Kerusuhan Indonesia vs Malaysia, dari Mata Asumsi

Semalam, pertandingan sepakbola Kualifikasi Piala Dunia 2022 antara Indonesia melawan Malaysia dicoreng oleh kerusuhan. Menjelang akhir babak kedua, sejumlah suporter meluber ke area running track stadion Gelora Bung Karno dan melakukan penyerangan terhadap suporter Malaysia yang terletak di tribun Barat.

Malam itu, timnas kita sudah jatuh tertimpa tangga. Performa timnas yang medioker sepanjang laga tambah anjlok pasca kerusuhan, dan di detik-detik terakhir, Malaysia mencetak gol. Tim berjulukan Harimau Malaya itu meraih kemenangan tipis dengan skor 3-2. Momen yang dramatis dan akan dikenang bertahun-tahun oleh mereka, tapi menyisakan malu bagi kita.

Dua punggawa Asumsi.co, Pangeran Siahaan (P) dan Randy Arbiyantama (R) hadir di Gelora Bung Karno pada malam itu. Kami berbincang dengan mereka untuk menelusuri apa yang sesungguhnya terjadi pada pertandingan tersebut.

 

Menjelang pertandingan

P: Pertandingan antara Indonesia lawan Malaysia memang selalu panas. Jadi, menurut gue tidak ada antisipasi yang khusus di kalangan supporter untuk semalam. Mungkin karena sekarang ada media sosial jadi lebih mudah bertukar ejekan, tapi masih dalam tataran wajar.

Hari itu gue tiba di stadion jam 5 sore. Sudah ada beberapa konsentrasi fans di depan stadion yang bergaya seperti Ultras. Mereka pakai balaclava, chanting dengan dirigennya, mungkin ada ratusan atau bahkan ribuan. Gue dikabari teman gue bahwa supporter Malaysia sudah masuk duluan ke stadion. Itu prosedur standar di mana-mana. Kalau ada pertandingan tensi tinggi, fans tim tamu selalu masuk stadion duluan dan keluar stadion belakangan.

R: Teman gue yang sudah masuk duluan bilang tadi timnas Malaysia sempat ditimpuki batu sebelum masuk stadion. Kebetulan hari itu gue telat. Gue baru mulai masuk ke stadion setelah pertandingan dimulai, tapi dalam keadaan gue telat saja antre masuknya gila-gilaan. Akses ke dalam stadion cukup buruk, dan sampah bertebaran di mana-mana.

Begitu masuk ke dalam, gue dapat kabar dari anak-anak kalau hari itu mereka tidak diperiksa sedetail biasanya oleh sekuriti stadion. Gue pun merasakan pengamanan hari itu tidak seketat saat terakhir kali gue ke stadion untuk menonton Indonesia lawan Vanuatu. Tas gue enggak dibuka, padahal gue bawa tas kantor yang gede, jadi besar kemungkinan gue bawa flare atau botol. Polisi enggak ada yang masukkin tangannya ke dalam tas gue dan memeriksa lebih jauh.

Anak-anak gue juga banyak yang lapor bahwa tiket mereka tidak di-scan saat masuk stadion. Jadi, lo bisa masuk dan berdiri di kategori atau zona yang beda dari tiket yang sudah lo beli. Agak berantakan. Gue juga lihat ada penonton yang berdiri dan enggak ngejagain, mereka kayak ikut menonton pertandingan. Harusnya kan steward menghadap ke arah penonton, tapi mereka malah menghadap lapangan.

P: Ketika masuk, gue lihat Ultras Malaya [julukan kelompok supporter timnas Malaysia – red] posisinya dekat banget dengan tribun Utara, yang banyak berisi supporter fanatik timnas Indonesia. Memang ada gap, satu tribun yang dikosongkan antara mereka. Tapi gue pikir ini accident waiting to happen. Tinggal menunggu waktu saja.

 

Sebelum pertandingan sepakbola antar timnas, lagu kebangsaan kedua negara yang bertanding selalu dimainkan. Malam itu, lagu kebangsaan Malaysia disoraki.

P: Menjelang pertandingan dimulai, penoton makin ramai. Mulai ada teriakan Malaysia an***g, tapi menurut gue itu masih wajar di pertandingan tensi tinggi. Yang gue heran adalah lagu kebangsaan Malaysia sempat di-boo, disoraki. Gue enggak paham tindakan itu. Gue pernah nonton Indonesia away ke beberapa negara, dan enggak pernah sekalipun gue  dengar lagu Indonesia Raya disoraki. Di Malaysia saja enggak.

 

Babak pertama dimulai. Indonesia unggul cepat pada menit 12 melalui gol Beto Goncalves. Pada menit ke-37, Malaysia membalas melalui gol Mamadou Soumareh. Dua pemain naturalisasi saling bantai untuk negara yang mengadopsi mereka.

