Apakah Pool Testing Jalan Pintas untuk Meningkatkan Kapasitas Tes?

Baru ada terobosan menarik di Wuhan, kota yang dikenal sebagai titik nol pandemi COVID-19. Akhir pekan lalu (23/5), otoritas kota itu melakukan tes massal COVID-19 untuk 1,47 juta orang dalam sehari, naik lima belas kali lipat dari jumlah rata-rata tes harian sebelumnya. Resep rahasia mereka? Metode yang sedang dikulik untuk menyiasati keterbatasan kapasitas tes: pooling test.

Akhir Maret lalu, sejumlah peneliti dari Technion - Institut Teknologi Israel mengusulkan penggunaan metode ini untuk mempercepat tingkat pengujian dan pendeteksian pasien positif COVID-19. Bila prinsip yang mereka kemukakan berhasil, metode pool testing tak hanya meningkatkan kapasitas tes berlipat ganda. Ia juga menghemat biaya, dan menjadi solusi alternatif untuk negara yang memiliki sumber daya terbatas untuk melakukan tes massal.

Pooling test atau Dorfman Group Testing adalah metode uji simultan yang pertama kali dikembangkan pada Perang Dunia II. Prinsipnya sederhana: alih-alih menguji sampel satu per satu, laboratorium akan menggabungkan sejumlah sampel dari beberapa individu dalam satu tabung dan disaring melalui tes secara bersamaan.

Umumnya, laboratorium menggabungkan sampel berupa darah atau urine dari 5-10 individu yang berasal dari satu populasi homogen. Misalnya, setiap individu dalam sampel gabungan tersebut tinggal dalam satu rumah atau satu kantor yang sama.

Jika dalam uji gabungan tersebut hasilnya negatif, 5-10 orang tersebut semuanya dianggap negatif. Jika hasil uji gabungan tersebut positif, setiap sampel akan diuji ulang secara terpisah untuk mencari tahu siapa individu yang terinfeksi.

Metode pooling test biasanya dipakai ketika pekerja medis ingin mendiagnosis orang dalam jumlah yang banyak, dalam tempo waktu yang cepat, dengan sumber daya yang terbatas. Mulanya, metode ini digunakan untuk screening penyakit sifilis pada tentara AS. Kemudian, metode ini digunakan untuk penyakit berskala besar lainnya seperti pandemi HIV, influenza, klamidia, dan malaria.

"Pooling test memungkinkan pelaksanaan pengujian yang diperluas dalam kelompok populasi yang lebih besar, bahkan dalam keterbatasan tes kit yang dimiliki," kata Profesor Erhard Seifried dari Palang Merah Jerman, seperti dilansir Kompas.com. Dalam kondisi darurat pandemi, terutama dalam negara yang memiliki kapasitas tes kurang memadai, pooling test dapat dipandang sebagai alternatif yang menawan.

Kekurangannya, bila hasil pooling test positif, setiap orang dalam suatu sampel harus dites ulang satu persatu untuk memastikan siapa sebenarnya yang kena virus. Sederhananya, laboratorium jadi harus bekerja dua kali. 

Ketepatannya pun tidak sebaik tes yang selama ini dilakukan. Menurut Dicky Budiman, epidemiolog dari Griffith University Australia, dalam kasus borderline atau infeksi yang amat ringan, pooling test justru bisa menghasilkan hasil negatif palsu.

Hingga kini, World Health Organization (WHO) belum menetapkan kebijakan resmi terkait penggunaan pool testing dalam konteks pandemi COVID-19. Salah satu negara yang ngegas duluan adalah Jerman. Sejak Maret lalu, mereka sudah menerapkan pool testing dalam kasus-kasus tertentu. Jumlah tes pun meningkat dari 40.000 tes per hari jadi 200.000 - 400.000 tes per hari. 

Peneliti di Jerman pun menyanggah bahwa ketepatan pool testing meragukan. “Bila ada kasus positif di pool mini, tes individual dapat dilakukan ulang dan kita bisa mengetahui siapa sampel yang positif dalam jangka waktu empat jam,” tulis laporan dari German Red Cross Blood Donor Service di Frankfurt dan Institute for Medical Virology at the University Hospital Frankfurt di Goethe University. Logika mereka pun jelas: semakin banyak tes dilakukan, pandemi semakin mudah dipetakan dan diatasi.

Awal April lalu, Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga di India pun mengevaluasi penggunaan metode pooling test untuk memperbanyak tes COVID-19 dalam tempo singkat. Namun, dalam strategi national testing yang dirilis pada 4 April 2020 lalu, belum ada arahan khusus terkait pooling test.

Seperti dilaporkan Wall Street Journal, Wuhan akhirnya menerapkan pooling test untuk memperluas kapasitas tesnya secara masif. Setelah klaster baru infeksi asimptomatik COVID-19 dilaporkan pada tanggal 9 Mei, Pemkot Wuhan mengumumkan kampanye tes massal untuk memeriksa 11 juta penduduk Wuhan. Antara 14 Mei hingga 23 Mei, Pemkot Wuhan berhasil melakukan 6,57 juta tes.

Setelah swab test dilakukan kepada setiap penduduk, 5-10 sampel digabungkan dan dites melalui metode pooling test. Hasil dari tes cepat tersebut mulai tampak: Senin (25/5) lalu, Wuhan mengumumkan 38 kasus baru COVID-19 asimptomatik di kotanya. Kini, kota tersebut punya 326 kasus COVID-19 asimptomatik yang dalam pantauan.

Meskipun tanda-tandanya menjanjikan, bukan berarti pool testing dapat serta merta diterapkan di Indonesia. Menurut Dicky Budiman, pool testing tetap harus didukung oleh strategi penanggulangan pandemi yang baik. "Testing bukanlah suatu intervensi yang berdiri sendiri, dia harus menjadi bagian tidak terpisahkan dari tracing, treat, dan isolasi serta program pencegahan. Sangat berbahaya melakukan suatu intervensi yang tidak tersinergi," ucapnya.

Kalaupun pool testing terpaksa diterapkan, ia mengingatkan agar jumlah sampel yang digabung dalam satu kloter tak melebihi 10 individu. Hal ini penting agar tidak ada hasil positif atau negatif palsu yang justru dapat memperparah keadaan.

Related Article