post

Current Affairs

Kenapa Donald Trump Perlu Dimakzulkan

Permata Adinda, 15 Januari 2021

Foto: Pexels

Peristiwa Kerusuhan Capitol yang didukung oleh Donald Trump pada pekan lalu membuat parlemen Amerika Serikat sepakat untuk memakzulkan sang presiden. Upaya ini membuat Trump jadi presiden pertama di AS yang dua kali terkena upaya pemakzulan.

“Hari ini, melalui langkah bipartisan, parlemen membuktikan bahwa tidak ada siapa pun yang tidak tersentuh hukum, tak terkecuali Presiden Amerika,” ujar ketua parlemen Nancy Pelosi (14/1), setelah voting pro-pemakzulan menunjukkan hasil 232 melawan 197.

Tapi, tapi… sebentar lagi, kan, ia juga akan turun jabatan?
Ya, tapi para anggota parlemen menilai bahwa Trump tetap mesti mendapatkan konsekuensi atas apa yang ia lakukan.

Anggota parlemen Alexandria Ocasio-Cortez menyebutkan bahwa apa yang terjadi di Capitol membutuhkan, “proses pemulihan yang membutuhkan akuntabilitas.”

“Jika kita membiarkan pemberontakan terhadap Amerika Serikat dengan impunitas—tanpa akuntabilitas—kita mengundangnya untuk kembali terjadi,” ujar AOC. “Mungkin kolegaku tidak ada di sana [saat kerusuhan terjadi], mungkin kolegaku tidak sepenuhnya sadar tentang apa yang terjadi pada Rabu lalu, tetapi setengah dari anggota parlemen nyaris mati pada hari itu.”

Tak hanya dari anggota Demokrat, sejumlah Republikan juga mendukung upaya memakzulkan Trump. Totalnya, ada 10 Republikan yang pro-pemakzulan. Salah satu di antaranya adalah John Katko yang menganggap Trump adalah ancaman nyata terhadap demokrasi di Amerika.

“Membiarkan Presiden Amerika memicu serangan tersebut tanpa menderita konsekuensi apapun adalah ancaman terhadap demokrasi kita,” ujar Katko.

Oke. Jadi, apakah ini berarti Trump telah berhasil dimakzulkan?
Kasus ini masih perlu dibawa ke Senat untuk diadili. Pemimpin Senat dari partai Republik, Mitch Connell, mengatakan bahwa persidangan paling awal baru dapat dimulai pada 19 Januari—hanya sehari sebelum pelantikan Joe Biden. Kemungkinan terbesarnya, persidangan baru dapat dimulai setelah Trump turun jabatan.

Hal lain yang membuat pemakzulan Trump pelik adalah dibutuhkan setidaknya dua pertiga dukungan dari anggota Senat agar pemakzulan berhasil. Pada upaya pemakzulan sebelumnya, Trump dengan mudah lolos karena hanya satu Republikan yang menilai dirinya bersalah.

Sementara itu, setelah pelantikan berlangsung, kursi Demokrat-Republikan akan 50-50 dan Kamala Harris akan memegang suara pemilihan. Maka, dibutuhkan setidaknya 17 senator Republik untuk mendukung pemakzulan Trump.

Tapi, sepertinya tetap sulit meyakinkan Republikan untuk memakzulkan Trump. Meskipun ada bocoran bahwa para anggota Senat dari partai Republik menilai Donald Trump telah melakukan kesalahan besar, tetapi belum ada anggota Senat yang menyatakan secara terang bahwa mereka mendukung upaya pemakzulan.