Kelakuan Politikus Dunia Semasa Pandemi yang Bikin Geleng-Geleng

Chaos is a ladder,” kata tokoh antagonis serial TV Game of Thrones Petyr “Littlefinger” Baelish. Bukannya menggunakan pengaruhnya untuk mengatasi kekacauan, ia malah mencari keuntungan pribadi. Kini, di dunia nyata, pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa tabiat para politikus di berbagai belahan dunia tak ubahnya karakter rekaan tersebut. Kondisi karut-marut yang disertai berbagai kemalangan menjadi panggung megah bagi mereka untuk mempertunjukkan berbagai lakon yang membuat masyarakat menepuk jidat. 

Ketika banyak orang berupaya menjaga diri dan memutakhirkan informasi tentang pandemi COVID-19, mereka malah mengabaikan peringatan pakar kesehatan, menyampaikan seruan yang berlawanan dengan pencegahan penularan, melanggar kebijakan yang dibuatnya sendiri, hingga melempar lelucon insensitif.

Ada beberapa nama yang berlakon ajaib dan patut diingat, di antaranya Kandidat Presiden Burundi Agathon Rwasa, Senator Filipina Christopher Lawrence “Bong” Go, Anggota Kongres Amerika Serikat Devin Nunes, dan Kepala Penasihat Perdana Menteri UK Dominic Cummings.

Kandidat Presiden Burundi, Agathon Rwasa, misalnya, membuat banyak orang berkumpul untuk mendukungnya secara terbuka dan mengabaikan protokol physical distancing. Mantan pemimpin gerilya etnis Hutu pada perang sipil tersebut berdalih perlu memastikan pemilu tetap berjalan guna meminimalisir kecurangan yang dapat dilakukan kandidat pesaingnya di masa mendatang.

"Ada waktu yang tepat untuk segala hal," katanya. "Ini bukan saatnya untuk menyerah dan meninggalkan orang-orang kita."

Pemilu di Burundi menghasilkan kegilaan yang sukar dibayangkan. Pada 14 Mei lalu, para politikus ramai-ramai bersepakat mengusir petugas WHO yang ditugaskan memantau keadaan pandemi COVID-19 di sana dengan alasan kelangsungan pemilu. 

Di Filipina, sekutu politik Presiden Rodrigo Duterte, Senator Christopher Lawrence “Bong” Go, memberikan bantuan di pada korban kebakaran di Butuan City, yang membuat lebih dari 100 orang berkumpul di tempat tersebut. Dalam sebuah foto, ia terlihat berbicara di depan kerumunan. Ia mengunggah swafoto dengan para penerima bantuan di laman Facebook-nya.

Menanggapi kritik terhadap kegiatan tersebut, Bong Go menulis, "Di masa krisis ini, jika anda tidak dapat membantu, cukup karantina mulut anda."

Devin Nunes, sekutu politik Presiden Trump, malah menganjurkan rakyat untuk keluar rumah dan bersantap di restoran-restoran lokal. Ia mengkhawatirkan kondisi perekonomian Amerika Serikat karena orang-orang takut keluar rumah.

"Salah satu hal yang bisa anda lakukan [untuk membantu ekonomi], jika anda dan keluarga anda sehat, ini adalah waktu yang tepat untuk keluar: pergilah ke restoran lokal, pasti anda bisa masuk dengan mudah [tanpa antre]," kata Nunes.

Beberapa jam setelah Nunes mengeluarkan komentar kontroversial tersebut, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengeluarkan panduan yang melarang masyarakat berkumpul dalam kerumunan lebih dari 50 orang.

Di UK, belakangan ramai pemberitaan tentang Dominic Cummings, penasihat PM Boris Johnson, yang pergi bersama istrinya untuk menjenguk orangtuanya yang sakit--dengan gejala COVID-19--saat UK menjalani lockdown pada akhir bulan Maret lalu. Yang menyedihkan, Cummings merupakan penganjur kebijakan lockdown di UK.

Melihat kelakuan para politikus ini, lirik lagu "Wild Time" karya Weyes Blood, penyanyi pop favorit saya belakangan, terus bergaung dalam kepala: “It's a wild time to be alive.”

Related Article