Isu Terkini

Jepang dan Sederet Cara Ampuh Hadapi Gempa dan Tsunami

Ramadhan — Asumsi.co

featured image

Gempa bumi berkekuatan 7,4 Magnitudo disusul tsunami mengguncang kota Palu dan kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah pada Jumat, 28 September. Bencana itu menyebabkan gedung-gedung hancur, ratusan orang meninggal dunia serta ratusan lainnya terluka. Indonesia yang rentan mengalami bencana gempa dan tsunami pun perlu belajar dari negara seperti Jepang.

Indonesia dan Jepang memang sama-sama berada di kawasan rawan bencana atau ring of fire. Kedua negara ini pun rentan terhadap bencana gempa bumi dan tsunami, karena letaknya di daerah dengan tingkat aktivitas gempa bumi tinggi.

Kita tentu masih ingat dengan bencana gempa yang terjadi di Jepang pada tahun 2011 lalu. Kala itu, gempa bumi mengguncang Jepang dengan kekuatan 9,0 Magnitudo dan menciptakan gelombang tsunami setinggi 10 meter yang berpusat di lepas pantai Samudera Pasifik.

Setelah bencana itu, Japanese National Police Agency mengumumkan ada sekitar 15.269 korban tewas, 5.363 korban luka, dan 8.526 korban hilang di enam prefektur Jepang. Selain itu, dampak mengerikan dari bencana itu adalah rusaknya sistem pendingin di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima, sehingga menciptakan radiasi yang mengontaminasi laut, tanah, dan udara.

Akibatnya Pemerintah Jepang pun mengeluarkan status darurat, dan ratusan ribu penduduk terpaksa dievakuasi. Lalu, seperti apa pemerintah dan masyarakat Jepang bisa menghadapi bencana tersebut?

Memang ada perbedaan antara Indonesia dan Jepang dalam menghadapi bencana. Faktor-faktor seperti karakter penduduk, pendidikan, dan perihal mitigasi membuat Jepang lebih siap menghadapi bencana, baik itu gempa atau tsunami sekalipun.

Selain itu, ketenangan penduduk Jepang memang berpengaruh besar karena secara langsung bisa memudahkan pihak pemerintah, militer, dan lembaga sosial dalam membantu evakuasi hingga rehabilitasi korban. Sehingga proses penanganan bencana pun jadi cepat teratasi.

Pemerintah Jepang juga dikenal andal dan cepat tanggap dalam menangani bencana gempa dan tsunami. Maka tak heran jika Jepang memang kerap dijadikan rujukan dan model dalam hal mitigasi bencana alam, terutama gempa bumi dan tsunami.

Penduduk Jepang juga tetap tenang dan memilih bertindak efektif saat bencana melanda, meski tentu ada perasaan panik, sedih, marah, dan frustasi juga. Selain itu, mereka juga saling membantu satu sama lain dan menangkan korban lain yang selamat.

Masyarakat Jepang memang selalu belajar untuk mendahulukan kepentingan kelompok dan tidak ingin terlihat mencolok di komunitasnya. Dua karakter itu lah ditambah aturan yang tegas, yang membantu efektivitas penanganan bencana di sana.

Selain itu, sadar akan dampak destruktif dari gempa bumi dan tsunami yang melanda, Jepang pun memaksimalkan fungsi sistem peringatan dini sehingga resiko bencana bisa dikurangi. Misalnya saja, latihan mitigasi bencana gempa sudah dilakukan tiap bulan mulai dari sekolah-sekolah dasar.

Anak-anak sekolah di Jepang juga sudah siap menghadapai situasi gempa bumi. Misalnya saja mereka akan menggunakan helm pelindung yang telah disediakan oleh sekolah dan berkumpul di titik evakuasi.

Tak hanya dilengkapi ilmu mitigasi bencana saja, Badan Meteorologi Jepang atau JMA juga memiliki layanan peringatan dini tsunami yang lebih lengkap. Setidaknya terdapat sekitar 200 seismograf, 600 alat meter instensitas seismic, 3.600 alat meter intensitas seismik yang dikelola Pemerintah Jepang bersama Institut Riset Nasional Jepang NIED.

Sistem peringatan tsunami yang dioperasikan oleh JMA tersebut bisa memantau kegiatan kegempaan dari enam kantor regionalnya. Dari sistem inilah, JMA akan mengirimkan peringatan tsunami dalam waktu tiga menit dari gempa bumi terjadi. Lalu, saat gempa datang, data tentang besaran dan lokasi gempa segera disiarkan di stasiun televisi nasional, NHK.

Lalu, sebagian besar kota di Jepang juga sudah dilengkapi pengeras suara yang menyiarkan informasi darurat kepada penduduk serta pendistribusian radio agar warga dapat menerima perintah evakuasi. Maka dari itu, masyarakat Jepang akan lebih cepat mendapatkan informasi langsung mengenai potensi bencana.

Selain itu, seperti dilansir dari Culture Trip, ada sederet upaya lain yang dilakukan warga dan pemerintah Jepang dalam menghadapi bencana gempat dan tsunami. Apa saja itu?

Rumah dan Bangunan Tahan Gempa

Sekitar 87 persen bangunan di Tokyo, Jepang sudah mampu menahan gempa bumi. Pembangunan rumah-rumah dan bangunan lainnya dilakukan lantaran besarnya intensitas gempa bumi yang melanda Jepang sangat besar.

