Jeihan Sukmantoro, Si Pemberontak Bermata Hitam

Dalam dunia seni rupa Indonesia, tokoh ekspresionis Jeihan Sukmantoro dikenal melalui gaya melukis manusia dengan selaput mata hitam legam. Pria kelahiran Surakarta, 26 September 1938 itu juga pernah menjadi salah satu pelukis Indonesia termahal. Museum Modern and Contemporary Arts for Nusantara (MACAN) membawa penikmat seni Indonesia ke masa-masa produktif Jeihan dalam pameran bertajuk “Jeihan: Hari-Hari di Cicadas.” 

Direktur Museum MACAN Aaron Seeto mengatakan pada Jumat (5/4) bahwa seusai menggelar acara dengan skala besar seperti pameran tunggal Yayoi Kusama di tahun 2018,  mereka lebih tertarik untuk mengadakan pameran-pameran kecil yang terfokus pada seniman Indonesia. Pameran yang berlangsung hingga 26 Mei 2019 itu memajang 30 lukisan Jeihan yang dibuat di Cicadas, sebuah kawasan di timur kota Bandung, Jawa Barat. 

Menurut kurator Ady Nugraha, 30 lukisan ini dibuat dalam periode waktu 1963-1980 yang menandakan masa-masa eksplorasi kreatif Jeihan. Orang-orang yang menjadi objek lukisan ini adalah penduduk Cicadas pada waktu itu, mulai dari anak-anak kecil dan para ibu rumah tangga. Di masa inilah, Jeihan menemukan jati dirinya sebagai seorang seniman. 

Mata Hitam dan Matahari Putih, Metafora Indonesia dalam Masa Sulit

Salah satu lukisan yang patut disimak dalam pameran tersebut adalah “Aku,” sebuah potret diri Jeihan yang melukis dirinya dengan selaput mata hitam kelam. Lukisan tersebut dibuat saat Jeihan masih menjadi mahasiswa seni rupa di Institut Teknologi Bandung pada 1963. Lukisan inilah yang membuat Jeihan dikenal sebagai pelukis figur manusia bermata hitam.

Pada 1965, Jeihan melukis “Gadis.” Kali ini, lukisan tersebut menggambarkan sosok dekat perempuan yang mengenakan baju putih. Lagi-lagi, sosok ini memiliki mata yang hitam legam tanpa sedikit pun warna putih.

Mata hitam khas Jeihan merupakan metafora penting yang bisa dimaknai dengan berbagai cara. Mata hitam memberi kesan pandangan yang dingin, hampa dan nyaris tanpa harapan. Perlu diingat bahwa figur-figur bermata hitam ini pertama dilukis Jeihan muda saat ia menjadi saksi terhadap konflik antar kelompok dan golongan di Indonesia. Suhu politik di Indonesia di masa tersebut memanas karena adanya diskriminasi terhadap etnis Tionghoa dan juga penggulingan Partai Komunis Indonesia. 

Masa-masa sulit tersebut sangat berpengaruh pada kemampuan melukis Jeihan. Mikke Susanto, dalam bukunya “Jeihan Maestro Ambang Nyata dan Maya,” menyebut bahwa saat itu, Jeihan kesulitan menggambar mata yang bisa memancarkan emosi yang sesuai dengan yang ia rasakan. Mata hitam menjadi solusi terakhir Jeihan setelah ia merasa kerap gagal melukis mata yang ia mau. 

Fitur khas ini kerap mendatangkan tuduhan kalau Jeihan mengikuti gaya pelukis Yahudi Italia bernama Amadeo Modigliani. Modigliani, yang mati muda di Paris pada 1920 dalam usia 35 tahun, dikenal dengan lukisan gaya ekspresionisme dan figur-figur berwajah panjang dan bermata sipit hitam legam. Menurut Mikke, hal ini sangat dimungkinkan mengingat Jeihan adalah mahasiswa seni rupa yang memiliki akses terhadap seni modern.

Namun, menurut Mikke, Jeihan tetap memiliki ciri khasnya sendiri. Sosok-sosok yang ia gambar dengan latar belakang warna datar adalah wujud rakyat Indonesia biasa. Lukisan "Aku" misalnya, menggambarkan sosok Jeihan dalam kaos oblong putih dan sarung di tengah suatu bidang kosong. Banyak juga perempuan yang dilukis Jeihan dalam pakaian tradisional kebaya dan kerudung warna-warni. 

Selain figur bermata hitam, Jeihan juga dikenal dengan ciri khas lainnya, yakni penggunaan warna-warna muda, bahkan gambar matahari yang sering sekali muncul dalam warna putih. Seniman dan jurnalis seni senior Bambang Bujono, lebih dikenal sebagai Bambu, menjelaskan bahwa penggunaan warna-warna muda tersebut adalah dampak sulitnya ekonomi Indonesia pada masa itu. 

