Kasus Pelecehan Seksual Kobe Bryant adalah Warisan Kelamnya

Ada satu hal yang tak perlu diragukan: Kobe Bryant seorang legenda. Ia lima kali menjuarai kompetisi basket NBA, 18 kali masuk tim All-Star, 15 kali dilantik dalam All-NBA Team, menjadi Most Valuable Player (MVP) dalam edisi 2008 NBA, dan dua kali jadi pemenang MVP Final NBA. Ketika ia meninggal pada 26 Januari 2020 akibat kecelakaan helikopter, tak hanya pecinta basket yang berduka, dan sudah sepantasnya begitu.

Ia pun dikenal sebagai bapak yang penuh dedikasi dan pendukung setia olahraga perempuan. WNBA, asosiasi basket perempuan Amerika Serikat, menyebutnya seorang “legenda” yang berpengaruh besar mendongkrak popularitas olahraga tersebut. Gianna, putri remajanya yang juga meninggal dalam kecelakaan naas tersebut, adalah seorang pemain basket yunior. Ia bermain untuk tim Mambas yang dikelola Bryant.

Namun, ada persoalan lain yang nyaris luput dari perbincangan mengenai Bryant. Pada Juni 2003, ia dituduh memperkosa seorang pekerja di sebuah resor di Colorado, Amerika Serikat. Dalam pernyataan ke publik, Bryant yang saat itu sudah menikah mengaku bahwa ia betul telah main serong, tetapi menegaskan bahwa relasi tersebut didasari suka sama suka.

Akibat keteledoran pegawai penegak hukum, nama penuduh yang seharusnya anonim tak sengaja bocor ke publik. Bryant saat itu telah tiga kali juara NBA bersama tim L.A Lakers, dan jadi salah satu pebasket paling tenar di muka bumi. Kontan, perempuan itu menerima luapan ancaman dan intimidasi. Pada 2004, ia menolak menyampaikan kesaksian di hadapan hukum dan kasus tersebut buyar.

Cori Close, pelatih basket perempuan UCLA, berpendapat bahwa dukungan non-stop Bryant terhadap basket perempuan bisa jadi adalah bukti ia hendak menebus kesalahan masa lalunya. Namun, bukan berarti nama Bryant bersih begitu saja. Pada Oktober 2018, Bryant mengunjungi kantor The Washington Post, salah satu koran terbesar Amerika Serikat. Ia disambut bak raja, bercakap-cakap akrab dengan kepala redaksi, dan dipotret untuk sampul depan. 

Namun seperti dilansir The New York Times, kunjungan Bryant menuai protes dari staf redaksi. Terutama dari Amy Brittain, reporter investigatif yang membeberkan kasus pelecehan seksual yang dilakukan bintang televisi Charlie Rose. Saat itu, Brittain dan lebih dari 100 koleganya menandatangani surat protes atas kunjungan Bryant yang ditujukan kepada kepala redaksi. Namun, surat tersebut tak pernah dikirim dan hiruk pikuk tersebut lekas reda.

Pada tahun yang sama, film “Dear Basketball” yang diproduseri Bryant juga dirundung kontroversi. Ketika film pendek animasi tersebut masuk nominasi Academy Awards 2018, lebih dari 17 ribu orang menandatangani petisi daring agar nominasinya dicabut. Sudah tentu itu tak terjadi, dan “Dear Basketball” justru menang Oscar.

Meski terkesan remeh, kedua insiden tersebut menunjukkan bahwa bahkan lebih dari satu dekade sejak kasusnya, reputasi Bryant belum sembuh sempurna. Mengutip The New York Times, Bryant tak seperti Shaquille O’Neal atau Michael Jordan yang “bisa diidolakan secara terang-terangan.” Ia sosok problematis dengan dua sisi, dan segala ungkapan cinta terhadapnya mesti mempertimbangkan hal itu.

Persoalan ini kembali mengemuka tak lama setelah kematian Bryant. Felicia Sonmez, reporter The Washington Post, men-twit tautan artikel tentang kasus pemerkosaan Bryant tak lama setelah kabar kematiannya mengudara. Dengan lekas, tagar #FireFeliciaSonmez masuk trending topic dan Sonmez menerima intimidasi, bahkan ancaman pembunuhan.

Tanggapan The Washington Post amat mengejutkan. Marty Baron, editor eksekutif The Washington Post, menghardik Sonmez melalui surel seraya menyebut bahwa ia “menyakiti institusi ini”. Sonmez menerima skors oleh kantornya atas tuduhan menyalahgunakan media sosial, sebelum suspensi Sonmez mendadak dicabut dua hari kemudian. Dalam lansiran resmi ke publik, editor pelaksana Tracy Grant menyampaikan: “Kami selalu menghimbau staf kami untuk menahan diri, apalagi saat terjadi kematian tragis.”

