Kalimantan Timur: Sejarah Kerajaan sampai Stadion Megah

Presiden Joko Widodo akhirnya resmi mengumumkan lokasi pemindahan ibu kota negara yang baru yakni dari DKI Jakarta ke Kalimantan Timur, dalam konferensi pers yang berlangsung di Istana Negara, Jakarta, Selasa (27/08/19). 

Nah, lokasi ibu kota nantinya terletak di dua kabupaten yang tersambung di Kaltim yakni sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian Kabupaten Kutai Kertanegara. "Pemerintah telah melakukan kajian mendalam dan intensifkan studinya selama tiga tahun terakhir," kata Presiden Jokowi.

Saat mengetahui lokasi tersebut, orang-orang tentu akan kembali bernostalgia dengan sejarah, terutama karena masuknya wilayah Kutai Kertanegara. Ya, Dalam sejarahnya, Kerajaan Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia. 

Jejak itu bisa dilihat dari penemuan tujuh buah prasasti yang ditulis dalam bahasa Sansekerta dan menggunakan huruf Pallawa di atas tugu bernama Yupa. Dari prasasti itu dapat diketahui bahwa Kerajaan Kutai telah ada sejak abad 5 Masehi dengan raja pertama dari Kerajaan Kutai adalah Raja Mulawarman. 

Mulawarman merupakan putra dari Raja Aswawarman, yang juga seorang cucu dari Maharaja Kudungga. Mulawarman kemudian menamai kerajaannya itu dengan nama Kerajaan Kutai Martadipura. Keterangan ini juga didapatkan dari salah satu tujuh prasasti. Atas kebaikan dan kedermawanan Mulawarman karena telah menyedekahkan 20 ribu ekor sapi kepada kaum Brahmana, namanya dituliskan dalam Yupa.

Keputusan pindah ibu kota ini dilakukan setelah pemerintah melakukan kajian intensif dan mendalam selama tiga tahun terakhir. Setidaknya ada sejumlah alasan mengapa pemerintah akhirnya memilih dua lokasi di Kaltim tersebut untuk dijadikan ibu kota baru.

Pertama, risiko bencana minimal, baik bencana banjir, gempa bumi, tsunami, kebakaran hutan, maupun tanah longsor. Kedua, lokasi tersebut dinilai strategis. Jika ditarik koordinat, lokasinya berada di tengah-tengah wilayah Indonesia. 

Lalu, ketiga, lokasi itu berada dekat perkotaan yang sudah terlebih dahulu berkembang, yakni Kota Balikpapan dan Kota Samarinda. Keempat, telah memiliki infrastruktur yang relatif lengkap. Terakhir, hanya di lokasi tersebutlah terdapat lahan pemerintah, yakni seluas 180.000 hektar.

Yakin luas wilayah 180 ribu hektare itu untuk ibu kota baru? Kalau kata Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil sih 180.000 hektare itu terlalu luas, nanti malah gagal dan berpotensi jadi kota mati, terutama pada malam hari selepas aktivitas pekerjaan warga berhenti. 

"Hasil pengalaman saya sebagai dosen perkotaan, asumsinya terlalu luas. Harus dikaji ulang, jangan sampai menghasilkan kota yang terlalu luas," kata Ridwan Kamil usai bertemu Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (28/08).

Kang Emil, sapaan akrabnya, menilai, jika terlalu luas berpotensi membuat kota itu terlalu berorientasi terhadap kendaraan bermotor. Hal ini bertentangan dengan konsep kota masa futuristik. "Harus dikaji ulang. Karena di masa depan kota futuristik itu kota yang jalan kaki. Kantor, rumah, sekolah harus berdekatan. Kalau kepepet baru (naik) transportasi umum, terakhir baru mobil," ucapnya.

Pemerintah tampaknya memang harus mencontoh Amerika Serikat yang sukses memindahkan ibu kota dari New York ke Washington DC, yang hanya memiliki luas wilayah sekitar 17.000 hektare. Jadi, idealnya luas wilayah ibu kota baru nanti itu ya sekitar 30.000 hektare saja, biar efektif dan efisien.

Budget Pembiayaan Ibu Kota Baru

Dari sisi pendanaan, Jokowi membeberkan total kebutuhan biaya untuk ibu kota baru kurang lebih Rp 466 triliun. Nantinya, 19,2 persen dari kebutuhan pendanaan itu akan berasal dari APBN.

Sementara porsi terbesar dari pendanaan tersebut berasal dari Kerja sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) yang sebesar 54,6 persen dari keseluruhan dana yang dibutuhkan. Adapun 26,2 persen sisanya bakal mengandalkan investasi swasta dan BUMN. 

