Jokowi dari Mata Kamera: Selebrititas yang Apa Adanya

Selama hampir dua pekan terakhir, Presiden Joko Widodo dibicarakan di linimasa karena dua peristiwa. Pertama, kehadirannya di KTT G20, 29 Juni lalu, di Osaka, Jepang. Berikutnya, pertemuan mantan Gubernur DKI tersebut dengan Rapper Indonesia yang kini mendunia, Rich Bryan, di Istana Bogor. Foto-foto Jokowi dalam dua pertemuan itu menjadi perhatian banyak orang, khususnya kaum milineal.

Pada acara KTT, sebuah foto menangkap momen ketika Jokowi asyik mengobrol dengan Ivanka Trump, putri Presiden AS Donald Trump. Dalam foto-foto lainnya, terlihat Jokowi juga akrab dengan Presiden Perancis Emannuel Macron.

Foto-foto itu langsung mewabah di tanah air. Orang-orang mengomentari kehangatan interaksi Jokowi dan para pemimpin dunia. Dalam acara seformal itu, wajah dipenuhi tawa seolah sedang bertukar gurauan. Tak ketinggalan, terbitlah sejumlah meme yang berusaha menebak isi obrolan mereka.

Foto-foto yang diabadikan Sekretariat Kepresidenan tersebut, secara tidak langsung, menegaskan kepiawaian diplomasi presiden kita. Bagaimana presiden yang kemampuan berbahasa asingnya kerap diejek itu justru mendapat tempat terhormat di panggung dunia, dihormati oleh petinggi bangsa-bangsa lain.

Itulah representasi diri Jokowi yang terbangun dari foto-fotonya. Memang, hari-hari ini para politikus leluasa menentukkan persona yang hendak “dijual” kepada publik. Sebab, politik pada akhirnya adalah perkara “jualan”. Sebagaimana dikatakan John Street dari University of East Anglia, teknik pemasaran kerap diadopsi para politikus demi membuat khalayak jatuh hati. Ia mengibaratkan politikus sebagai “produk” yang dikemas sedemikian rupa agar menarik. Media massa dan media sosial pun dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai pasar.

Melalui akun Instagram pribadinya, Jokowi memamerkan foto yang menunjukkan dirinya berbisik-bisik dengan Donald Trump dalam KTT G20. Pemilihan foto itu pun tak lain sebagai upaya untuk menguatkan citranya sebagai pemimpin yang lentur dalam berdiplomasi. Kebanyakan foto kegiatan KTT G20 yang diunggah Jokowi di Instagram memang menampakkan aktifitas-aktifitas informal. Misalnya, ketika Jokowi dan sejumlah pemimpin negara lain sedang menikmati permen di waktu senggang.

Momen-momen “di balik layar” KTT G20 yang diabadikan itu tampak otentik, jauh dari kesan arahan-arahan protokoler yang kaku. Keterangan foto yang ditulis juga sederhana, dengan diksi yang tidak baku. Representasi lain yang dibangun Jokowi ialah pemimpin yang humanis, lebih kasual, dan tampak "relatable" bagi masyarakat.

Matthew Wood (2016) mengistilahkan konstruksi diri semacam itu sebagai “Politikus Selebritas Sehari-hari.” Istilah ini merujuk para politikus yang mengkonstruksikan diri sebagai sosok yang tampil apa adanya dengan pendekatan komunikasi otentik.

Istilah ini tidak terbatas pada selebritas dunia hiburan yang terjun ke politik. Para politikus yang belakangan kerap mengadopsi elemen-elemen dunia hiburan juga masuk dalam kategori ini, seperti Jokowi yang mengundang para vloggers ternama ke Istana Negara. Rich Bryan bukanlah yang pertama.

Dalam pertemuannya dengan para bintang hiburan itu pun Jokowi menciptakan suasana yang kasual dan santai. Misalnya, Agnes Monica yang sebelumnya menemui Jokowi di Istana pun bahkan mengenakan slimfit shirt putih yang memberi kesan santai dan tidak formal.

Kepada khalayak, presiden ingin menyampaikan pesan, bahwa dirinya adalah sosok yang terbuka menerima berbagai kalangan masyarakat, khususnya generasi milenial. Presiden berusia 58 tahun itu, secara tidak langsung, ingin meyakinkan para milenial tanah air bahwa dirinya merupakan utusan mereka. Strategi ini tentu berguna untuk menarik kepercayaan anak-anak muda terhadap kepemimpinan Jokowi.

“Demokratainment” Vs Depolitisasi

Namun, kehadiran politisi selebritas punya dua sisi. Upaya Jokowi untuk menarik perhatian anak muda ke ranah politik tentu patut diapresiasi. Misalnya, Jokowi mengundang puluhan vloggers untuk turut “mendemamkan” Asian Games tahun lalu. Pendekatan komunikasi politik dengan mengadopsi elemen-elemen budaya populer bisa menjadi cara jitu menyampaikan pesan-pesan penting soal kebijakan atau kegiatan presiden kepada warga muda yang selama ini dikenal apatis terhadap politik dan urusan pemerintahan.

Melalui foto-foto di akun Instagramnya, Jokowi menggambarkan kegiatan KTT G20 sebagai momen yang hangat, sehingga lebih menarik perhatian khalayak terhadap kegiatan tersebut. Anak-anak muda yang sebelumnya skeptis akan kegiatan formal semacam itu pun tiba-tiba ramai membahasnya.

Namun, di sisi lain, strategi ini tak luput dari kritik. Selebritas politik bisa dipandang berlebihan dalam menyederhanakan kerumitan politik. Alhasil, euforia yang muncul jauh dari makna sesungguhnya dari politik itu sendiri. Terbukti dari kesibukan netizen memperdebatkan prihal foto-foto Jokowi di KTT G20, tetapi abai menyoroti isu-isu yang dibahas dalam pertemuan tersebut seperti inovasi ekonomi digital, inklusivitas finansial, serta konsep IDEA HUB.

Rahmatul Furqan adalah lulusan Master of Global Media and Communication The University of Melbourne.

Related Article