post

Current Affairs

Kelakar Mahfud MD: Virus Corona Seperti Istri. Ini Tanggapan Pasutri Betulan

Raka Ibrahim, 28 Mei 2020

Menkopol Hukam Mahfud MD berpidato biasa. Ia memberi sambutan dalam acara halalbihalal virtual Universitas Sebelas Maret dua hari lalu (26/5). Subyeknya pun biasa saja: upaya berkelanjutan pemerintah menerapkan kelaziman baru semasa pandemi COVID-19. Tiba-tiba momen cemerlang itu datang.

Belum lama ini, kata Mahfud, ia mendapat kiriman meme dari Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan. "Corona itu seperti istrimu," kata Mahfud, mengisahkan ulang meme tersebut. "Ketika kamu mau mengawini, kamu berpikir kamu bisa menaklukkan dia. Tapi sesudah menjadi istrimu, kamu tidak bisa menaklukkan istrimu. Sesudah itu, you learn to live with it."

Pernyataan Pak Mahfud melesat tinggi dalam klasemen kelakuan ajaib pemerintah edisi pandemi COVID-19. Aktivis Tunggal Pawestri menuduh Mahfud mereduksi persoalan kompleks pandemi menjadi “bercanda enggak bermutu bapak-bapak.” Sementara Komisioner Komnas Perempuan Andy Yentriyani merasa lelucon tersebut “misoginis” dan tak patut. Apalagi, berdasarkan data LBH Apik, sejak PSBB diterapkan, kasus kekerasan terhadap perempuan meningkat tiga kali lipat.

Namun, pernyataan Pak Mahfud menggelitik saya. Apakah benar pernikahan bermula sebagai upaya penaklukkan istri dan berakhir sebagai penerimaan? Didorong rasa penasaran, saya menghubungi kawan yang sudah menikah dan berkeluarga. Kebetulan, mereka juga andal diajak bicara soal pandemi.

Berikut obrolan saya dengan Cholil Mahmud (C), vokalis Efek Rumah Kaca dan pendiri Kios Ojo Keos, serta Irma Hidayana (I), peneliti dan penggagas Lapor COVID-19. Tentu saja mereka pasangan suami-istri.

Mahfud MD bilang dia dapat meme dari Pak Luhut yang bilang Corona itu ibarat istri. Apa tanggapan awal kalian mendengar kabar tersebut?

C: Waduh, mereka pejabat pemerintahan. Kita lihat penanganan pemerintah terhadap pandemi ini bisa dikatakan lalai sejak awal, dan sampai sekarang masih bisa bercanda aja. Bercandanya kayak begitu pula!

I: Apakah ini merefleksikan hubungan rumah tangga Pak Mahfud dan Bu Mahfud?

C: Dan antara Pak Luhut dan Bu Luhut?

[Tertawa dengan gugup]

I: Gue mau nanya ke Cholil, dong. Menurut kamu, apakah hubungan rumah tangga kita seperti itu? Apakah lo menganggap gue seperti digambarkan meme Pak Luhut itu?

C: Ya enggaklah! [tertawa dengan gugup juga] Mungkin konteksnya, laki-laki ingin mengendalikan segalanya, tapi kadang dia nggak ada kendali, sehingga akhirnya dia “ngikut” dengan pihak yang punya kendali. Secara relasi kuasa, mereka harus mengendalikan. Gue pribadi merasa harusnya tergantung siapa yang perlu mendapat dukungan. Kalau gue lagi butuh support, Irma yang akan support gue. Kalau Irma yang lagi butuh support, gue akan support dia. Bukan begitu?

I: Waduh, gimana ya? Kalau gue pribadi merasa ganjil mendengarkan omongan Pak Mahfud. Itu mencerminkan pandangan dia terhadap perempuan. Sebagai pejabat publik, ternyata dia patriarkisnya lumayan kuat. Sejak dalam pikiran, begitulah cara dia menempatkan perempuan dalam hidupnya, bahkan istrinya sendiri.

C: Mungkin enggak usahlah keluarga sendiri dibercandain kayak begitu di depan publik.

Apakah pernikahan beneran kayak begitu? Kamu memulai dengan kehendak menaklukkan, lalu lama-kelamaan menerima saja?

