Jelang Debat V: Indonesia Butuh Investasi Asing untuk Pertumbuhan Ekonomi

Debat pemilihan presiden kelima yang sekaligus menjadi debat terakhir akan diadakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Sabtu (13/4) besok. Salah satu tema yang akan dibahas dalam acara yang akan digelar di Hotel Sultan, Jakarta, ini adalah Investasi. Jika dilihat dari beberapa pertemuan sebelumnya, narasi investasi, khususnya investasi asing, sudah beberapa kali disinggung. Namun, inilah saat yang tepat bagi para capres dan cawapres untuk secara spesifik membahas dan menanggapi isu investasi tersebut. Publik mengharapkan perdebatan yang jauh lebih komprehensif dari debat-debat sebelumnya.

Keran Investasi Asing Terbuka Lebar di Era Jokowi

Salah satu kemungkinan yang akan dibahas dalam perdebatan mengenai investasi adalah kebijakan ramah investasi asing di era Joko Widodo (Jokowi). Di bawah kepemimpinan calon presiden petahana Jokowi, Trading Economics menemukan fakta bahwa tren investasi asing masuk ke Indonesia meningkat. Di tahun 2014, angka FDI masuk ke Indonesia berada di kisaran 70 triliun Rupiah. Sedangkan di tahun 2018, investasi asing masuk ke Indonesia berada di angka 110 triliun Rupiah. Meskipun mengalami fluktuasi, secara umum tren investasi asing masuk ke Indonesia mengalami peningkatan.

Perdebatan tentang investasi asing akan sangat menarik karena calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, selama ini selalu mengeluarkan narasi-narasi yang cenderung nasionalistik. Meski tidak pernah secara eksplisit menjelaskan akan seperti apa kebijakannya terhadap investasi asing jika terpilih sebagai presiden, Prabowo kerap mengatakan bahwa kekayaan Indonesia sudah dibawa ke luar negeri. Narasi ini ia pertegas kembali ketika melakukan kampanye akbar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, hari Minggu (7/4) yang lalu.

“Ibu pertiwi diperkosa, kekayaan diambil terus, hak rakyat diinjak-injak. Kekayaan Indonesia diambil ke luar negeri, terlalu banyak korupsi di negeri ini … kebahagiaan saya kalau saya bisa lihat kekayaan Indonesia kembali ke rakyat Indonesia, saya bahagia.”

Indonesia Masih Butuh Investasi Asing untuk Pertumbuhan Ekonomi

Terlepas dari narasi kedua kubu, banyak pihak yang  mengungkapkan bahwa Indonesia masih membutuhkan investasi asing. Tak terkecuali Bank Dunia. Dalam laporan Indonesia Economic Quarterly edisi Desember 2018, Indonesia disarankan untuk mempercepat upaya peningkatan jumlah ekspor dan investasi.

“Meski tekanan pada Rupiah telah berkurang, Indonesia harus semakin memperkuat posisi eksternalnya dengaen mempercepat upaya peningkatan ekspor dan investasi,” ujar Ekonom Utama untuk Bank Dunia di Indonesia, Frederico Gil Sander, di Jakarta, Kamis, 13 Desember 2018.

Salah satu langkah meningkatkan ekspor dan investasi tersebut, menruut Sander, adalah dengan cara melakukan lebih banyak perjanjian perdagangan bebas dan mengurangi Daftar Negatif Investasi (DNI). Sehingga, daya saing Indonesia untuk menerima investasi asing pun akan meningkat.

“Langkah-langkah seperti menerapkan perjanjian perdagangan bebas dan merevisi Daftar Negatif Investasi untuk mengurangi pembatasan investasi dari luar negeri akan meningkatkan daya saing Indonesia dan menciptakan pekerjaan yang baik sehingga semakin banyak penduduk Indonesia menjadi bagian kelas menengah,” ucapnya.

Hal serupa diucapkan oleh ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Fadhil Hassan. Dalam sebuah diskusi bertemakan ‘Tantangan Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial’, Fadhil menuturkan bahwa Indonesia masih membutuhkan investasi asing. Ia pun mempertegas bahwa tidak ada pilihan kecuali modal asing untuk dapat menumbuhkan perekonomian Indonesia di level 6-7 persen.

“Kita masih memerlukan investasi asing,” ujarnya, di Gedung Naffaro, Pejaten, Jakarta Selatan, Kamis (11/4).

"Kalau mau tumbuh 6-7 persen enggak ada pilihan kecuali modal asing. Permasalahan kita yang besar adalah ICOR (Implemental Capital to Output Ratio) yang terlalu tinggi. Oleh karena itu tidak ada pilihan kecuali modal asing masuk.”

Related Article