Kenapa Ada Caleg Stres Usai Kalah Pemilu?

Ambisi untuk menjadi calon legislatif (caleg) dalam kontestasi Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 memang tak mudah dan harus melalui jalan yang terjal. Mereka yang jadi caleg harus bersaing dengan banyak orang potensial dari berbagai latar belakang, merebut hati rakyat, dan siap menanggung resiko jika kalah. Poin terakhir yang tampaknya sulit dijalani.

Bagi seorang caleg, kebanggaan terbesarnya tentu bisa terpilih di Pemilu dan menjadi anggota parlemen. Namun, jauh sebelum mencapai tujuan itu, para caleg harus melakukan hal yang tak ringan seperti mempersiapkan dana untuk melakukan kampanye, meyakinkan publik dengan cara turun ke lapangan langsung, sampai harus bersaing dengan caleg-caleg hebat lainnya. Maka dari itu, tekanan yang dialami seorang caleg pun cukup besar.

Sudah banyak peristiwa di mana caleg mengalami stres lantaran tak bisa menerima kekalahan usai dirinya hanya mendapatkan sedikit suara. Di Pemilu 2014 yang lalu saja, banyak kasus caleg yang tak bisa menerima kenyataan. Bahkan, tak sedikit pula yang mengalami gangguan jiwa.

Banyak Caleg Stres Usai Pemilu 2014

Stres hingga akhirnya mengalami gangguan jiwa sangat mungkin dialami caleg yang ikut dalam Pemilu. Rasa kesal dan marah lantaran sudah menghabiskan banyak uang, belum lagi yang dibagi-bagikan kepada masyarakat, tapi akhirnya tak banyak yang memilihnya sehingga gagal jadi anggota DPRD atau DPR RI. Situasi itu pun sulit dihindari para caleg.

Sampai akhirnya banyak pula caleg yang gagal malah melakukan tindakan bodoh misalnya saja mencuri kotak suara, memblokir perumahan bahkan hingga bunuh diri. Seperti pemberitaan Antara, 13 April 2014 lalu, di Pemilu 2014, ada sejumlah caleg yang berulah setelah kalah. Siapa saja mereka?

Baca Juga: Berantas Korupsi, Jadi Pemilih yang Berdaulat

Ada caleg dari PKS, Muhammad Taufiq (50 tahun), yang kecewa dan marah karena perolehan suaranya minim. Taufiq saat itu ditemani Asmad, tiba-tiba keluar dari rumah dan mendatangi TPS 2 Dusun Cekocek, Desa Bierem, Kecamatan Tambelangan, Kabupaten Sampang. Tanpa permisi, Taufiq dan Asmad langsung mengambil paksa sebuah kotak suara di tempat pemungutan suara (TPS) di saat petugas baru saja merampungkan penghitungan suara.

Lalu, ada juga seorang caleg Partai Hanura Haji Miftahul Huda di Tulungagung, Jawa Timur yang menarik kembali sumbangan material untuk pembangunan sebuah mushola. Pembangunan mushola di RT 2 RT 2 Desa Majan, Kecamatan Kedung Waru, Tulungagung, itu bisa jadi akan terhambat. Pasalnya, material bantunan Haji Miftahul Huda ditarik kembali, gara-gara dia kecewa karena perolehan suaranya pada Pemilu Legislatif 9 April 2014 di luar harapan.

Material berupa 2.000 batu bata, 10 sak semen dan satu truk pasir memang diberikan Miftahul Huda untuk pembangunan mushola. Pembangunan ini ia lakukan saat masa kampanye lalu melalui salah satu tim suksesnya. Namun Miftahul menarik kembali sumbangan ini, karena ditempat ini ia hanya memperoleh 29 suara di RT 2 RW 2 Desa Majan.

