Kiamat Itu Seperti Apa, sih?

Musibah mengintai dari segala penjuru. Mulai dari ancaman perang nuklir hingga kerentanan ekonomi, pekan pertama tahun 2020 disemarakkan pelbagai peristiwa yang boleh jadi merupakan pertanda kiamat. Sudah tentu, Asumsi.co telah mengantisipasi segala kemungkinan ini. Kami tak hanya berlapang dada menerima kehancuran. Kami menyambutnya dengan girang.

Namun, kami sadar bahwa dunia ini tangguh dan keras kepala. Manusia telah menyintas dari segala marabahaya, muncul sebagai predator apeks, dan menjadikan diri pusat dunia. Polah seorang presiden berwarna oranye atau kemunculan bakteri super agaknya tak akan cukup untuk menyudahi peradaban dan kehidupan kita. Dengan kata lain: kehancuran total boleh saja datang, tapi penderitaan belum akan berakhir.

Mengampu semangat akhir zaman ini, kami mempersembahkan tiga skenario kiamat yang mungkin saja benar-benar terjadi.

Pandemik Virus Super

Sebagaimana manusia terus beradaptasi terhadap perubahan zaman, virus dan bakteri pun bermutasi untuk menyesuaikan diri dengan gempuran yang hendak menghabisinya. Dan sikap takabur manusia turut berkontribusi dalam persoalan tersebut. Pada 2013, sekumpulan ilmuwan dari Amerika Serikat dan Belanda mengutak-atik virus H5N1 untuk mempelajari bagaimana virus itu bermutasi. Mereka mengujikannya pada sekumpulan musang, hewan yang kerap digunakan untuk uji coba laboratorium. Hasilnya, virus H5N1 pun bermutasi. Virus yang sewajarnya tersebar melalui sentuhan tersebut kini dapat menular melalui udara. Kontan, ilmuwan seantero bumi pun panik sebab mereka tak sengaja menciptakan virus super.

Menurut Peter Katona, periset UCLA yang dikutip Discover Magazine, satu jenis virus saja tidak akan mendadak sontak “menghabisi semua makhluk hidup”. Supaya itu dapat terjadi, virus tersebut mesti menjangkiti semua makhluk hidup di bumi secara bersamaan, dan membunuh dalam tempo kurang dari sepekan. Bila tidak, sistem imun tubuh akan punya waktu untuk menyerang balik. Meskipun miliaran makhluk hidup mati, masih akan ada yang tersisa.

Persoalannya, mekanisme alamiah tersebut dapat diperparah oleh kondisi dunia saat ini. Faktor seperti konflik, kolapsnya sistem penyediaan layanan kesehatan, dan kurangnya akses terhadap air bersih dan sanitasi layak memudahkan persebaran penyakit menular. Seperti dilaporkan The New Humanitarian, tahun lalu wabah cacar memporak-porandakan negara-negara konflik seperti Angola, Kamerun, Ukraina, dan Nigeria.

Lebih parah lagi, persebaran informasi ngawur dan ketidakpercayaan pihak-pihak tertentu terhadap pekerja medis serta pekerja sosial asing berujung pada konflik. Di Kongo, hoaks tentang virus ebola membuat kamp-kamp imunisasi diserang milisi. Di Pakistan, tim vaksin polio diserang. Kondisi perang memperburuk keadaan. Di Palestina, Libya, Irak, dan Suriah, fasilitas kesehatan serta para pekerjanya tidak luput dari kekerasan.

Kita mulai melihat dampaknya. Tahun lalu, tersiar laporan bahwa warga yang mengalami luka dan penyakit akibat perang di Irak tak mempan saat diobati dengan antibiotik. Akar masalahnya terkait langsung dengan konflik di sana. Pemerintah kolaps, dan penjualan obat-obatan di pasar gelap melenggang bebas--terutama obat antibiotik yang digunakan untuk melawan demam dan luka-luka. Karena banyak warga Irak terlalu sering mengkonsumsi antibiotik di tengah situasi ricuh ini, sekarang bakteri dan virus di sana telah bermutasi.

Peristiwa di Irak ini adalah riak kecil di samudra luas. Apabila konflik global sungguh-sungguh pecah, kita tak dapat memperkirakan dampaknya terhadap mutasi-mutasi virus lainnya.

Barangkali virus-virus ini akan menghancurkan peradaban kita secara perlahan. Satu per satu, tiap makhluk hidup akan mati. Burung akan berjatuhan dari angkasa, pepohonan akan kisut dan mati, kerbau terkapar di pematang sawah dan samudra ditutupi bangkai ikan. Demi masa, sesungguhnyalah kita merugi.

Bersetubuh Dengan Mesin

Suatu hari nanti, manusia akan berfusi dengan mesin dan kecerdasan buatan (AI), dan segalanya akan ambyar. Ini bukan basian plot Terminator atau sekadar produk imajinasi lincah. Prediksi tersebut diutarakan oleh Ray Kurzweil, seorang futuris yang kini menjabat sebagai Director of Engineering di Google.

Melalui bukunya The Singularity is Near: When Humans Transcend Biology, Kurzweil menyatakan bahwa dalam waktu dekat peradaban kita akan menghadapi masa “singularitas”. Pada saat tersebut, kecerdasan mesin akan menyamai--bahkan melampaui--kecerdasan manusia, sehingga tak ada gunanya memperlakukan kedua hal tersebut sebagai entitas terpisah. Guna mempercepat kemajuan teknologi dan kehidupan, manusia dan mesin harus bergabung. Dan apabila kesadaran dan pikiran manusia dapat dipindahkan ke komputer, tentu kematian jadi konsep yang sia-sia.

