Jauh-jauh dari Orang Lain Efektif Memperlambat Penyebaran Virus Corona

Hingga saat ini, telah terdapat 34 kasus positif COVID-19 di Indonesia. Salah satu pasien yang dinamakan kasus ke-27 belum diketahui sumber penularannya. Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona Achmad Yurianto berkata bahwa sang pasien yang diduga tertular secara lokal (local transmission) adalah warga negara Indonesia, tidak berasal dari luar negeri, dan bukan bagian dari kluster penularan Jakarta.

“Nomor kode 27, laki-laki, 33 tahun, WNI, kondisi stabil. Kami menduga ini local transmission yang sedang kami tracking dari mana sumbernya. Karena bukan import dan tidak jelas bagian dari kluster yang lain,” kata Yuri, dikutip dari msn.com.

Kita memang tak perlu panik, tetapi kasus local transmission yang bukan merupakan imported case mengindikasikan bahwa jumlah kasus virus Corona di Indonesia telah lebih banyak daripada yang telah dikonfirmasi. Hal ini tak mengagetkan, sebab tak sedikit orang tidak menyadari dirinya telah terinfeksi virus Corona.

Dengan sistem kekebalan tubuh yang baik, penderita COVID-19 bisa jadi hanya menunjukkan gejala ringan: studi oleh China Centre for Disease Control & Prevention menunjukkan lebih dari 80% pasien virus Corona hanya mengalami gejala seperti batuk dan pilek — tetapi dapat menjadi carrier yang berbahaya bagi orang lain.

Adanya kasus local transmission mengkonfirmasi perkiraan bahwa lebih dari 66% kasus COVID-19 di dunia tidak terdeteksi. Jelas, jumlah kasus positif yang telah dilaporkan di seluruh dunia bisa hanyalah puncak dari gunung es. Lewat simulasinya, penulis dan analis Tomas Pueyo pun memperkirakan jumlah kasus positif Corona di Perancis bukanlah sebanyak 17.000 seperti yang dilaporkan — tetapi sebesar 24.000-140.000 kasus.

Lantas, dengan banyaknya jumlah kasus yang tidak terdeteksi, tingkat penyebaran bisa meningkat tajam sewaktu-waktu. Hal tersebut yang telah terjadi di Cina, Korea Selatan, Italia, dan Iran. Jumlah kasus COVID-19 yang meningkat secara eksponensial secara mendadak membuat rumah sakit kelabakan dan upaya pencegahan tidak lagi efektif. Sebagaimana yang telah terjadi di Wuhan, jumlah pasien yang melonjak tajam dan tidak dibarengi dengan sumber tenaga medis yang mencukupi membuat banyak pasien dengan kondisi darurat tidak bisa dilayani.

Untuk itu, semakin banyak pula ilmuwan yang merekomendasikan untuk memperlambat tingkat penyebaran atau “flattening the Coronavirus curve”. “Dengan kurva yang lebih datar, jumlah orang yang terinfeksi semakin sedikit, yang berarti jumlah kematian pun berkurang,” kata direktur National Institute of Allergy and Infectious Disease, Anthony Fauci, dikutip dari statnews.com.

Kurva diambil dari New York Times yang diadaptasi dari CDC/The Economist
Memperlambat penyebaran virus Corona dapat mencegah terjadinya krisis layanan kesehatan dan dapat dilakukan dengan mengurangi aktivitas sosial.
(Grafik diambil dari New York Times)

Flattening the curve untuk memperlambat tingkat penyebaran dibutuhkan agar wabah ini tidak menonjok kita seperti batu bata,” kata Michael Mina, Associate Medial Director of Clinical Mcrobiology, menekankan untuk memperhatikan kapasitas rumah sakit dan layanan medis lain dalam menghadapi penyebaran virus ini. “Jika virus menyebar terlalu cepat, terlalu banyak orang yang muncul di ruang gawat darurat dalam waktu tertentu, infrastruktur layanan kesehatan kita berisiko besar untuk terkoyak.”

Inisiatif untuk “flattening the curve” ini telah diaplikasikan di Cina dan dianggap efektif. Pada Februari lalu, pemerintah Cina telah menerapkan lockdown dan melarang lebih dari 10 juta orang keluar dari rumah — demi mencegah virus menyebar ke kota-kota lain di luar Wuhan. Hasilnya, tingkat penyebaran kasus pun jadi lebih lambat. Perlambatan atau penundaan penyebaran virus dikatakan berguna untuk memberikan waktu lebih banyak bagi negara-negara lain mempersiapkan diri — baik dari segi pembatasan perjalanan, penyaringan, atau pun sumber daya medis.