Bryant adalah seorang ikon yang dicintai. Ia pahlawan masa kecil satu angkatan pecinta basket, dan kerja baiknya dalam mempromosikan basket perempuan tak dapat dipungkiri lagi. Namun, apa yang dimaksud dengan menahan diri? Tuduhan terhadapnya adalah bagian dari masa lalu Bryant yang layak diperbincangkan secara terbuka. Bila tidak untuk Bryant, paling tidak untuk begitu banyak penyintas kekerasan seksual yang barangkali risih akibat membanjirnya pujian mengharu biru terhadapnya.

Patut diakui, saya turut bersalah. Ketika kabar kecelakaan Bryant melimpah di linimasa, saya turut menyampaikan belasungkawa. Saya tak pernah mengikuti dunia basket, dan kasus pelecehan seksualnya tak pernah sampai di telinga. Saya tidak paham tentang warisannya yang kompleks serta masa lalunya yang kelam. Saya hanya melihat duka mendalam disampaikan teman-teman saya, dan meski saya tidak paham beliau siapa, saya ingin menghibur mereka.

Ketika insiden suspensi Sonmez mulai ramai diperbincangkan, mau tidak mau saya membaca kasus Bryant secara lebih seksama. Pada saat itu, saya mulai menyesali ucapan duka atas kematiannya. Namun, bagaimana caranya menyampaikan hal ini secara sehat? Saya tidak ingin merampas duka orang-orang di sekitar. Hanya saja, patut kah merayakan seseorang yang problematis dengan begitu terang-terangan?

Beberapa tahun lalu, saya pernah menghadapi dilema serupa. Kali ini lebih dekat dan nyaring. Suatu pagi, saya menerima kabar bahwa seorang aktivis senior meninggal dunia akibat sakit berkepanjangan. Ia punya rekam jejak panjang di isu hak LGBTQ, kesetaraan gender, dan melawan stigma terhadap ODHA. Tak sedikit teman, kenalan, serta bekas rekan kerja yang melimpahkan ucapan duka. 

Saya diam saja, sebab saya mengenalnya sebagai orang yang pernah melecehkan saya.

Kejadiannya hampir satu dekade lalu, saat saya masih merintis karier di kerja sosial dan dipekerjakan salah satu lembaga swadaya masyarakat. Usia saya 16 tahun, gaji saya ala kadarnya, dan saya tidak mengerti apa-apa. Lelaki ini sosok terpandang, pegang uang donor, dan banyak kawan. Ia cerdas, kharismatik, dan akrab dengan aktivis senior di lingkar pergaulan saya. Saya memandangnya sebagai pakar yang kata-katanya berbobot dan sosok mentor yang disegani.

Pada perjumpaan pertama, ia langsung menaruh perhatian pada saya. Ia melontarkan godaan tak pantas, menjawil paha dalam dan pantat saya, serta beberapa kali berkelakar bahwa ia berniat “membungkus” saya. Patut dicatat bahwa beberapa kawan telah memperkenalkan saya kepadanya sebagai anak baru yang bahkan belum lulus SMA. Sehingga semestinya ia tahu saya belum cukup umur. Penting dicatat pula bahwa pelecehan tersebut ia lakukan di kantor, tak lama setelah rapat selesai, saat banyak rekan kerja saya masih ada dan berkeliaran.

Saat itu saya berpikir begini: saya muda, tak ada nama di aktivisme, dan tak punya keluarga terpandang yang dapat mengerahkan tenaga orang dalam. Jika ia berani bersikap seperti ini di kantor saya sendiri selagi teman-teman saya masih hadir, apa yang akan ia lakukan seandainya saya menolak apalagi melapor? Siapa pula yang bakal percaya? Lagipula, ia cuma meraba-raba dan menggoda saya. Apakah sungguh-sungguh terjadi pelecehan, atau saya saja yang berlebihan? 

Maka saya bungkam. Ketika menerima kabar lelaki itu meninggal, saya tertawa terbahak-bahak, menangis di toilet kantor, lantas tak bisa berfungsi selama beberapa hari. Semua teman-teman saya bersatu dalam duka dan menghaturkan pujian tak henti-henti terhadap lelaki ini, sementara saya menjerit sendirian. Apa saya yang salah? Apa kejadian tersebut cuma mimpi? Saya merasa seperti hendak mengencingi kue ulang tahun orang lain, padahal saya berani bersumpah kue tersebut beracun.

Pengalaman saya jelas jauh panggang dari api dengan nestapa korban Bryant. Namun, saya bersimpati kepadanya. Dalam masyarakat patriarkis yang terang-terangan mendiskriminasi perempuan, agak naif untuk berasumsi bahwa sistem hukum dapat bersikap sepenuhnya obyektif dan kita wajib menyandarkan seluruh pemahaman kita terhadap suatu kasus pada keputusan kering hukum. Dalam kasus kekerasan seksual, ada komplikasi lebih bagi perempuan dan LGBTQ yang tidak dihadapi oleh laki-laki cisgender dan heteroseksual.