Lalu, dana dari APBN itu bakal digunakan untuk infrastruktur pelayanan dasar, Istana Negara dan bangunan strategis TNI/Polri, rumah dinas ASN/TNI/Polri, pengadaan lahan, ruang terbuka hijau, dan pangkalan militer. Adapun skema pendanaan dengan KPBU bakal digunakan untuk pembangunan Gedung Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif, infrastruktur lain yang tidak tercakup dalam APBN, sarana pendidikan dan kesehatan, museum dan lembaga permasyarakatan, juga sarana penunjang lainnya

Sementara dana pemindahan yang dibiayai swasta untuk membangun perumahan umum, perguruan tinggi, science-technopark, peningkatan kualitas bandara, pelabuhan, dan jalan tol. Selain itu juga untuk membangun sarana kesehatan, pusat perbelanjaan, dan sarana MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition).

Pada tahun 2020, pemerintah sudah mulai mematangkan regulasi, masterplan, dan desain tata ruang. Sementara proses pemindahan ibu kota baru paling lambat akal dilakukan pada tahun 2024 mendatang. 

Konsep Forest City

Ibu kota baru nantinya mengusung konsep forest city (kota hutan). Pemerintah mengolaborasikan konsep kota modern, smart, beautiful, and suistainable dengan kekayaan hutan tropis. Artinya, konsep ibu kota baru nantinya terletak di tengah hutan. Hutan menjadi sarana buffer zone pelindung ibu kota.

Idealnya, pemerintah membangun kota hijau memaksimalkan daya dukung alam Kalimantan. Sehingga, ibu kota baru menjadi kawasan paru-paru dunia. Konsepnya memanfaatkan 30 persen area hutan untuk pembangunan ibu kota, sementara sisa area dipertahankan sebagai hutan konservasi.

Konsep forest city ini sesuai kawasan Tahura Bukit Soeharto, area konservasi milik negara yang berada di tengah kota Kaltim, Balikpapan, Samarinda, dan Kukar.

Lalu, desain wajah ibu kota itu akan seperti apa sih? Setidaknya ada tiga pendekatan yang dijabarkan dari visi yang ada. Pertama, mencerminkan identitas bangsa. Dalam hal ini identitas bangsa akan diterjemahkan dalam urban design secara filosofis dari pilar-pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945. 

Identitas bangsa akan tergambar melalui desain morfologi dan fungsi-fungsi kota. Kemudian, ruang-ruang bagi aktivitas masyarakat yang mendorong prinsip gotong royong dan fungsi-fungsi serta wadah yang melestarikan sejarah dan budaya bangsa. Sebagai visualisasi gagasannya, akan dibangun sebuah lapangan lengkap dengan Monumen Pancasila di tengahnya. 

Lapangan tersebut berada di kawasan inti pusat pemerintahan berbentuk lingkaran yang di bagian tengah terdapat bintang dan sebuah menara tinggi menjulang. Pendekatan kedua ialah mewujudkan keberlanjutan sosial-ekonomi-lingkungan. Sebagai outcome dari integrasi ketiga aspek tersebut, pembangunan yang dilakukan akan meminimalkan intervensi terhadap alam.

Selain itu, ada lima pemikiran lain, yakni mengintegrasikan ruang-ruang hijau dan biru; mempertahankan keberadaan hutan Kalimantan (city in the forest); memperbanyak public dan community spaces; mengadopsi new urbanism dan green building/infrastructure; terakhir, kualitas ruang yang mendorong kreativitas dan produktivitas masyarakat.

Visualisasi gagasan yang dilakukan ialah dengan menghadirkan integrasi ruang hijau dan biru di mana geometri kawasan disesuaikan berdasarkan kearifan lokal. Adapun ruang terbuka publik akan mengusung konsep dapat diakses oleh seluruh kalangan. Nanti, Istana Negara akan berada tepat di depan Monumen Pancasila di mana sekelilingnya terdapat ruang terbuka hijau atau kawasan hutan. Selain itu, juga terdapat danau buatan yang cukup besar di bagian belakangnya.

Di sisi kiri bagian belakang Istana Negara terdapat kompleks rumah dinas menteri yang mengelilingi sebuah area ruang terbuka hijau yang cukup luas. Di sisi kanan bagian belakang terdapat Markas Besar TNI/Polri di mana terdapat sebuah danau buatan di sampingnya.

Pendekatan terakhir ialah dengan mewujudkan kota cerdas dan modern berstandar internasional. Kelak, IKN bakal menjadi kota yang compact, mengandalkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mencapai tujuan Sustainable Development Goals (SDGs)

Ada enam indikator yang digunakan untuk mewujudkan pendekatan ini, dari penataan bangunan dan lingkungan yang compact dan inklusif, moda transportasi publik yang terintegrasi, hingga memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan produktivitas kerja. 

