post

Current Affairs

Kenapa Angka Kematian COVID-19 di India Rendah Meski Kasus Tinggi?

Ramadhan, 15 Oktober 2020

Foto: Pxhere

India menjadi negara kedua dengan kasus positif COVID-19 terbanyak di dunia setelah Amerika Serikat (AS). Namun, yang jadi sorotan, negara berpenduduk sekitar 1,3 miliar jiwa itu justru memiliki angka kematian yang rendah ketimbang negara-negara lain yang terdampak sama parahnya.

Berdasarkan data dari Worldometers, Selasa (13/10/20), kasus positif COVID-19 di India sudah mencapai total 7.175.880 kasus. Dari jumlah itu, 109.894 pasien meninggal dunia dan 6.227.295 dinyatakan sembuh. Sebelumnya, seperti dilansir Reuters, Senin (12/10), Kementerian Kesehatan India melaporkan 74.383 kasus COVID-19 dalam 24 jam terakhir, dalam pengumumannya pada Minggu (11/10) waktu setempat.

Saat itu, ada total 7.053.806 kasus COVID-19 terkonfirmasi di wilayah India. Pada hari yang sama, Kementerian Kesehatan India juga melaporkan 918 kematian dalam 24 jam terakhir, dengan total kematian akibat virus SARS-CoV-2 di India mencapai 108.334 orang saat itu.

Dari data pemerintah di hari tersebut, India mencatatkan tambahan satu juta kasus COVID-19 hanya dalam 13 hari terakhir. Terkait data itu, Associated Press pun memprediksi India akan menjadi negara terdampak COVID-19 paling parah dalam beberapa pekan ke depan, melampaui AS yang mencatatkan total 8.037.789 per hari ini, Selasa (13/10).

Bahkan, negara bagian selatan Kerala, yang beberapa waktu lalu sempat menuai pujian atas penanganan awal yang baik terhadap COVID-19, pada Sabtu (10/10) lalu justru melaporkan 11.755 kasus baru, menjadi yang tertinggi di India.

Dengan total pasien yang meninggal dunia mencapai 109.917 orang akibat COVID-19, India kini melaporkan angka kematian sebesar 1,5 persen dari total kasus positif. Angka kematian di India itu tercatat sebagai angka kematian terendah per 100 kasus positif—rasio kasus-kematian yang diamati—di antara 20 negara yang terdampak COVID-19 paling parah di dunia.

Sebagai perbandingan, AS yang merupakan negara dengan kasus COVID-19 terbanyak, kini melaporkan angka kematian sebesar 2,8 persen. Dengan demikian, jumlah kematian per 100 ribu penduduk di India mencapai 7,73, angka yang sangat rendah jika dibandingkan dengan AS yang mencapai 64,74.

Jelas saja perbandingan total kasus COVID-19 dengan total kematian di India membingungkan para pakar. Berbagai penjelasan pun muncul, dari banyaknya populasi muda, kekebalan yang diberikan oleh penyakit virus endemik lainnya, hingga kurangnya jumlah kasus COVID-19 yang dilaporkan.

Seperti kita ketahui, warga berusia lebih tua yang memiliki penyakit bawaan seperti diabetes dan sakit jantung menjadi yang paling rentan terhadap COVID-19. Mayoritas penduduk India, sementara itu, berusia rata-rata 28,4 tahun menurut laporan Prospek Populasi Dunia Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Sebagai perbandingan, Prancis—yang melaporkan total 700 ribu kasus COVID-19 dengan lebih dari 32 ribu kematian untuk angka kematian 4,7 persen—memiliki usia rata-rata 42,3 tahun.

Pemberlakuan lockdown ketat oleh pemerintahan Perdana Menteri (PM) Narendra Modi yang telah membatasi pergerakan sejak 25 Maret lalu juga disinyalir berkontribusi. Lockdown ketat secara nasional itu disebut memberikan waktu kepada India untuk bersiap menghadapi pandemi.

Para pakar menyebut bahwa penerapan lockdown ini kemungkinan telah membantu para dokter mempersiapkan diri. "Banyak protokol pengobatan yang jauh lebih stabil (pada saat itu), baik penggunaan oksigen maupun penggunaan ICU," kata profesor kedokteran masyarakat dari Institut Ilmu Kedokteran India di New Delhi, Anand Krishnan, kepada AFP.

Sementara itu, ahli virologi T Jacob John dan para pakar lainnya mengungkapkan kepada AFP bahwa ada kemungkinan penyakit virus lainnya, seperti demam berdarah yang mewabah di India, telah memberikan perlindungan antibodi terhadap COVID-19.

Ada hipotesis pula bahwa paparan COVID-19 ringan bisa memberikan kekebalan silang. Namun, semua ahli menegaskan masih diperlukan banyak penelitian terhadap dugaan ini.

Namun, di sisi lain, India juga disebut-sebut sudah tak menghitung seluruh kematian.  Banyak kematian di pedesaan yang tidak dicatat, kecuali orang itu pernah dirawat di rumah sakit. Persoalannya, lebih banyak kasus parah di daerah pedesaan di mana 70 persen penduduk India tinggal.

Sedangkan di banyak kota di India, data penghitungan pemerintah setempat dan angka dari otoritas pemakaman serta krematorium justru tak cocok. Para aktivis menuduh beberapa negara bagian India sengaja menyalahkan kondisi lain untuk kematian COVID-19.

"Sistem pengawasan kematian rutin kami buruk, diduga banyak kematian sejak awal," kata pakar pengobatan masyarakat di Bangalore, Hemant Shewade. Shewade yang menganalisis data kematian resmi pemerintah India ini menyatakan bahwa banyak kematian yang diduga akibat COVID-19 yang malah tak tercatat. Ia juga memprediksi hanya satu dari lima kematian yang dicatat dengan penyebabnya.

Dalam beberapa kasus, virus SARS-CoV-2 mungkin tidak masuk dalam daftar penyebab kematian bagi pasien dengan kondisi medis lain.

Lebih lanjut, menurut Shewade, survei serologis (menguji darah untuk antibodi untuk memperkirakan berapa banyak yang telah melawan virus) yang dilakukan pemerintah menunjukkan data yang mencengangkan. Setelah melakukan survei serologis, jumlah kasus positif COVID-19 bisa 10 kali lipat dari jumlah resmi yang telah dirilis saat ini. Sehingga, lanjut Shewade, jumlah kematian bisa lebih banyak dari data yang dilaporkan saat ini.