Nama dan identitas penuduh Bryant tak sengaja dibocorkan ke publik. Hal ini sangat penting untuk dipertimbangkan. Kobe Bryant seorang megabintang. Wajah dan nama penuduhnya bakal dipampangkan di sampul depan semua koran di muka bumi. Ia dan keluarganya akan menerima ancaman, kecaman, dan intimidasi tak henti-henti dari orang-orang sekitar maupun sosok-sosok anonim di dunia maya. Mereka akan merasa terancam di rumahnya sendiri, mesti hidup berpindah-pindah, dan menuai penolakan terus menerus.

Kalau pun kasus tersebut berlanjut di hadapan hukum dan putusan hakim berpihak kepada korban, namanya telah tercoreng. Ia akan selamanya dikenal sebagai perempuan yang dilecehkan seksual oleh Kobe Bryant. Maka, tak heran bila di tengah terpaan intimidasi dari publik, penuduh Bryant memutuskan tak hadir di pengadilan. Mungkin ia tak tahan dengan tekanan. Mungkin ia ingin berhenti disorot publik. Mungkin ia tak ingin berdiri di hadapan hakim dan mengisahkan ulang peristiwa traumatis tersebut secara terperinci selagi paparazzi bergerombol dan jutaan orang menonton. Yang jelas, bukan urusan kita kenapa ia memutuskan menarik diri. Ia berhak mengambil keputusan yang terbaik untuk menjaga dirinya sendiri. 

Prinsip yang sama dapat kita sampaikan kepada RW yang menuduh sastrawan SS, Agni yang diperkosa saat KKN UGM, dan korban-korban lainnya yang berceceran di seantero Indonesia. Bahkan ketika mereka memberanikan diri, menentang traumanya sendiri, dan maju untuk melapor, hukum belum tentu berpihak kepada mereka. Saya seorang lelaki cisgender heteroseksual, dengan segala privilese yang membuntuti, tetapi saya saja gemetar menulis naskah ini. Lebih lagi Agni, RW, dan penuduh Bryant. Apakah hal ini pernah kita pertimbangkan?

Dalam kasus saya sendiri, persoalan bertambah rumit karena pelaku terhadap saya seorang aktivis LGBTQ yang kebetulan berorientasi seksual gay. Respon homofobik terhadap kasus Reynhard Sinaga membuktikan bahwa kita belum mengerti bahwa muasal kasus perkosaan bukanlah orientasi seksual seseorang. Melainkan relasi kuasa yang timpang dan patriarki. 

Salah satu alasan saya memilih bungkam adalah karena saya, entah kenapa, tidak ingin gerakannya layu sebelum berkembang. Tentu kita dapat berargumen bahwa pembiaran terhadap perilaku seperti itu justru dapat menyakiti gerakan secara internal dalam jangka panjang. Tetapi itu perdebatan lain yang kiranya dapat dibahas di lain waktu, dan oleh orang yang lebih cakap ketimbang saya.

Bagi saya, kematian pelaku dan Bryant memaksa saya belajar mengenai nuansa. Kita dapat berduka dan mengenang warisan baik seseorang selagi tetap mengakui kesakitan yang telah ia sebabkan terhadap orang lain. Kerja baik tak mesti tercoreng oleh perilaku tercemar seorang individu. Hanya karena Kobe Bryant pernah menjadi pelaku pelecehan seksual, bukan berarti olahraga perempuan tak layak diberi dukungan. Hanya karena pelaku saya seorang predator, bukan berarti semua orang LGBTQ adalah penjahat kelamin dan gerakannya mesti mampus.

Lebih dari apapun, kasus Kobe Bryant adalah pengingat bahwa suara korban tak layak ditenggelamkan oleh apapun juga. Pengalaman dan trauma yang mereka hadapi mesti kita hormati. Panggung yang lapang dan berkilauan tak semestinya kita persiapkan untuk setiap pelaku selagi kita menepikan korban. 

Jika ada secuilpun hikmah dari pelecehan terhadap saya, hingga kini saya berusaha sebisa mungkin untuk memberi ruang bagi narasi korban. Saya telah mempersiapkan kavling khusus di palung neraka bagi semua pecundang yang melecehkan korban kekerasan seksual, entah karena alasan cuddling atau dark jokes.

Gajah mati meninggalkan gadingnya. Wajar saja bila terkadang, gading tersebut retak dan kusam. Tugas kita bukan memolesnya, apalagi memperbaikinya. Tugas kita adalah memastikan tak ada lagi yang tewas tertusuk gading sialan tersebut.

Related Article