I: Menaklukkan hati, mungkin! [tertawa]

C: Tergantung pribadi masing-masing orang, ya. Penyebab menikah biasanya bukan kehendak menaklukkan, tapi rasa cinta. Mungkin kalau kita terlalu egois, di dalam rasa cinta itu juga ada kehendak untuk menaklukkan. Tapi rata-rata orang berangkatnya dari rasa sayang, rasa ingin bersama.

I: Kenyataannya nggak soal takluk-menaklukkan. Kalau gue kurang duit gue minta Cholil, kalau Cholil nggak ada duit gue yang kasih. Begitulah.

C: Untungnya lebih sering dua-duanya enggak ada duit, jadi biasanya enggak masalah!

Mungkin Pak Mahfud bilang begitu supaya Indonesia nrimo keberadaan COVID-19...

C: Kenyataannya, berdamai dengan COVID-19 itu metafor yang hancur lebur. Kita berdamai dengan apa? Berdamai artinya sebelumnya kita berperang--kita tahu lawannya siapa, cara menanggulanginya gimana, bahasanya gimana, dan ada persetujuan dari kedua belah pihak. Ini kan tidak.

Narasi “berdamai dengan virus” bisa berhasil ketika sekelompok orang yang mungkin digerakkan pemerintah mulai menyebarluaskan gagasan soal berdamai atau normal yang baru. Tapi virus itu nggak peduli soal lockdown atau PSBB. Tidak ada pola negosiasi atau narasi besar yang akan berpengaruh ke virus tersebut. Selama dia mau menyebar, dia akan tetap menyebar. Menurut gue salah jurusan.

I: Corona itu virus yang ada di dalam rumah kita. Lo harus bersihin. Seluruh isi rumah yang isinya manusia harus kompak. Lo harus ada sikap bersama supaya Mbak atau Mas Corona itu nggak kena ke lo. Jangan mau dikadalin sama mereka yang mau menjustifikasi bahwa kita harus berdamai dengan Corona. Mereka menganalogikan ini dengan rumah tangga untuk menyetir pikiran kita, supaya kita pikir kita bisa berdamai dengan Corona.

Yang artinya: nanti kita bisa saja mati kalau enggak punya sistem imun yang baik. Atau kalaupun imunitas kamu bagus, kamu bisa kena dan tetap mati kalau kamu enggak dapat akses ke layanan kesehatan yang baik. Mau kita kayak begitu?

C: Berdamai itu narasi yang dibuat untuk selanjutnya. Tapi data ilmiahnya nggak menunjang untuk itu. Kita seolah kasih istilah doang supaya orang senang. Dulu kan ada gagasan jangan menyebarluaskan berita negatif, padahal kalau sebenarnya ada orang meninggal mau gimana dong? Itu kenyataan. Berita itu bikin orang jadi lebih waspada, bukan bikin orang panik.

Berdamai itu bahasa yang positif tapi penuh tipu daya. Apa maksud konkretnya? Apa yang harus kita lakukan? Memangnya kemarin kita kenapa? Kita waspada dalam artian berusaha agar virus ini bisa dihambat penyebarannya--itulah berdamai sebenarnya.

Tapi kalau nggak jelas turunan apa yang dimaksud dengan berdamai, itu cuma upaya memanipulasi makna saja agar masyarakat beralih ke wilayah lain. Yaitu menggerakkan roda perekonomian tanpa melihat kemampuan penyelenggaraan fasilitas kesehatan. Nggak ada juga petunjuk pelaksanaan berdamai itu apa, turunan ke bawahnya itu apa.

Kalau kita berharap normal yang baru, orang pakai protokol kesehatan, terus berangkat kerja semua, emang ada angkutan umum yang bisa social distancing? Kan nggak bisa, karena kita nggak punya transportasi publik yang orang bisa berjarak. Gimana caranya orang kerja kalau numpuk?

Misalnya satu gerbong kapasitasnya 100 orang terus dijadikan maksimal 30 orang. Sisa 70 orang di tiap gerbong itu kan jadi nunggu di luar. Terus penumpang yang lainnya nunggu lagi, pada numpuk antre di stasiun. Sama saja nggak physical distancing. Kita sudah menyuruh normal yang baru tapi infrastruktur ke sana saja belum siap.

Terakhir: kalian sempat bilang kelakar dalam meme tersebut boleh jadi mencerminkan pernikahan Pak Mahfud dan Pak Luhut. Apakah ada tips mengarungi pernikahan untuk mereka?

C: [redacted]

I: [redacted]