Berikutnya, kolaborasi antara arsitektur modern dan local wisdom; penerapan desain, material dan teknologi modern, smart building, dan penggunaan energi terbarukan; serta desain yang mengutamakan pemenuhan seluruh target SDGs sebagai acuan pembangunan kota-kota Indonesia ke depan.

Konsep kota compact dan smart meliputi smart industry, smart security, smart energy, smart people, smart health, smart home, smart mobility, smart government, dan smart retail. Adapun visualisasi gagasannya ialah moda transportasi yang terintegrasi.

Soal desain, warganet di media sosial Twitter malah sibuk mengkritik dan berdebat. Apalagi kalau bukan karena adanya unsur pentagram segitiga di bawah monumen berbentuk lilin yang digadang-gadang bakal terletak di pusat kota itu. 

Seperti biasa, oleh warganet, segitiga itu dianggap mengandung konspirasi illuminati dan freemason. Selebihnya? Ya senasib lah sama desain Masjid Al Safar karya Kang Emil di Rest Area Km 88 B jalan tol Cipularang, jadi sasaran kehebohan karena disebut ada unsur konspirasi illuminati. 

Sederet Stadion Sepak Bola

Kaltim sendiri memang memenuhi segala aspek untuk dijadikan ibu kota baru. Setidaknya ada tiga stadion sepak bola bertaraf internasional dan beberapa stadion lainnya yang ada di sana. Hal ini tentu akan membuat Kaltim memiliki daya tarik di bidang olahraga.

Misalnya saja Samarinda memiliki Stadion Palaran yang sudah mulai beroperasi sejak 2008, tepatnya saat perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII di Samarinda. Namun, stadion berkapasitas 60.000 tempat duduk itu kini kondisinya memprihatinkan dan banyak fasilitas di dalam stadion yang rusak. 

Kondisi itu memaksa klub sepak bola daerah itu yakni Borneo FC memutuskan menggunakan Stadion Segiri sebagai kandang bertanding lantaran lokasinya lebih dekat ke pusat kota. Selain itu, Samarinda juga punya Stadion Madya Sempaja, yang sempat terpilih sebagai stadion terbarik Divisi I Liga Indonesia 2007 silam. Stadion ini memiliki kapasitas sekitar 15.000 kursi.

Lalu di Tenggarong, Kutai Kartenegara ada Stadion Aji Imbut yang resmi dibuka pada 2008 lalu dan menjadi markas klub sepak bola Mitra Kukar. Stadion Aji Imbut memiliki kapasitas 35.000 penonton, dengan desain dua atap berbentuk setengah lingkaran dan saling berhadapan. 

Masuk ke wilayah Balikpapan, ada Stadion Batakan, yang mulai digunakan sejak 2017 lalu dan memiliki kapasitas 40.000 kursi. Stadion yang jadi markas klub sepak bola Liga 2 Persiba Balikpapan ini sempat jadi buah bibir lantaran desainnya disebut-sebut mirip dengan Stadion Emirates di London, markas klub sepak bola Liga Primer Inggris, Arsenal.

Kemiripan itu juga terlihat dari tak adanya lintasan atletik di pinggir lapangan Stadion Batakan seperti stadion-stadion lain di Indonesia. Sehingga jarak lapangan dengan tribun tentu sangat dekat, sama seperti stadion-stadion di Eropa.

Selain itu, Bontang memiliki Stadion Mulawarman dengan kapasitas 12.000 kursi dan menjadi kandang dari klub Bontang FC. Sementara Kabupaten Penajam Paser Utara, Balikpapan, memiliki Stadion Benuo Taka, yang sempat akan menjadi maskar Persiba Balikpapan pada kompetisi Liga 1 2017 lalu.

Makelar Tanah Bermunculan

Sayangnya, di balik kemegahan dan kemewahan yang ditawarkan ibu kota baru, potensi masalah pun mulai muncul. Penetapan ibu kota baru ini memancing munculnya para makelar tanah, yang tentu ingin mengeruk untung dari momentum bersejarah ini. Makelar tanah mulai berkeliaran mencari lokasi strategis di sana. 

Seperti dikutip dari Vice, Selasa (27/08), misalnya para makelar bahkan sudah ada yang menyerbu wilayah Kecamatan Sepaku di Penajam Paser Utara yang berbatasan dengan Kutai Kertanegara, yang sebelumnya wilayah ini justru tak dilirik sama sekali.

Belum lagi harga tanah di dua lokasi calon ibu kota, Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, seketika melonjak naik. Jika sebelumnya harga tanah per hektare di sana bisa mencapai Rp150 juta, kini naik jadi Rp250 juta.

Related Article