Dalam Konferensi SXSW 2017 di Austin, Amerika Serikat, Kurzweil memprediksi bahwa pada tahun 2029 AI akan lolos tes Turing dan mencapai tingkat kecerdasan setara manusia. Singularitas diprediksi akan terjadi pada tahun 2045. Prediksi ini tak banyak berbeda dari futuris lainnya seperti Masayoshi Son dari Softbank, yang memperkirakan bahwa manusia akan bersatu dengan mesin pada tahun 2047.

Kurzweil dan rekan sejawatnya memandang peristiwa tersebut sebagai momentum positif. Dengan meleburkan diri pada teknologi, kita dapat berevolusi menjadi manusia baru yang lebih maju. “Kapasitas neokorteks kita akan bertambah, kita akan jadi lebih lucu, kita akan lebih jago bermusik, kita akan lebih seksi.” Ucap Kurzweil. “Kita akan meningkatkan semua faktor yang kita anggap baik pada diri manusia.”

Namun, seperti biasa, budaya populer telah memberi cuplikan apa yang akan terjadi setelah singularitas. Altered Carbon, serial di Netflix, mengisahkan dunia di mana kesadaran dan jiwa manusia dapat diunggah ke sebuah microchip yang dapat dipindah-pindahkan dari satu tubuh inang ke tubuh inang lainnya. Hasilnya bukan masyarakat yang egaliter, maju, dan gagah perkasa. Teknologi tersebut dihargai mahal sehingga masyarakat kelas menengah dan bawah hanya mampu berpindah inang 3-4 kali sebelum chipnya dimatikan selamanya, sementara segelintir superkaya berpindah inang sesuka hati dan dapat hidup ratusan, bahkan ribuan tahun.

Merujuk serial tersebut, kondisi ini menjadi ladang basah untuk instabilitas sosial politik. Masyarakat yang muak dengan monopoli para kaya atas microchip tersebut membangkang terhadap pemerintah, memulai perang sipil mahadahsyat yang menghanguskan separuh planet. Saya tidak punya proyeksi positif bila perang antar-cyborg terjadi di kehidupan nyata. Kita akan saling bunuh, dan kemanusiaan yang telah berjaya selama ratusan ribu tahun akan musnah bersama-sama.

Hadiah Dari Langit dan Bumi

Akankah asteroid menghantam bumi atau gunung berapi raksasa meletus secara tiba-tiba? Jawaban sederhananya adalah iya. Kita cuma tidak tahu kapan.

Mari berbicara tentang asteroid. Sejauh ini, NASA yakin bahwa tidak ada asteroid yang akan menghajar planet kita dalam waktu dekat dan punya kapabilitas untuk membumihanguskan seluruh peradaban. Namun, asteroid berukuran 50 meter yang cukup untuk meratakan satu kota menabrak bumi setiap beberapa ratus tahun, dan hampir semuanya tak tercatat.

Menurut ilmuwan Jay Melosh seperti dikutip WIRED, bumi kita aman dari serangan asteroid raksasa “paling tidak selama beberapa juta tahun. Namun, dampak dari tabrakan asteroid kecil tetap saja luar biasa. Asteroid dapat menimbulkan banjir, kehancuran kota, hingga kolapsnya sistem pertanian. Dan setiap 100 ribu tahun, asteroid seukuran separuh kota dapat menimbulkan dampak global seperti hujan asam, puing yang menutupi cahaya matahari, hingga badai api. Betul, saudaraku. Badai. Api.

Kemungkinan lain adalah letusan gunung berapi raksasa. Sebuah gunung berapi raksasa, misalnya, tertimbun di bawah wilayah Taman Nasional Yellowstone di Amerika Serikat. Letusan akbar telah terjadi di sana dua juta dan 640,000 tahun lalu, dan menimbulkan dampak seperti kepunahan massal. Hal ini disebabkan oleh kandungan sulfur, karbon dioksida, dan abu yang mengubah iklim besar-besaran serta menghancurkan rantai makanan.

Kamu juga tidak perlu jauh-jauh ke Amerika Serikat untuk menemukan supervolcano, alias gunung berapi raksasa. Danau Toba di Sumatra Utara dibentuk dari serangkaian letusan gunung berapi raksasa yang terjadi jutaan hingga puluhan ribu tahun lalu. Letusan ini dipercaya menghabisi populasi spesies proto-manusia lain yang saat itu bermukim di sana, dan menyisakan spesies manusia yang menyintas hingga kini.

Sebetulnya dalam kasus Yellowstone maupun Toba, ledakan gunung berapi itu sendiri tidak cukup untuk memusnahkan makhluk hidup di bumi. Kepunahan massal terjadi karena luapan sisa gunung berapi membikin cuaca kacau balau, merusak ekosistem, dan mengubah rantai makanan. Makhluk hidup yang tersisa kesulitan beradaptasi, dan mati akibat lingkungannya yang tak lagi bersahabat.

Bayangkan bila hal ini terjadi kepada kita. Seperti di serial film Mad Max, manusia yang tersisa akan hidup di kota-kota pascaapokaliptik yang terpisah gurun tandus dan pegunungan curam. Sumber daya yang tersisa tinggal sedikit, dan sekte-sekte akan bermunculan untuk menggali segala yang tertinggal dari peradaban lama kita. Kehidupan akan diisi dengan peperangan tiada henti untuk memperebutkan air, bahan makanan, dan lahan

Related Article