Jasa Besar BJ Habibie di Dunia Penerbangan

Sulit rasanya untuk mengesampingkan BJ Habibie dari sederet tokoh yang berkontribusi besar bagi bangsa Indonesia. Ia merupakan salah satu tokoh panutan dan menjadi kebanggaan bagi banyak orang di tanah air. Selain dikenal sebagai orang paling cerdas dan tercatat sebagai Presiden RI ke-3, ia juga dikenal secara luas sebagai sosok ahli pesawat terbang.

Lahir di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936 silam, sosok bernama lengkap Bacharuddin Jusuf Habibie merupakan anak keempat dari delapan bersaudara. Ayahnya adalah Alwi Abdul Jalil Habibie dan ibunya adalah RA. Tuti Marini Puspowardojo. Sejak kanak-kanak, Habibie tumbuh sebagai sosok yang memiliki sifat tegas berpegang pada prinsip.

Habibie sebagai salah satu putra bangsa yang sangat dikenal di mata dunia karena kejeniusannya memecahkan berbagai macam permasalahan pada teknologi pesawat. Tak hanya itu saja, sosok berusia 82 tahun ini juga banyak mengembangkan teknologi di bidang pesawat terbang. 

Tak lama setelah sang ayah meninggal dunia karena serangan jantung pada 3 September 1950, Habibie pindah ke bandung bersama ibunya. Lalu, ia menuntut ilmu di Gouverments Middlebare School. Di SMA inilah kecerdasan Habibie mulai muncul dan bersinar, prestasinya juga mulai menonjol, terutama dalam pelajaran-pelajaran eksakta.

Tak Selesai Kuliah di ITB Lalu Lanjut ke Jerman

Berkat kecerdasannya itulah, setelah tamat SMA di Bandung pada 1954, Habibie melanjutkan pendidikan ke ITB (Institut Teknologi Bandung). Namun, ia tidak sampai selesai di sana karena beliau mendapatkan beasiswa dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk melanjutkan kuliahnya di Jerman. Kesempatan itu pun tak dilewatkannya begitu saja.

Kala itu, pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Soekarno pernah mencanangkan untuk mengirimkan beberapa anak muda cerdas Indonesia dalam rangka menyerap teknologi di seluruh dunia guna memajukan bidang kedirgantaraan dan kemaritiman. Habibie jadi salah satu anak terpilih yang mengikuti gelombang kedua program beasiswa tersebut. 

Lantaran mengingat pesan Soekarno tentang penguasaan teknologi, Habibie muda mempelajari dan mengerti arti pentingnya dirgantara dan penerbangan bagi Indonesia. Habibie muda yang melanjutkan studi di Jerman memilih jurusan Teknik Penerbangan dengan spesialisasi kontruksi pesawat terbang di Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule (RWTH).

Pendidikan yang ditempuh Habibie di luar negeri bukanlah pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal Habibie hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi rakyat Indonesia yang menjadi ide Soekarno ketika itu. Dari situlah muncul perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN.

Saat tiba di Jerman, Habibie bertekad untuk sunguh-sungguh di rantau dan harus sukses, dengan mengingat jerih payah ibunya dalam menghidupinya. Tekad dan kesungguhanya pun dibuktikan dengan fokus belajar yang tinggi dan tidak menghabiskan liburannya dengan hanya bersenang-senang. Bahkan, di liburan musim panas setiap tahunnya, Habibie muda selalu mengisi kesehariannya dengan bekerja dan mencari uang. 

Lalu, hasil dari kerja kerasnya digunakan untuk membeli buku. Habibie mendapatkan gelar diploma Ing dari Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule(RWTH) pada tahun 1960 dengan predikat Cumlaude (Sempurna) dengan nilai rata-rata 9,5. 

Bekerja di Industri Kereta Api Jerman Hingga Julukan ‘Mr. Crack’

Setelah lulus dan dengan gelar insinyur, Habibie memulai karir bekerjanya di Firma Talbot, sebuah industri kereta api Jerman. Di Firma Talbot, Habibie mendesain sebuah wagon untuk mengangkut barang-barang dalam volume besar. Rancangan Habibie untuk 1000 wagon Firma Talbot diselesaikan dengan pendekatan teknologi kontruksi sayap pesawat terbang. 

Di sela-sela kerjanya Habibie melanjutkan studinya untuk gelar doktor di Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule. Kerja keras dan ketekunannya membuahkan hasil yang membanggakan. Pada tahun 1965 Habibie mendapatkan gelar Dr. Ingenieur dengan predikat Summa Cumlaude (Sangat Sempurna) dengan nilai rata-rata 10 dari Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean.

Ketika Habibie menjadi engineer di Jerman, ia mempelajari fenomena fatigue (kelelahan) pada kontruksi pesawat. Ia mencetuskan rumus untuk menghitung keretakan atau crack progression on random. Rumus temuan Habibie ini ia namakan “Faktor Habibie”. 

