakan diri ke rumah sakit. Sekian jam kemudian, dokter menghampirimu dengan wajah serius dan memintamu mengisolasi diri selama 14 hari untuk mengurangi risiko tertular COVID-19. Kamu kalut, bingung, dan garuk-garuk kepala. Isolasi kayak gimana?

Selamat, kawan, nasib kita sama. Setelah melancong ke RS kemarin (12/3), saya diminta untuk menepi di rumah selama 14 hari selagi status saya dipantau oleh petugas kesehatan. Penyebabnya, gedung tempat saya bekerja banyak dihuni eksmud-eksmud yang giat bepergian ke luar negeri, termasuk negara-negara yang positif COVID-19. Supaya main aman, saya diminta mengisolir diri.

Menurut dokumen edukasi pemantauan pasien yang dilepas RS Pelni beserta Dinas Kesehatan DKI Jakarta, seseorang masuk pemantauan bila menunjukkan gejala seperti demam, flu, lemas, sesak napas, batuk, dan sakit tenggorokan. Atau, bila pernah berkunjung ke negara terjangkit dalam 14 hari terakhir. 

Dokumen serupa dari Public Health Office Inggris menetapkan bahwa semua orang yang menunjukkan gejala serupa flu wajib mengisolir diri selama setidaknya 7 hari. Sementara, semua orang yang pernah “kontak jarak dekat” dengan orang positif COVID-19 diminta mengisolir diri selama setidaknya 14 hari. Bila kamu pernah menghabiskan waktu lebih dari 15 menit dengan jarak lebih dekat dari 2 meter, atau berhadap-hadapan dengan pasien positif COVID-19, kamu wajib isolasi diri.

Namun, apa yang dimaksud dengan mengisolir diri?

Pada hakikatnya, kawan, kamu mesti bertapa. Isolasi diri berarti membatasi sebisa mungkin kontakmu dengan dunia luar. Kamu wajib untuk tetap tinggal di rumah, sebaiknya di ruangan dengan ventilasi yang baik serta berjarak dengan anggota keluarga lain. Kamu tidak diperbolehkan untuk pergi ke kantor, sekolah, taman, panti pijat, restoran Korea, atau tempat umum apapun. Selain itu, kamu tidak boleh menggunakan transportasi umum atau taksi.

Semua itu terdengar ngeri. Namun, menurut Julii Brainard dan Paul Hunter, pakar ketahanan terhadap penyakit menular di World Health Organization (WHO), kehidupanmu tak harus berhenti seratus persen. Pergerakan dan interaksimu dengan orang lain memang harus dibatasi, tetapi semua itu bisa diatasi apabila kamu mampu bersiasat dan tektokan dengan orang di sekitarmu.

Semisal kamu tinggal bersama orang lain, amat disarankan agar pasien yang sedang mengisolir diri memakai masker saat berinteraksi. Sejauh ini, orang yang tidak disuruh mengisolir diri diperbolehkan untuk keluar rumah dan menjalani hidup seperti biasa, walaupun kawan serumah mereka sedang dalam pantauan. Jadi, tenang saja.

Namun, minta tolong lah pada orang lain untuk kegiatan yang membutuhkan interaksi langsung. Kalau kamu punya hewan peliharaan seperti anjing, minta orang lain untuk mengajak anjing tersebut jalan-jalan, lalu wajibkan orang itu mencuci tangan. Kalau kamu dapat kiriman makanan dari ojek daring atau belanjaan, minta tukang ojek tersebut taruh makanannya di teras saja. Jangan keluar rumah lalu ambil langsung dari dia. Kalau kamu punya anak, adik, atau keponakan yang harus diantar-jemput ke sekolah, sebisa mungkin minta bantuan orang lain.

Catatan penting: tak semua orang punya akses terhadap bantuan semacam ini. Semisal kamu sehat-sehat saja, tanyakan tetanggamu yang orang tua tunggal, lansia, atau penyandang disabilitas. Apakah mereka menunjukkan gejala flu dan perlu mengisolir diri? Bila iya, apakah mereka perlu bantuan kamu untuk membelikan belanjaan dari tukang sayur, mengajak anjingnya jalan-jalan, mengantar anaknya ke bimbel, atau lain sebagainya? Bila kamu berkenan, tindakan baik kecil semacam ini saja bisa berpengaruh luar biasa untuk hidup orang lain, lho.

Terpenting, empat belas hari terisolir bukan perkara gampang. Untuk orang seperti saya, seharian tidak ngapa-ngapain di kamar kos saja sudah cukup untuk bikin resah. Lakukan langkah apapun yang menurutmu baik untuk menjaga kesehatan mentalmu. Meditasi, berdoa, sembahyang, tumpuk buku-buku favorit di sebelah kasur, bikin playlist menghadapi wabah, perpanjang langganan Netflix kamu.

Selain itu, senjata paling ampuh untuk menghajar COVID-19 adalah imunitas tubuh. Serius, soalnya belum ada vaksin yang ditemukan sampai sekarang. Penyakit ini beneran bisa reda apabila ketahanan tubuh kita baik. Maka jaga pola makan yang sehat, olahraga secukupnya, dan tenang. Jangan panik. Panik dan tekanan mental akan membuatmu stres, dan stres akan membuat imunitasmu turun. Tidak bagus, kan?

Terakhir, pergunakan teknologi untuk mempercerah hidupmu. Pastikan kamu memiliki paket data yang melimpah. Koleksi segudang meme kesukaan dan sebarkan ke kawan-kawanmu. Tonton video dokumenter yang sudah kamu bookmark sejak zaman Gerard Way masih kurus. Telepon temanmu, suntikkan dirimu dengan kebahagiaan. Telepon pacarmu, gebetanmu, mantanmu, kalau perlu secara bersamaan pakai video conference call. Toh, isolasi diri berarti terisolir secara fisik. Bukan berarti kamu dikucilkan secara batin dan sosial.

Sekali lagi: dunia belum berakhir. Kita cuma sedang mengarungi satu lagi plot twist mendebarkan dalam tahun yang penuh perjuangan ini. Maka tutup pintu rapat-rapat, mainkan musik keras-keras, dan berdansalah dengan riang. Seperti kata The Safari, inilah saatnya kita disko di rumah.

Related Article