Upaya untuk memperlambat tingkat penyebaran dapat dilakukan dengan mengurangi aktivitas sosial. Virus dikatakan dapat menyebar dari jarak 2 meter jika orang yang terinfeksi batuk atau bersin. Lockdown seperti di Cina dan Italia dapat dilakukan dengan melarang orang untuk masuk atau keluar dari wilayah lockdown, membatasi orang untuk keluar rumah, membatasi waktu buka restoran dan membatasi jarak orang berdekatan, dan lainnya.

Jika melakukan karantina atau lockdown belum bisa dilakukan oleh pemerintah, terdapat upaya-upaya preventif yang lebih murah dan lebih mudah dilakukan. Hal ini disampaikan oleh studi “Pre-emptive low cost social distancing and enhanced hygiene implemented before local COVID-19 transmission could decrease the number and severity of cases” yang terbit pada 5 Maret lalu. Studi ini merekomendasikan tindakan-tindakan yang dapat diterapkan pemangku kebijakan dan orang-orang di tempat kerja, sekolah, rumah, dan di tempat umum. “Tujuan dari intervensi pre-emptive adalah untuk memperlambat penularan penyakit dan membatasi dampaknya ke layanan kesehatan — terutama ke rumah sakit dan unit perawatan intensif,” kata Dalton CB dalam studinya. Upaya ini juga dianggap cocok dilakukan untuk negara-negara dengan jumlah kasus virus Corona terlapor masih rendah.

Intervensi yang dapat dilakukan di tempat kerja adalah: tidak berjabat tangan dengan orang lain, tidak batuk dan bersin sembarangan, melakukan rapat secara online atau tidak bertatap muka langsung, menunda dilakukannya trapat besar, mencuci atau membersihkan tangan setiap hendak masuk kantor, membuat pengingat untuk cuci tangan secara regular, makan siang di meja masing-masing, tinggal di rumah ketika sedang sakit, tinggal di rumah ketika terdapat anggota keluarga yang sedang sakit, mengusahakan untuk kerja dari rumah atau remote working ketika memungkinkan, dan mengkaji ulang risiko dari perjalanan bisnis.

Sementara itu, intervensi yang dapat dilakukan di sekolah berupa: memastikan setiap orang dan siswa mencuci atau membersihkan tangannya secara regular dan setiap masuk ruangan, menunda aktivitas yang mesti menggabungkan kelas-kelas, tidak batuk dan bersin sembarangan, tetap tinggal di rumah ketika sakit, desinfektasi benda-benda yang sering disentuh, lebih banyak melakukan kegiatan di luar ruangan, meningkatkan kebersihan di kantin dan tidak mempekerjakan staf kantin yang sedang sakit.

Membersihkan tangan secara regular, tidak menyentuh wajah, mendesinfektasi permukaan-permukaan benda yang sering disentuh, dan tidak bersin atau batuk sembarangan juga berlaku ketika sedang di rumah. Sementara itu, ketika berada di tempat-tempat umum, direkomendasikan untuk lebih banyak melakukan pembayaran secara digital (tidak menggunakan uang kertas), menghindari tempat-tempat yang ramai, hingga membuka kaca kendaraan ketika bepergian menggunakan transportasi umum atau jasa transportasi online untuk meningkatkan aliran udara.

Sebagaimana yang telah disampaikan, virus SARS-CoV-2 bisa jadi tak begitu berbahaya bagi orang yang berusia muda dan punya daya tahan tubuh kuat. Tetapi, efeknya bisa mematikan bagi orang yang telah berusia di atas 60 tahun, menderita penyakit kronis lain, dan orang dengan disabilitas.

Mengurangi aktivitas sosial dan lebih banyak tinggal di rumah bukan hanya penting dilakukan untuk melindungi diri sendiri, tetapi juga untuk mencegah penularan ke orang lain—terutama kelompok rentan. Sebagaimana yang diucapkan oleh akademisi dan sosiolog Zeynep Tufekci, “Kita mesti bersiap, bukan karena kita sedang dalam bahaya, tetapi karena kita dapat membantu mencegah orang lain berada dalam bahaya. Kita mesti bersiap, bukan karena kita sedang berhadapan dengan kiamat, tetapi karena kita dapat membantu mengurangi risiko sebagai bagian dari masyarakat.”  

Related Article