Rumus temuan Habibie ini dapat menghitung crack progression sampai skala atom material kontruksi pesawat terbang. Sehingga Habibie dijuluki “Mr. Crack”. Kejeniusan Habibie mengantarkannya menjadi penemu faktor Habibie yang diakui dunia. 

Habibie diakui lembaga International di antaranya: Gesselschaft fuer Luft und Raumfahrt (Lembaga Penerbangan dan Angkasa Luar) Jerman, The Royal Aeronautical Society London (Inggris), The Royal Swedish Academy of Engineering Sciences (Swedia), The Academie Nationale de l’Air et de l’Espace (Prancis) dan The US Academy of Engineering (Amerika Serikat).

Pada tahun 1967 Habibie mendapatkan penghargaan menjadi Profesor kehormatan (guru besar) di ITB (Institute Teknologi Bandung). Selain itu, ia juga memperoleh penghargaan Edward Warner Award dan Theodore Van Karman Award, yang hampir setara dengan Hadiah Nobel.

Pulang dan Mengabdi untuk Indonesia

Kesuksesan dan prestasi Habibie di luar negeri membuat Presiden RI ke-2 Soeharto tertarik padanya dan mengajaknya pulang untuk bersama membangun Indonesia. Sampai di tanah air, ia pun mengabdikan dirinya untuk bidang kedirgantaraan. Berikut rekam jejak Habibie di Indonesia setelah kembali dari Jerman.

1976-1998 Direktur Utama PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara/ IPTN.
1978-1998 Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia.
1978-1998 Direktur Utama PT. PAL Indonesia (Persero).
1978-1998 Ketua Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam/ Opdip Batam.
1980-1998 Ketua Tim Pengembangan Industri Pertahanan Keamanan (Keppres No. 40, 1980)
1983-1998 Direktur Utama, PT Pindad (Persero).
1988-1998 Wakil Ketua Dewan Pembina Industri Strategis.
1989-1998 Ketua Badan Pengelola Industri Strategis/ BPIS.
1990-1998 Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-lndonesia/lCMI.
1993 Koordinator Presidium Harian, Dewan Pembina Golkar.
10 Maret-20 Mei 1998 Wakil Presiden Republik Indonesia.
21 Mei 1998-Oktober 1999 Presiden Republik Indonesia.

Di Indonesia, Habibie selama kurang lebih 20 tahun menjabat Menteri Negara Ristek/Kepala BPPT serta memimpin 10 perusahaan BUMN Industri Strategis. Pada tahun 1995, ia sukses memimpin pembuatan pesawat N250 Gatot Kaca yang merupakan pesawat buatan Indonesia pertama.

Pesawat N250 rancangan Habibie kala itu bukan sebuat pesawat yang dibuat asal-asalan. Didesain sedemikian rupa oleh Habibie, Pesawat N250 ciptaannya sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, teknologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan Habibie untuk 30 tahun ke depan.

Untuk itu, Habibie butuh waktu sekitar 5 tahun untuk melengkapi desain awal. Pesawat N250 Gatot Kaca merupakan satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’. 

Pesawat N250 Gatot Kaca sudah terbang 900 jam menurut Habibie dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA (Federal Aviation Administration). Bahkan, PT IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu, meskipun pada waktu itu banyak yang memandang remeh pesawat buatan Indonesia termasuk sebagian kalangan di dalam negeri.

Sayangnya, ketika IPTN dibawah komando Habibie sudah mulai berjaya dan mempekerjakan 16.000 orang, tiba-tiba Presiden Soeharto memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya. Hal ini dilakukan ketika badai krisis moneter melanda indonesia antara tahun 1996-1998.

Seperti diketahui, kabarnya penyebab lain ditutupnya IPTN ketika itu adalah Indonesia menerima bantuan keuangan dari IMF (International Monetary Fund) di mana salah satu syaratnya adalah menghentikan proyek pembuatan pesawat N250 yang merupakan kebanggaan Habibie.

Semua tenaga ahli yang bekerja di IPTN dan industri strategis lain terpaksa menyebar dan bekerja di luar negeri, kebanyakan dari mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Brazil, Canada, Amerika dan Eropa.

Lalu, di tahun 2017 kemarin, Habibie kembali meneruskan proyek pesawatnya tersebut dengan mengganti serinya menjadi R80. Tak hanya berganti nama, pesawat R80 ini juga digadang-gadang lebih besar daripada N-250. Jika sebelumnya pada N-250 disiapkan dengan kapasitas penumpang hanya 50-60 kursi. sementara R80 yang telah dimodifikasi agar lebih besar dan nyaman memiliki kapasitas yang lebih layak juga. 

Related Article