“Jeihan berangkat dari keterbatasan. Ia kerap mencampur warna-warna cat minyaknya agar tidak cepat habis, makanya lukisan dia banyak yang berwarna pastel,” 

Jiwa Pemberontak

Meski keadaan sulit, Jeihan terus berkarya. Pada tahun 1960 hingga 1980an, Cicadas adalah kampung yang banyak dihuni pelacur. Jeihan adalah salah satu orang pertama di kampung tersebut yang memiliki televisi. Rumahnya bukan saja menjadi tempat berkumpul para seniman, tapi juga warga setempat yang ingin menyaksikan hiburan di layar kaca. Arus warga yang banyak berkeliaran di sekitar rumahnya inilah yang menyebabkan Jeihan tak pernah surut model lukisan. 

Menurut Bambu, Indonesia tidak akan bisa menyaksikan karya-karya Jeihan yang utuh dan ekspresif, bila Jeihan muda bukan sosok seniman yang pemberontak. Saat itu, ITB memberlakukan aturan bahwa mahasiswa dilarang membuat pameran sendiri tanpa izin dosen. Aturan ini tidak diindahkan oleh Jeihan yang saat itu masih menjadi mahasiswa tingkat tiga di ITB. Ia bersikeras menggelar pameran pertamanya di Bandung. Jeihan pun tidak menyelesaikan pendidikan tingkat universitasnya dan memilih untuk terus berkarya di bidang seni rupa.

Selain pelukis, Jeihan juga aktif menulis puisi. Bersama Remy Silado, ia dikenal sebagai salah satu pelopor puisi mbeling. Mbeling, dalam bahasa Jawa, berarti bandel atau nakal. Puisi mereka disebut demikian karena menabrak aturan-aturan tentang penulisan puisi. Jeihan dan Remy tidak mempedulikan kaidah penulisan ritme dan bentuk paragraf yang berlaku saat itu. Mereka menuruti jiwa muda masing-masing yang ingin bebas berkarya tanpa mengikuti aturan siapapun. 

Jiwa pemberontak Jeihan jugalah yang membuatnya menjadi salah satu pelukis termahal di Indonesia pada masanya. Di tahun 1985, Jeihan mengadakan pameran dengan pelukis legendaris Indonesia, Sudjojono, yang ia idolakan. Jeihan menghargai lukisannya mulai dari Rp 5 juta hingga Rp 50 juta. Hal ini mencengangkan banyak orang karena saat itu, pelukis Affandi saja hanya mematok harga Rp 20 juta untuk lukisan-lukisan termahalnya.

Di akhir pameran, Sudjojono hanya berhasil menjual lukisannya dengan total penghasilan Rp 12 juta. Sementara itu, Jeihan berhasil menjual dua lukisan, masing-masing dengan harga Rp 35 juta dan Rp 50 juta. Surat kabar Suara Indonesia mencatat bahwa kejadian ini sempat membuat Sudjojono pingsan selama berjam-jam. 

Kisah tahun 1985 ini menjadi titik penting dalam sejarah seni rupa Indonesia. Lakunya lukisan Jeihan seharga Rp 50 juta tersebut adalah kali pertama ada ledakan harga seni lukis di ibu pertiwi, sekaligus menandakan perbaikan ekonomi rakyat Indonesia pasca kemerdekaan.

Menyiapkan Hari Akhir

Jeihan, yang hadir pada acara bincang-bincang bersama media dan pengunjung Museum MACAN, tidak banyak merespons hadirin dalam pertemuan sore itu. Ia sering terlihat memandang ke kejauhan. Makin sore, pandangannya kian menerawang ketika menyimak diskusi yang terjadi. Sekilas, sang pelukis menjadi identik dengan gaya khas lukisannya yang kerap menampilkan sosok berpandangan hampa. 

Pertanyaan dari hadirin tidak dijawab dengan lugas oleh Jeihan yang justru bercerita tentang perjuangannya melawan sejumlah penyakit, termasuk kanker getah bening. Sejak 2007, ia harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk berobat. Jeihan mengaku, saat ini ia sudah siap dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa.

“Saya sudah selesai. Tidak ada lagi yang ingin saya kejar.” ujar Jeihan. 

Ia berkata bahwa ia sudah menyiapkan sebidang tanah dan empat meter kain untuk jasadnya nanti. Jeihan bahkan sudah menyiapkan puisi untuk dibacakan anaknya di hari pemakamannya. Dengan suara lirihnya yang kadang tidak terdengar jelas, Jeihan membacakan puisi tersebut untuk hadirin. 

 

“Hari terang

Hati tenang

Bunga kembang

Aku pulang.” 

 

Related Article