Kenapa Timnas Senior Sulit Berprestasi Ketimbang Junior?

Timnas Indonesia U-22 berhasil menjadi pelipur lara di tengah kondisi sepakbola nasional yang tengah bermasalah karena mafia. Garuda Muda baru saja berhasil meraih gelar juara Piala AFF U-22 usai mengalahkan Thailand dengan skor 2-1 di Olympic Stadium, Phnom Penh, Kamboja, Selasa, 26 Februari 2019. Dua gol Timnas U-22 dicetak Sani Rizki (59’) dan Osvaldo Haay (65’).

Keberhasilan Timnas U-22 tampil sebagai raja di Asia Tenggara pun ramai dibicarakan di kalangan masyarakat dan media sosial. Salah satu pertanyaan yang menggelitik adalah kapan Timnas Senior bisa juara juga? Seperti yang sudah dilakukan para juniornya di Timnas U-16, Timnas U-19, dan yang terakhir Timnas U-22.

Ketiga Timnas Junior tersebut masing-masing sudah menyumbangkan Piala AFF di kategori usia masing-masing. Kesuksesan Timnas U-22 menjuarai Piala AFF, mengikuti jejak Timnas U-19 dan Timnas U-16. Sebelumnya U-19 menjuarai Piala AFF pada 2013, kemudian U-16 pada 2018. Lalu, bagaimana dengan Timnas Senior? Kapan mereka bisa memberikan prestasi seperti adik-adiknya?

Timnas Senior Masih Belum Berprestasi

Sejauh ini, memang tinggal Timnas Senior yang belum menyumbang trofi AFF untuk sepakbola Indonesia. Bayangkan saja, dalam 12 keikutsertaannya di ajang Piala AFF, Timnas Senior hanya berhasil meraih status runner up sebanyak empat kali yakni pada Piala AFF 2000, 2002, 2004/2005, dan 2016.

Mirisnya lagi, setelah berhasil tampil sebagai finalis di edisi Piala AFF 2016, Timnas Senior justru gagal bersaing di Piala AFF 2018 lantaran hanya bertahan sampai fase grup saja. Timnas Senior saat itu dilatih Bima Sakti yang menggantikan Luis Milla. Saat itu, Stefano Lilipaly dan kawan-kawan hanya berhasil meraih sekali kemenangan, sekali imbang, dua kali kalah dan berada di posisi keempat klasemen akhir di Grup B.

Baca Juga: Sani Rizki dan Osvaldo Haay: Cerita Lain Dua Pahlawan Timnas U-22

Kepala Delegasi Timnas U-22 Iwan Budianto pun berharap kesuksesan yang diraih Timnas U-22 saat ini bisa menular dan diikuti oleh Timnas Senior di masa mendatang. Ia pun berharap Timnas Senior yang saat ini dilatih Simon McMenemy bisa meraih prestasi yang sama dengan para juniornya.

"Sekali lagi terima kasih kepada semua warga Indonesia, termasuk Bapak Presiden Jokowi, Menpora Imam Nahrawi dan semua suporter Indonesia atas doa dan dukungannya selama ini kepada Timnas U-22. Mudah-mudahan prestasi ini menjadi pemantik bagi timnas di level senior untuk juga menjadi juara," kata Iwan Budianto dalam keterangan resminya, Selasa, 26 Februari 2019.

Timnas Jangan Anti Klimaks saat Usia Senior

Sementara itu, Sekretaris Kemenpora Gatot S. Dewa Broto mengapresiasi prestasi Timnas Indonesia U-22 yang baru saja meraih gelar juara Piala AFF U-22. Namun di samping itu, Gatot juga berharap prestasi itu tak hanya dirasakan para pemain di usia junior saja dan malah berhenti di Timnas Senior.

"Pertama kami senang dengan kemenangan Timnas U-22. Kami harus angkat topi setinggi-tingginya untuk Indra, artinya sentuhan tangan dia berkali-kali jadi juara. Kami ingat saat menang juara AFF U-19, lalu sekarang sentuhan lagi di Kamboja," kata Gatot di Kantor Kemenpora, Selasa, 26 Februari 2019. 

Gatot pun berharap prestasi para pemain muda Timnas U-16, U-19, hingga U-22 bisa menular hingga ke Timnas Senior. Jadi jika sudah bisa berprestasi di pentas Asia Tenggara, maka timnas akan lebih siap jika tampil di turnamen level Asia.

"Harapan kami jangan sampai kelompok U-16 U-19, U-22, saat menjadi tim senior ada kecenderungan antiklimaks. Di level Asia Tenggara susah, apalagi Asia. Jadi harusnya anomali itu harus dikaji oleh PSSI. Kenapa bisa terjadi? Apakah karena mereka biasanya di kelompok umur tak banyak godaannya," ujarnya.

