post

Politik

Mengungkap Arti Kartu Kuning dalam Sepak Bola dan Politik

Ramadhan, 5 Februari 2018

Insiden kartu kuning yang dilakukan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) Zaadit Taqwa kepada Presiden Joko Widodo menjadi sorotan panas dan memicu kontroversi dalam beberapa hari terakhir sejak dilakukan pada Jumat, 2 Februari. Aksi itu dilakukan sebagai bentuk peringatan terhadap pemerintahan Jokowi yang dinilai masih abai terhadap sejumlah isu penting di Tanah Air.

Dalam aksinya, Zaadit, yang saat itu mengenakan batik lengan panjang, meniupkan peluit dan mengacungkan buku berwarna kuning ke arah Jokowi. Saat itu, Jokowi sendiri tengah mengisi orasi ilmiah dalam rangka Dies Natalis ke-68 UI di Balairung, Depok, di hadapan ratusan undangan lainnya.

Apa sih sebenarnya makna kartu kuning itu sendiri? Untuk lebih jelasnya, ayo kita simak sejarah kartu kuning dalam sepak bola dan maknanya.

Apa makna kartu kuning?

Kartu kuning dalam dunia sepak bola memiliki konotasi negatif, sama seperti kartu merah yang sama-sama dikeluarkan saat pemain sepak bola melakukan pelanggaran. Bedanya, warna kuning masih berupa peringatan, bukan keputusan final yang mengakibatkan pemain yang melakukan pelanggaran harus dikeluarkan dari lapangan.

Kapan kartu kuning pertama kali digunakan?

Berdasarkan aturan yang dimuat laman FIFA, kartu kuning dan kartu merah muncul lewat ide seorang wasit asal Inggris bernama Ken Aston pada 1967.

Lewat ide yang akhirnya disetujui FIFA, peraturan pemberian kartu kuning dan kartu merah pun pertama kali diuji coba pada gelaran Olimpiade 1968 serta Piala Dunia 1970. Selanjutnya, sistem ini diwajibkan penggunaannya di seluruh pertandingan sepak bola mulai 1982.

Sejak itu hingga kini, peraturan penggunaan kartu kuning dan kartu merah terus digunakan dan menjadi bagian penting yang tak terpisahkan dari dunia sepak bola.

Dari mana inspirasi munculnya penggunaan kartu kuning?

Wasit asal Inggris, Ken Aston (tengah), saat memimpin sebuah pertandingan di Piala Dunia 1962. Foto dari kenaston.org
Wasit asal Inggris, Ken Aston (tengah), saat memimpin pertandingan dalam Piala Dunia 1962. Foto dari kenaston.org

Aston, yang juga berprofesi sebagai guru, mengaku penemuannya soal penggunaan kartu kuning awalnya terinspirasi dari hal yang sangat sederhana, yakni lampu lalu lintas. Iya, lampu lalu lintas yang berwarna merah, kuning, dan hijau itulah yang mengilhami Aston soal kartu kuning.

“Saat saya berkendara di Kensington High Street, lampu lalu lintas menyala merah. Saya berpikir, 'Kuning tandanya hati-hati, merah tandanya kamu harus berhenti,” ucap Aston seperti dimuat di laman FIFA.

Sebelum mendapatkan ide itu, Aston selalu dipusingkan dengan berbagai kericuhan yang harus dihadapinya saat memimpin pertandingan. Aston yang merupakan salah satu wasit terbaik di Inggris, beberapa kali ditugaskan memimpin pertandingan penting seperti laga Piala Dunia dan final Piala FA.

Melihat kerap menghadapi kericuhan saat memimpin pertandingan, Aston mulai berpikir bagaimana caranya agar ada komunikasi universal yang bisa dimengerti semua orang ketika wasit memberikan peringatan, atau meminta pemain keluar dari lapangan.

Dengan begitu, wasit yang memimpin pertandingan pun tak perlu repot-repot untuk memberikan penjelasan mengapa seorang pemain dikeluarkan dengan bahasa yang belum tentu bisa dimengerti. Lalu, ide kartu kuning pun muncul dari kepala Aston tengah berada di sebuah persimpangan jalan dan melihat lampu lalu lintas.

Untuk apa kartu kuning digunakan?

Dari inspirasi tadi, Aston akhirnya mengusulkan untuk menggunakan kartu kuning sebagai peringatan kepada pemain untuk berhati-hati. Sedangkan kartu merah digunakan untuk menghentikan keikutsertaan seorang pemain dalam sebuah pertandingan.

Apa saja isu yang perlu jadi perhatian pemerintah?

Sudah cukup jelas, ya guys, maksud dan tujuan Zaadit mengeluarkan kartu kuning untuk Jokowi. Ia ingin memberi peringatan kepada orang nomor satu di Indonesia soal kebijakan-kebijakan yang dirasa masih bermasalah dan belum tuntas. Apa aja sih?

Setidaknya ada tiga poin penting yang menjadi kritik BEM UI kepada Jokowi lewat kartu kuning, yaitu:

  1. Menuntaskan persoalan gizi buruk di Asmat, Papua.
  2. Menolak dengan tegas rencana pengangkatan pelaksana tugas (Plt) gubernur dari kalangan Polri aktif
  3. Menolak draf Peraturan Menteri Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Permendikti) tentang organisasi mahasiswa yang dianggap membatasi pergerakan mahasiswa.