Kehadiran Prabowo di Peringatan Kemerdekaan Tiongkok dan Isu yang Tak Terbukti

Anti-Cina masih menjadi isu SARA yang kerap kali dilontarkan kepada kubu lawan dalam perpolitikan Indonesia. Berbagai kabar yang berkaitan dengan orang-orang bermata sipit itu kerap dianggap sebagai isu yang sensitif, sebab kelompok itu kerap kali dianggap musuh oleh mereka yang menyebut diri sebagai ‘orang pribumi’.

Di tahun politik seperti saat ini, isu anti-Cina pun masih melengking di berbagai media. Para pendukung masing-masing calon presiden (capres) untuk perhelatan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 nanti masih beradu argumen. Sehingga, ketika ada capres yang menunjukkan kedekatannya dengan orang-orang Tionghoa, dialah yang nantinya akan ‘diserang’.

Seperti pendukung capres Prabowo Subianto yang kerap menuduh capres petahana Joko Widodo (Jokowi) sebagai anak dari keturunan orang Tiongkok, bahkan hingga tuduhan antek komunis, begitu juga dengan sebaliknya. Seakan kedua kubu ingin meneriakan label ‘anti-Cina’ kepada dua capres tersebut. Padahal, baik Jokowi maupun Prabowo masing-masing memiliki hubungan yang baik dengan Tiongkok.

Prabowo misalnya, capres dengan nomor urut 2 itu bahkan baru saja menghadiri acara perayaan Hari Nasional ke-69 Republik Rakyat Tiongkok yang berlangsung di Hotel Shangri-La, Sudirman, Jakarta Pusat, pada Kamis, 27 September 2018 malam. Dalam kesempatan itu, Prabowo sempat mengatakan bahwa Tiongkok adalah negara yang penting bagi Indonesia.

"Saya memandang Cina (Tiongkok) sangat penting bagi Indonesia jadi kita harus jalin hubungan baik, kita harus tingkatkan hubungan dalam tingkat yang lebih baik dan saling membantu," kata Prabowo dalam keterangan tertulisnya pada Kamis, 27 September 2018.

Calon presiden Prabowo Subianto menghadiri peringatan hari kemerdekaan Republik Rakyat Tiongkok di Hotel Shangri-La, Sudirman, Jakarta Pusat, pada Kamis, 27 September 2018. Foto: Istimewa

Kedatangan Prabowo itu tentunya untuk memenuhi undangan, di mana sehari sebelumnya Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia Xiao Qian berkunjung ke kediaman Prabowo di Hambalang, Bojong Koneng, Bogor. Dalam lawatannya, Dubes Qian mengucapkan selamat kepada Prabowo yang sudah ditetapkan resmi menjadi Capres RI, dan mendoakan semoga Prabowo dan Gerindra sukses pada Pemilu 2019.

"Prabowo Anti Cina" Adalah Isu yang Dibuat-Buat

Melihat sedikit ke belakang saat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta pada 2012 silam. Kala itu Prabowo, sang Ketua Umum Partai Gerindra meminang Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk menjadi kadernya yang akan maju sebagai calon kepala daerah. Ahok sendiri merupakan keturunan Tionghoa.

Namun pada 2012, Partai Gerindra bersama PDIP mengusung Jokowi-Ahok untuk maju pada Pilkada DKI Jakarta.  Usaha untuk menghapus stigma anti-Cina pun kembali ditunjukkan saat Pilpres 2014. Ahok yang ketika itu masih menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, diwacanakan akan mejadi pendamping Prabowo sebagai calon wakil presiden.

”Saya lihat Pak Ahok punya potensi. Gaya kepemimpinannya tegas serta kinerjanya baik. Dibutuhkan orang seperti itu untuk mewujudkan perubahan,” kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon saat membeberkan bahwa nama Ahok akan dipilih jika Gerindra meraih lebih dari 20 persen suara dalam pemilu legislatif, tepatnya pada 3 Maret 2014 silam.

Di pesta Demokrasi 4 tahun lalu, Prabowo pun sempat berencana akan berkunjung ke Republik Rakyat Tiongkok sebagai negara pertama yang akan disambanginya jika terpilih menjadi Presiden. “Beliau [Prabowo] sudah katakan sebagai menghormati Tiongkok sebagai negara yang muncul setelah 30 tahun jadi negara adikuasa. Kalau Prabowo terpilih akan mengunjungi Republik Rakyat Tiongkok sebelum ke Amerika,” kata adik kandung Prabowo, Hashim Djojohadikusumo di Restoran Nelayan, Jakarta Utara, Rabu, 11 Juni 2014.

Dari sini, bisa dilihat bahwa Prabowo adalah sosok yang terbuka dalam melakukan hubungan bilateral, termasuk Republik Rakyat Tiongkok.

Related Article