Kalo Enggak Impor Sama Sekali, Indonesia Bakal Bangkrut

Seru ya, kalau lagi menjelang pemilu kayak sekarang-sekarang ini. Setiap hari, kita disuguhin sama usaha-usaha para calon-calon yang pengen dipilih. Ada yang berusaha menggunakan akal sehat, tapi juga enggak jarang yang bermodalkan keviralan dan keviralan semata. Yang penting viral, atau yang lebih parah, yang penting mereka denger dan percaya. Urusan nanti deh janji-janji dan ucapannya bisa direalisasikan atau enggak. Yang penting bikin adem hati aja dulu.

Salah satu yang terbaru adalah ucapan Prabowo, calon presiden dari nomor urut 02, yang kembali menjadi viral. Belum selesai urusannya dengan Boyolali, Prabowo kembali  menciptakan ucapan yang viral. Sebagai kritiknya terhadap impor yang masih terus dilakukan dalam pemerintahan Joko Widodo, Prabowo berucap seperti berikut.

“Saya bersaksi di sini, kalau InsyaAllah saya menerima amanat dari rakyat Indonesia, saya akan bikin Indonesia berdiri di atas kaki kita sendiri! Kita tidak perlu impor apa-apa saudara-saudara sekalian! Kita harus dan kita mampu swasembada pangan! Mampu! Kita juga harus dan mampu swasembada energi, swasemebada bahan bakar! Kita tidak perlu impor 1,3 juta barel tiap hari. Kita tidak perlu mengirim 30 miliar dolar tiap tahun ke luar negeri hanya untuk bayar bahan bakar.”

Begitu kira-kira ucapan Prabowo. Saya pribadi sudah cukup speechless dengan ucapan beliau yang satu ini. Terlalu banyak argumentasi yang perlu dikaji kembali dan dilihat kebenarannya. Sebagai orang yang sabar, saya akan coba membahas ucapannya ini dari logika yang paling dasar, biar kalian semua tahu kalau ia terpilih dan berusaha merealisasikannya, justru dia sendiri yang bakal bikin Indonesia bangkrut.

Pertama, mari kita telaah dari tataran konseptual sebelum ke tataran praktis dan kondisi saat ini. Adam Smith, dalam salah satu pemikirannya yang kita kenal dengan istilah prinsip Absolute Advantage, berargumen kalau negara ingin maju, salah satu yang harus dilakukan adalah melakukan spesialisasi untuk satu barang produksi yang paling efisien. Contohnya, anggap Indonesia memiliki kehandalan dalam kopinya, karena memiliki kemampuan mengekspor kopi dengan kualitas terbaik dengan jumlah yang paling besar. Tetapi Indonesia tidak memiliki industri kendaraan bermotor yang baik. Sedangkan Jepang tidak bisa memproduksi kopi sebaik Indonesia, tetapi dapat memproduksi kendaraan bermotor lebih baik dari Indonesia. Berdasarkan konsep Absolute Advantage milik Adam Smith, Indonesia harus terus memproduksi Kopi jika ingin maju, dan menyerahkan produksi mobil ke Jepang. Alasannya, biaya yang lebih besar justru akan dikeluarkan oleh Indonesia jika memproduksi mobil sendiri daripada impor dari Jepang. Dengan impor dari Jepang, Indonesia akan mendapatkan kendaraan bermotor dengan kualitas lebih baik dan biaya yang lebih murah daripada memproduksinya sendiri. Perlu dicatat apa yang saya jelaskan ini hanya sekadar contoh ya.

Terus, apa makna dari prinsip ini? makna yang berusaha dicetuskan oleh Smith adalah bahwa spesialisasi dapat menghasilkan efisiensi yang membuat suatu negara lebih makmur tanpa harus memproduksi semuanya sendiri. Karena belum tentu, memproduksi sendiri berarti makmur. Bisa saja dengan memproduksi sendiri, suatu negara justru kehilangan spesialisasi dan tidak leading dalam produk apapun. Akibatnya? Suatu negara akan terjebak menjadi negara berkembang saja. Negara lain yang memproduksi lebih baik akan menjadi negara yang memimpin dalam komoditas atau produk tertentu, dan biasanya menjadi acuan utama.