P: Karena gue sudah lama ikutin timnas Indonesia, gue enggak pernah berharap Indonesia menang di pertandingan apapun. Gue cuma datang buat atmosfir dan suasananya, karena kalau lo berharap Indonesia menang, lo pasti kecewa.

R: Sempat ada tifo dari Ultras kita yang tulisannya “Fuck off Loser”, jadi tribun Utara dan Selatan sudah tegang sejak awal. Kebetulan gue berdiri di tribun Selatan, di seberang posisi Ultras Malaya, jadi gue merasakan sendiri tensinya seperti apa. Cuma karena kita mainnya cukup oke di awal, kita masih merasa agak superior. Setelah Malaysia gol, baru mulai keluar kata-kata kasar. Tensinya semakin naik.

 

Hanya berselang dua menit, Beto Goncalves mencetak gol lagi. Tendangan roket yang bersarang manis di pojok kanan atas gawang Malaysia. Gelora Bung Karno bergemuruh. Indonesia unggul 2-1 sampai turun minum.

R: Gue lihat banyak orang di sekitar gue optimis. Permainan kita enggak bagus-bagus amat, tapi Indonesia cenderung mendominasi.

P: Setiap Malaysia megang bola pasti disoraki. Cuma karena kita unggul 2-1, penonton cenderung lebih santai pas half-time.

 

Babak kedua. Stefano Lilipaly menerima bola di ujung kotak penalti Malaysia, meliuk memasuki area bahaya, dan nyaris mencetak gol. Seisi stadion menghela napas panjang. Keadaan mulai berbalik untuk Indonesia.

R: Sebenarnya pas Lilipaly hampir bikin gol, kita tambah happy lagi. Karena kelihatannya kita bakal terus dominan. Tapi, setelah itu taktik kita berubah.

P: Di babak kedua, penonton mulai meneriakkin pemain Indonesia. Mereka agak frustrasi karena memang timnas mainnya jelek banget, dan Malaysia mulai megang pertandingan. Jadi banyak di sekitar gue yang marah pas kita kehilangan bola, atau bikin kesalahan.

R: Andritany [Ardhiyasa, kiper timnas Indonesia – red] sempat bikin blunder dan hampir gol. Semua orang semakin tegang.

P: Permainan kita enggak baik. Pelatih kita, Simon McMenemy, salah strategi banget di babak kedua. Dia terlalu berhati-hati sehingga kita diobok-obok sama Malaysia. Penonton juga mulai bete lihatnya.

Nah, ada satu momen di babak kedua yang kunci. Ada orang ditandu dari tribun Ultras Malaya. Gue enggak tahu orang ini kena timpuk atau kenapa, tapi dia ditandu dan dibawa ke ambulans. Pas dibawa ke ambulans, tim medisnya dilemparin penonton. Salah satu tim medis sempat kena botol minum.

 

Menit ke-66, terjadi kemelut di depan gawang Indonesia setelah sepak pojok. Syafiq Ahmad lolos dari penjagaan. Sundulan mautnya tak mampu ditangkis Andritany Ardhiyasa. Skor 2-2.

P: Saat itu, kondisinya sebetulnya masih relatif aman. Tapi tensinya memang naik.

R: Penonton mulai frustrasi. Atmosfernya semakin enggak enak.

 

Sepuluh menit setelah gol Malaysia, kericuhan mulai terjadi.

P: Sepanjang pertandingan, tribun Utara yang jauh dari fans Malaysia lebih berisik dan militan. Tapi enggak seagresif tribun Selatan yang dekat sama Ultras Malaya. Ultras Malaya juga beberapa kali membalas chant.

Di babak kedua, ada beberapa orang dari tribun Selatan yang turun ke lapangan, lalu berusaha mendatangi tribun supporter Malaysia. Ternyata ada yang mau ambil bendera mereka. Ini memang adat khas kelompok tribun, terutama kalau lo mengadopsi gaya Ultras Eropa. Mereka memang suka berusaha mengambil bendera atau banner-nya rival, lalu digantung terbalik di tribun sendiri. Semacam perang wilayah.

Setelah ada ricuh kecil itu, salah satu orang dari Selatan diamanin polisi. Di Gelora Bung Karno kan ada lantai bawah yang bisa diakses dari pinggir lapangan, gue pikir dia mau dibawa ke sana. Ternyata dia dibawa ke arah barisan polisi dan ambulans yang ada di dekat tribun Utara. Masalahnya, di Utara banyak supporter fanatik juga, jadi begitu orang ini lewat supporter di tribun Utara mulai turun ke lapangan. Kayak mau menyelamatkan dia dari polisi.