Maka dari itu, untuk memastikan keselamatan penduduk, rumah-rumah yang baru dibangun di Jepang pun harus dirancang agar tahan gempa dan tidak mudah runtuh. Di Jepang, semua bangunan harus mengikuti dua persyaratan ketat dari pemerintah, yaitu bangunan dijamin tidak akan runtuh karena gempa dalam 100 tahun ke depan. Syarat lain adalah bangunan dipastikan tidak akan rusak dalam 10 tahun pembangunan.

Sistem Peringatan Gempa di Ponsel

Setiap perangkat ponsel pintar di Jepang sudah dipasang sistem peringatan darurat mengenai gempa dan tsunami. Peringatan ini akan berbunyi hingga tanda-tanda bahaya hilang.

Peringatan darurat bencana gempa dan tsunami pun akan sampai ke pemilik ponsel pintar sekitar 5-10 detik sebelum bencana terjadi. Dengan demikian, penduduk masih memiliki waktu untuk segera mencari perlindungan, seperti misalnya, dengan berlindung di bawah meja.

Sistem ini mengeluarkan suara otomatis “Jinshin desu! Jihshin desu!” yang berarti ada gempa bumi. Hadirnya peringatan dini di ponsel, yang notebene selalu ada dalam genggaman tangan, pun membuat masyarakat Jepang akan lebih cepat mengetahui potensi bencana.

Pembaruan Sistem di Kereta

Seperti kita ketahui, Jepang didominasi dan memiliki jaringan transportasi kereta peluru atau shinkansen. Untuk memastikan keselamatan seluruh penumpang, kereta dilengkapi dengan sensor gempa yang akan menghentikan laju kereta yang bergerak.

Tengok saja bencana gempa berkekuatan 9,0 magnitudo pada 2011 lalu. Kala itu, ada 27 kereta peluru yang beroperasi, di mana setiap kereta berhenti saat gempa-gempa kecil mulai mengguncang. Lalu, saat gempa besar melanda, kereta peluru benar-benar berhenti sehingga tidak ada korban tewas atau bahkan terluka.

Siaran Televisi

Saat gempa bumi terjadi, seluruh saluran TV Jepang secara langsung akan beralih ke siaran peringatan gempa. Hal ini dilakukan untuk memastikan seluruh masyarakat Jepang dipastikan mendapat informasi yang cukup soal gempa atau tsunami agar tetap aman.

Dengan begitu, sebaran informasi itu membuat masyarakat Jepang lebih siap dan tahu bagaimana mencari perlindungan sehingga masyarakat pun masih memiliki waktu untuk pindah ke lokasi yang lebih tinggi.

Pendidikan dan Pelatihan Proses Evakuasi

Layaknya sekolah-sekolah lain yang mengadakan pelatihan pemadaman darurat, sekolah di Jepang juga menambahkan pelatihan gempa bumi. Bahkan sejak usia dini, masyarakat Jepang sudah dilatih untuk melindungi diri mereka masing-masing dari bencana alam.

Murid-murid di sekolah diajarkan untuk tanggap ketika menghadapi gempa. Sejak dari usia dini, anak-anak dilatih mencari tempat perlindungan dan bagaimana bisa aman jika gempa melanda wilayah mereka.

Perlu diketahui bahwa metode yang paling umum diajarkan yakni berlindung di bawah meja dan menahannya dengan kaki sampai gempa berhenti. Jika sedang bermain di luar, anak-anak diminta untuk berlari ke ruangan terbuka untuk menghindari bangunan yang roboh.

Tak hanya itu saja, personel pemadam kebakaran juga melatih anak-anak untuk mengidentifikasi getaran gempa dengan alat simulator.

Museum Peringatan Gempa Bumi

Cara lain Jepang membantu melindungi penduduknya dari bencana alam di masa depan adalah dengan belajar dari peristiwa masa lalu. Pada tahun 1995, kota Kobe dikejutkan oleh Gempa Bumi Besar Hanshin Awaji yang benar-benar dah

Setelah kota tersebut dibangun kembali, Kobe juga membangun Museum Peringatan Gempa Bumi Kobe atau Kobe Earthquake Memorial Museum. Isi dari museum tersebut berupa catatan peristiwa gempa besar yang menimpa Kobe pada 1995.

Museum itu dibangun untuk mengingat orang-orang yang hilang selama bencana. Selain itu, museum itu juga dibangun sebagai pusat pendidikan yang diisi dengan gambar-gambar dan fasilitas pendidikan tentang pencegahan bencana dan kelangsungan hidup.

Paket Bertahan Hidup

Setiap rumah di Jepang menyiapkan perlengkapan untuk bertahan hidup ketika terjadi bencana alam. Hampir seluruh rumah diberikan tas yang berisi perlengkapan bertahan hidup seperti air, jatah makanan, sarung tangan, masker wajah hingga alat untuk mendapatkan informasi seperti radio.

Terowongan Penguras Air

Jepang memiliki saluran penguras air di pinggiran kota Tokyo, di bawah lapangan sepak bola atau skate park. Saluran ini mengumpulkan air banjir yang disebabkan oleh siklon dan tsunami, kemudian mengalirkannya ke Sungai Edo.

Jika wilayah terkena gempa bumi dan memicu tsunami, kota akan terhindar dari banjir besar. Namun, butuh waktu 13 tahun untuk membangun proyek senilai 3 miliar dollar AS itu.

Share: Jepang dan Sederet Cara Ampuh Hadapi Gempa dan Tsunami