Memang pada kenyataannya, dunia tidak sekaku itu. Tetapi di sini poinnya adalah bahwa suatu negara tidak bisa sendirian memproduksi semuanya, karena itu justru bunuh diri. Konsep lain yang perlu dipahami dalam menganalisis argumentasi Prabowo ini adalah konsep interdependensi yang berangkat dari ilmu Hubungan Internasional. Konsep ini berargumen kalau suatu negara akan memiliki kemungkinan berperang dengan negara lain lebih kecil jika adanya ketergantungan satu sama lain. Maksudnya di sini, jika suatu negara bekerja sama dengan negara lain, maka perang dapat terhindarkan. Hal yang indah bukan? Bayangkan jika Indonesia benar-benar memproduksi semuanya sendiri. Mungkin saja sih, tapi kira-kira apa ya reaksi Tiongkok atau Amerika Serikat untuk meredam hegemoni Indonesia ini? Jika negara lain tidak merasa memiliki kepentingan dengan Indonesia, tentunya hegemoni Indonesia akan dengan mudah dijegal oleh negara lain, yang tentunya merasa terancam dengan menguatnya Indonesia di tingkat global.

Oke, cukup dengan tataran konseptual. Sekarang kita tarik argumentasi yang dibawa oleh Prabowo dengan kondisi saat ini. Argumentasi yang dibawa oleh Prabowo adalah tentang Indonesia yang tidak perlu impor sama sekali, terutama impor bahan bakar dan bahan pangan. Pertama, kalau kita tidak impor sama sekali, terus mau diapakan kerja sama dengan berbagai negara yang telah dilakukan sektor privat? Misalnya mobil dari Jepang. Ada perjanjian yang menyebutkan di dalamnya bahwa harus ada bagian yang diimpor, dan harus ada bagian yang memang berasal dari Indonesia. Jika tiba-tiba kalau Prabowo jadi presiden dan ini dilakukan, bukannya itu pelanggaran kontrak? Terus bagaimana nasib Astra Indonesia? Berapa banyak pekerjaan yang akan hilang kalau tiba-tiba Astra Indonesia tutup? Terus bagaimana jutaan mobil dan motor yang ada di jalanan Indonesia? Suku cadangnya? Pertanyaan-pertanyaan esensial nan fundamental ini akan terus bertambah jumlahnya jika memang Prabowo memutuskan untuk tidak mengimpor sama sekali.

Kemudian, secara spesifik, Indonesia tidak perlu impor bahan pangan atau bahan bakar. Terus kalau lagi kelangkaan, mau dikasih bahan bakar apa jutaan mobil yang ada di Indonesia? Air mineral? Kalau misalnya kelangkaan beras karena ternyata ada yang gagal panen, mau dikasih apa sebagai gantinya? Indonesia kan begitu membutuhkan nasi. Kalau terjadi kelangkaan, hanya ada dua pilihan: impor atau harga beras naik. Ya tentu impor lagi, toh? Masa kita membiarkan beras harganya melambung tinggi, makin susah dong orang makan nasi?

Dari sini saja, saya bisa terus berlanjut mengoceh dan meracau tentang skenario kehancuran Indonesia seperti apa bila impor tiba-tiba ditutup sama sekali. Alih-alih kuat, Indonesia akan bangkrut. Apa memang ini merupakan strategi menuju Indonesia bubar 2030 yang pernah diucapkan oleh Prabowo beberapa waktu tahun yang lalu ya?

Hafizh Mulia adalah mahasiswa tingkat akhir program sarjana di Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia. Tertarik dengan isu-isu ekonomi, politik, dan transnasionalisme. Dapat dihubungi melalui Instagram dan Twitter dengan username @kolejlaif.

 

Related Article