Setelah Sembuh, Berapa Lama Orang Kebal dari COVID-19?

Hasil penelitian di Cina menemukan pasien yang sembuh dari COVID-19 hanya akan terlindungi oleh antibodi selama 2 sampai 3 bulan saja.

Penelitian yang dilakukan oleh Chongqing Medical University tersebut meneliti keberadaan antibodi IgG pada pasien yang sembuh dari COVID-19. Dengan melibatkan 37 pasien bergejala dan 37 pasien tanpa gejala, penelitian itu menemukan bahwa ada penurunan tajam protein pelindung yang muncul setelah infeksi COVID-19 tersebut.

Dalam kurun waktu 2 sampai 3 bulan setelah sampel dinyatakan sembuh, terjadi lebih dari 90% penurunan jumlah antibodi di dalam tubuh pasien.

Dapat dikatakan, penyebab COVID-19 merupakan jenis virus Corona yang paling unggul di antara sesamanya. Antibodi terhadap COVID-19 bertahan lebih singkat dibanding SARS dan MERS, yang bertahan sekitar satu tahun.

Menurut para ahli, fakta tersebut belum tentu berarti bahwa pasien yang telah sembuh dari COVID-19 dapat terinfeksi untuk kedua kalinya. Meski berjumlah rendah, antibodi yang kuat masih mungkin melindungi pasien dari infeksi COVID-19 berikutnya. Hal ini juga didukung oleh penelitian yang menunjukkan bahwa COVID-19 merangsang respons imun seluler yang kuat dan protektif.

Ahli virologi dari Icahn School of Medicine, Florian Krammer, yang telah memimpin beberapa penelitian terkait antibodi terhadap virus SARS-CoV-2, mengatakan tubuh yang pernah terinfeksi COVID-19 akan menanamkan memori pada sel B, yang secara cepat mampu meningkatkan produksi antibodi saat dibutuhkan.

"Jika mereka menemukan virus lagi, mereka ingat dan mulai membuat antibodi dengan sangat, sangat cepat," katanya kepada New York Times.

Kendati begitu, hal ini merupakan peringatan bagi masyarakat dan pemerintah untuk tetap waspada dengan kemungkinan infeksi kedua. Artinya, masyarakat masih disarankan untuk menerapkan protokol keamanan COVID-19, dan pemerintah tidak bisa bertindak pongah memberikan sertifikat imun kepada siapapun, termasuk jajarannya. Apalagi terburu-buru melantik “duta imunitas” saat situasi masih mengkhawatirkan.

Sebelumnya, permasalahan ini sudah memantik perdebatan di antara otoritas kesehatan. Mereka memperdebatkan pemberian izin bepergian bagi masyarakat dengan syarat tes antibodi, seperti rapid test ataupun swab test, lantaran belum jelas sampai sejauh mana antibodi mampu memberikan kekebalan.

Namun, hal terpenting yang ditunjukkan oleh hasil penelitian ketahanan antibodi ini adalah fakta bahwa tubuh kita masih sangat rentan. Untuk itu, ahli imunologi virus Universitas Yale, Akiko Iwasaki, mengatakan bahwa yang dapat diandalkan untuk mengatasi pandemi ini hingga kini ialah penemuan vaksin sesegera mungkin.

“Laporan-laporan ini menyoroti perlunya mengembangkan vaksin yang kuat karena kekebalan yang berkembang secara alami selama infeksi tidak opimal dan berumur pendek pada kebanyakan orang,” tegas Iwasaki kepada New York Times. "Kita tidak bisa mengandalkan infeksi alami untuk mencapai herd immunity."

Related Article