Lalu, Gatot pun menyampaikan saran kepada PSSI agar bisa menjaga talenta para pemain muda untuk tetap bisa berprestasi di usia senior. Menurut Gatot, sudah menjadi tugas utama PSSI untuk memastikan para pemain muda bisa tetap konsisten dalam bermain, bahkan kalau bisa ditingkatkan lagi secara performa.

"Yang kedua mereka masih pure atlet junior yang idealis. Harusnya itu tugas PSSI karena sudah punya modal bagus jadi harus lebih baik lagi."

Baca Juga: Simon McMenemy Latih Timnas Indonesia, Gantikan Bima Sakti

Lebih jauh, Gatot juga memuji pelatih Timnas U-22 Indra Sjafri karena bisa mengkondisikan para pemain agar tidak terpengaruh isu di luar lapangan. Seperti diketahui, saat ini PSSI sedang diguncang isu pengaturan skor yang melibatkan sejumlah eksekutif.

"Bisa dibayangkan jika tak bisa membimbing dengan baik, ini federasi ini, tapi dia bisa melakukan yang baik. Saya katakan itu karena saya banyak komunikasi dengan coach Indra," ucap Gatot.

"Prestasi Timnas U-22 juga menjadi bukti bahwa olahraga dapat menyatukan bangsa sebagaimana ketika Asian Games 2018. Hasil juara yang diraih tim sepakbola Indonesia mampu mengurangi kegaduhan politik nasional," ujarnya.

Dipengaruhi Berbagai Faktor

Tentu ada banyak faktor yang mempengrauhi kenapa pada akhirnya Timnas Senior begitu sulit berprestasi di kompetisi Asia Tenggara. Namun, seperti yang sudah terjadi, hampir sebagian besar para pemain Indonesia memang cukup bersinar saat masih membela Timnas Junior ketimbang di Timnas Senior.

Sebaliknya, saat bertambah usia, para pemain muda yang mulai tumbuh dewasa ini justru kehilangan arah. Bahkan, tak sedikit pula yang melempem, performa permainannya menurun, hingga kariernya meredup dan berhenti bermain sepakbola atau pindah ke sepakbola tarkam.

Padahal, dalam banyak kesempatan, menurut mantan pelatih Timnas Putri Indonesia, Timo Scheunemannusia, usia dini dan usia muda merupakan masa pembentukan para pemain. Itu artinya nanti hasilnya baru akan terlihat di kemudian hari saat mereka bertumbuh menjadi pemain senior.

Gagalnya para pemain muda untuk berkembang baik saat memasuki usia dewasa atau senior, tentu disebabkan banyak faktor misalnya seperti bergaya hidup kurang baik sebagai seorang atlet profesional. Contoh saja kebiasaan malas menjaga kondisi fisik, konsumsi makanan yang tak sesuai, tidak disiplin, dan kerap membuat masalah di luar lapangan. Hal-hal seperti itu sudah seharusnya dibina sejak usia dini.

Konsistensi dan gaya hidup jadi faktor penting bagi seorang pesepakbola agar tetap bisa menjaga performa baik itu skill maupun fisik. Dengan konsistensi dan gaya hidup yang baik maka pemain pun akan lebih terarah untuk memasang target-target yang ingin dicapai. 

Tentu banyak contoh beberapa pesepakbola yang dinilai kurang konsisten dalam menjaga perkembangan permainan dan kariernya. Misalnya saja ada Syamsir Alam dan Yongki Aribowo. Keduanya punya cerita berbeda perihal karier di dunia si kulit bundar.

Syamsir mulai meredup permainan dan kariernya lantaran gaya hidup sampai akhirnya banting setir menjadi publik figur, meski tak terlalu sukses juga. Sementara Yongki mengalami inkonsistensi permainan. Sebagai catatan, Yongki sendiri pernah menyumbang medali perak pada SEA Games 2011, namun sempat cedera dan permainannya mulai tak konsisten hingga kariernya meredup.

Bahkan Yongki sempat mengalami penurunan karier dengan bergabung ke klub Liga 2, Aceh United. Lalu setelahnya ia juga sempat trial di PSMS Medan namun tidak memenuhi kriteria.

Hal-hal miris yang dialami Syamsir dan Yongki sendiri tentu harusnya bisa dicegah saat usia dini. Melalui pembinaan pemain yang tentunya menjadi modal untu membangun tim senior. Bayangkan saja jika pembinaan pemain di usia muda tak berjalan dengan baik, maka hasil yang diraih saat usia senior pun tak akan baik.

Related Article