Selain itu ada juga caleg yang melakukan hal konyol lainnya. Penarikan bantuan gara-gara caleg gagal juga terjadi di Sulawesi Tenggara. Seorang kepala desa di Kabupaten Kolaka menyegel sebuah sekolah Taman Kanak Kanak dan Tempat Pendidikan Anak Usia Dini.

Bahkan caleg itu akan mengancam mengusir seluruh guru dan kepala sekolahnya setelah dua orang caleg titipan sang kades kalah di TPS dusun ini. Menurut Kepala Sekolah TK, Darma, dua caleg titipan kades yakni dari Partai PKP dan PDIP gagal memperoleh cukup suara. Akibat penyegelan ini sebanyak 27 siswa TK terpaksa belajar di rumahnya masing-masing.

Ada pula caleg bernama Witarsa, di mana sehari setelah hari pencoblosan lelaki ini dibawa anggota keluarganya ke sebuah padepokan di Desa Sinarancang, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon. Caleg dari Partai Demokrat Dapil Jabar X ini mengalami stres akibat perolehan suaranya sangat minim, sehingga gagal menjadi anggota DPRD Jawa Barat. Padahal, modal yang dikeluarkannya sangat besar.

Penyebab Caleg Stres Usai Kalah di Pileg

Sebenarnya masih banyak lagi peristiwa di mana caleg mengalami tekanan hingga stres di Pemilu 2014 lalu. Para caleg diketahui memang berpotensi mengalami resiko stres yang lebih tinggi. Jika sudah mengalami stres yang sangat tinggi, namun di sisi lain justru daya tahannya rendah, maka bukan tidak mungkin para caleg akan down dan mengalami gangguan kejiwaan.

Baca Juga: Artis Maju Jadi Caleg, Gampang Dapat Kursi DPR?

Kontestasi politik merebut suara rakyat dan kursi legislatif memang sangat ketat. Jika nanti tidak terpilih, maka para caleg itu tak hanya akan menanggung malau, tapi juga akan kehilangan banyak harta yang sudah terlanjur dihabiskan semasa kampanye. Apalagi nyaris seluruh biaya kampanye dibebankan pada caleg yang maju, sesuai dengan ketentuan pasal 5 ayat 1 Undang-Undang Pemilu Nomor 8 tahun 2012.

Dari peristiwa yang sudah pernah terjadi di Pemilu 2014 lalu, setidaknya terdapat dua faktor penting yang memberikan pengaruh besar pada potensi stres yang dialami para caleg. Pertama, terkait dana kampanye yang didapat melalui hutang dan mau tak mau harus dibayarkan jika seorang caleg tidak terpilih. Untuk urusan ini, dana kampanye para caleg tentu tidak kecil, bahkan tak sedikit pula yang sampai menggandaikan rumah demi mendapatkan dana kampanye. 

"Dulu caleg identik dengan orang yang mampu karena kita tahu biaya kampanye tidak kecil. Namun kini banyak juga orang yang nekad berhutang demi menjadi caleg. Masalahnya, ketika mereka tidak terpilih dan tidak bisa membayarkan hutangnya, itu bisa menjadi stresor (pemicu stres) yang sangat berpengaruh," tutur Andri. 

Kedua, faktor yang juga berpotensi membuat caleg mengalami tekanan hingga akhirnya stres adalah ketidakmampuan memenuhi janji pada orang-orang yang berpengaruh di dalam pencalonannya. Apalagi, untuk mendapatkan suara di daerah pemilihannya, para caleg sudah mengumbar janji. Pada akhirnya saat janji kampanye tersebut gagal dipenuhi maka hal itu bisa membuat kondisi jadi tertekan. 

Maka dari itu, jika para caleg tidak mempersiapkan diri dan mental dengan baik, akibatnya tentu akan berujung stres sampai gangguan kejiwaan. Apalagi, bagi caleg-caleg baru yang belum berpengelaman dan untuk pertama kalinya ikut kontestasi politik, maka resiko stres yang bakal dialami tentu akan lebih tinggi.

Related Article