R: Setelah pertandingan, gue dapat kabar lebih jauh soal ini dari beberapa teman gue yang kebetulan berdiri dekat sekali dengan insiden. Menurut mereka, polisi ini agak kasar sama supporter tersebut. Dia kelihatan seperti dicekik, akhirnya anak-anak di sana panas dan turun buat ngebelain orang ini. Dari tempat gue berdiri, gue mulai dengar chant  “Pak polisi, tugasmu mengayomi."

Sempat ada insiden lain. Tempat gue itu tribun yang lumayan mahal, jadi dekat tapi tidak persis di tribun Selatan. Gue ambil posisi itu karena gue sedang bareng teman yang baru pertama kali ke stadion. Nah, bahkan di sana sekalipun sempat ada pelemparan botol. Ada polisi yang kebetulan tidak menghadap ke arah penonton dilempar botol dari tribun gue, tapi tidak kena. Chant “Malaysia anjing” pun tambah keras, dan penonton di tribun gue mulai ikut-ikutan.

Enggak lama kemudian, polisi mulai berkerumun ke tribun Malaysia bawa tameng. Di atas tribun Malaysia ada supporter kita juga, dan banyak kabar bahwa mereka pun melakukan pelemparan botol ke arah Ultra Malaya. Mereka seperti dikepung. Gue lihat ada smoke bomb yang menyala di tribun Malaysia. Nah, gue enggak tahu apakah mereka yang nyalain atau ada supporter kita yang melempar ke tribun Malaysia. Tapi, gue asumsikan itu dinyalakan oleh supporter Malaysia karena smoke bomb-nya berwarna kuning. Itu warna seragam timnas mereka.

Jadi, gue lihat kedua pihak seolah mulai “bersiap”.

P: Tapi, pelan-pelan tensinya reda. Penonton yang tadinya turun ke pinggir lapangan mulai naik lagi ke atas tribun. Announcer-nya juga ribut banget, meminta mereka kalem.

R: Gue rasa pada akhirnya Ultras Malaya enggak menanggapinya terlalu serius, karena buat apa lo melawan puluhan ribu orang? Akhirnya supporter kita juga malas berantem sama orang yang “semangat”.

P: Cuma lucunya, setelah pertandingan dilanjutkan lagi, masih ada orang di running track yang bawa bendera Merah Putih. Dia kan enggak boleh ada di sana! Gue rasa akhirnya ada yang ngasih tahu dia baik-baik untuk balik ke tribun.

 

Pertandingan berlanjut setelah dihentikan selama empat menit.

R: Menurut gue, setelah kerusuhan intensitas chant kita berkurang. Stadion sudah enggak serame sebelumnya. Seingat gue sempat ada keributan kecil lagi di tribun Utara, tapi intensitasnya sudah enggak segede sebelumnya.

P: Orang-orang di sekeliling gue yang jarang nonton sepakbola mulai pulang. Kayaknya mereka ngeri juga. Ada bapak-bapak sebelah gue yang sepanjang pertandingan ngajak gue ngobrol. Menjelang masuk injury time, dia pulang. Katanya, auranya mulai enggak enak.

 

Karena pertandingan disela oleh kericuhan, wasit mengumumkan perpanjangan waktu delapan menit. Pada menit ketujuh perpanjangan waktu, bencana terjadi. Sayap kiri pertahanan Indonesia bobol, sebuah umpan silang terukur luput dari tangan kiper dan bek. Siapa yang menanti di tiang jauh? Mamadou Soumareh. Tendangan sentuhan pertamanya meluncur ke gawang Indonesia yang kosong melompong.

Seisi bench Malaysia bangkit dari kursinya. Mereka telah meraih kemenangan di menit terakhir. Skor 3-2 untuk Malaysia. Bila Brazil mengenal Maracanazo, kini Indonesia mengenal Kiamat di GBK.

R: Gue merasa takut. Penonton marah banget. Gue enggak merasa aman di stadion. Personil keamanan cuma sedikit, dan pas kerusuhan tadi anak-anak Ultras gampang banget turun ke lapangan. Tapi setelah gol itu, gue rasa kita lemas. Kita lemas berkepanjangan.

P: Semua orang diam. Ada tiga atau empat detik seisi stadion seolah diam. Baru setelah kita memproses apa yang terjadi, semua orang mengumpat. Ada yang mencaci timnas, ada yang mengumpat soal PSSI. Keluar semua. Meluap semua.

R: Secara pribadi, gue sudah lama enggak sreg dengan taktiknya Simon McMenemy. Pemilihan pemainnya salah semua. Gue fans Persija, tapi gue mengakui Andritany itu tidak bugar. Masih banyak kiper lain yang lebih siap dipanggil timnas, tapi dia wajib hadir karena dia kapten timnas. Pemain seperti Andik Vermansyah juga sering jadi cadangan di klubnya, tapi dia main sejak awal buat timnas.

Gue rasa malam itu kita meremehkan Malaysia. Kita menyimpan banyak pemain penting seperti Yanto Basna karena Selasa (10/9) depan kita akan lawan Thailand. Tim yang turun malam itu bukan tim terkuat. Padahal ini Malaysia.

 

Peluit panjang berbunyi.

R: Gue rasa polisi juga merasa bahwa setelah pertandingan selesai, Ultras Malaya harus dilarikan semua. Begitu selesai, polisi langsung buka pagar tribun dan semua orang dilarikan ke lantai bawah.

P: Mereka disuruh turun ke running track di pinggir lapangan, lalu dilarikan ke lantai bawah Gelora Bung Karno.

R: Setelah pertandingan, gue dan teman gue langsung cabut ke arah pusat perbelanjaan fX Sudirman. Kemudian gue dengar kabar dari teman gue yang dekat dengan Ultras Malaya, rupanya sampai jam 11-12 malam, mereka enggak bisa keluar dari Gelora Bung Karno. Masih kejebak di sana sampai larut malam.

 

Setelah pertandingan, sempat terjadi bentrok lagi antara supporter Indonesia dengan aparat keamanan. Seperti dilansir Indosport, seorang polisi mesti dievakuasi karena luka.

R: Gue jelas kecewa. Malam itu gue bawa teman yang baru pertama kali ke stadion, dan gue lihat dia trauma. Enggak mungkin gue ajak dia ke stadion lagi. Kerusuhan itu membuktikan kalau sepakbola Indonesia ternyata belum nyaman buat semua orang.

P: Untungnya gue keluar stadion dengan aman. Hari itu gue bawa dua teman yang baru pertama kali nonton di stadion, dan mereka syok. Mereka sampai nanya ini jatuhnya rusuh atau enggak, dan gue bilang ini rusuh.

 

Setelah pertandingan, terungkap bahwa Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Malaysia, Syed Saddiq, turut hadir di antara Ultras Malaya. Ia sengaja turun dari bangku VVIP untuk bergabung dengan kontingen supporter Malaysia. Keesokan harinya, Syed berjumpa dengan Menpora Indonesia Imam Nahrawi, di mana Imam menyampaikan permintaan maaf dan berjanji akan menindak tegas pelaku kerusuhan.

Namun, nasi sudah menjadi bubur. FAM, federasi sepakbola Malaysia, telah melayangkan protes resmi kepada FIFA, badan pengelola tertinggi sepakbola dunia.

P: Kita pasti bakal kena denda gede banget dari FIFA. Dan ada kemungkinan pertandingan lawan Thailand harus tanpa penonton. Tapi kalau memang kita serius mau mencalonkan diri jadi tuan rumah Piala Dunia U-20, gue rasa tidak bisa. Lupakan saja.

R: Setelah pertandingan, gue banyak lihat akun media sosial kumpulan supporter yang bilang bahwa kericuhan semalam adalah balas dendam. Karena terakhir kali supporter Indonesia menonton di Malaysia tahun 2012, kita juga diintimidasi. Timnas kita juga sudah lama enggak ketemu fans Malaysia di Jakarta, jadi ada dendam yang disimpan sejak 2012.

P: Sebenarnya penempatan Ultras Malaya sudah tepat. Gue sudah beberapa kali nonton di Gelora Bung Karno, dan supporter tandang selalu ditaruh di sana. Cuma, gue rasa aparat keamanan seharusnya tidak melakukan pembiaran atas tindakan pelemparan botol, walau sekecil apapun. Teman gue ada di tribun media, dan dia lihat keamanan diam saja saat satu atau dua botol dilempar penonton. Padahal kalau didiamkan, orang lain jadi ikut panas.

Ketika gue ke pertandingan dengan tensi setinggi Inggris lawan Jerman, situasinya aman karena penonton yang macam-macam bisa dihukum berat. Dipenjara, bahkan dilarang menonton di stadion seumur hidup. Karena sanksinya keras, orang menjaga diri. Buat gue, keamanan di pertandingan kita belum sesuai standar. Harusnya mereka berani ketat di pertandingan bertensi tinggi seperti ini.

 

Pasca pertandingan, Simon McMenemy mengeluhkan jadwal ketat Liga 1 Indonesia yang membikin pemainnya mudah kelelahan. Pada saat bersamaan, supporter klub lokal sudah kenyang melihat timnya keropos karena pertandingan timnas kerap bertumpang tindih dengan jadwal pertandingan liga. Situasi absurd yang tak terjadi di liga-liga negara lain.

Kerusuhan semalam bisa kita pandang sebagai luapan emosi semata. Namun bila ditelisik lebih jauh, ia adalah gejala dari penyakit lebih besar yang tengah menjangkiti sepakbola Indonesia.

Related Article