Jakarta Fair dan We The Fest Batal Karena COVID-19, Synchronize Fest Tetap Pede

Bulan Juni biasanya dipenuhi oleh semarak pagelaran Jakarta Fair di JIExpo Kemayoran. Namun, acara yang rencananya bakal digelar pada 14 Mei hingga Hari Ulang Tahun Jakarta pada 28 Juni itu resmi ditunda untuk menghindari ancaman pandemi COVID-19.

Menurut Marketing Director PT Jakarta International Expo Ralph Scheunemann, jika situasi memungkinkan, festival dan pameran multiproduk tersebut akan dilaksanakan pada akhir tahun 2020 mendatang.

“Pihak manajemen berpikir kalau memang situasi berjalan baik, ya, kemungkinan akan diselenggarakan pada bulan Desember sampai Januari," kata Ralph.

Yang terbaru, promotor Ismaya Live mengumumkan pembatalan festival musik, seni, fashion, dan makanan tahunannya, We The Fest, yang rencananya digelar pada 14-16 Agustus 2020 mendatang. Meski pada masa penyelenggaraannya dipastikan tidak ada lagi PSBB dan Indonesia akan menerapkan kelaziman baru (new normal), keputusan itu tetap diambil oleh pihak penyelenggara.

“Dengan berat hati, kami harus mengumumkan bahwa We The Fest 2020 tidak akan diselenggarakan sesuai rencana,” tulis Ismaya Live dalam keterangan resminya. “Sampai bertemu di We The Fest 2021 tahun depan!”

Festival musim panas tahunan yang ditunggu oleh banyak warga milenial dan generasi Z tersebut seharusnya mempersembahkan penampilan musisi internasional seperti Migos, Blackbear, hingga Clairo. Ada pula musisi lokal yang direncanakan tampil, yakni Sheila On 7, Naif, hingga Isyana Sarasvati.

Untuk mengobati kekecewaan para pengunjung setianya yang telanjur membeli tiket, pihak Ismaya Live menjanjikan token senilai Rp300 ribu. Token tersebut dapat dipergunakan pada We The Fest 2021, jika pengunjung mau menyimpan tiket yang mereka pegang hingga tahun depan.

Sebelumnya, pandemi COVID-19 sudah membuat beberapa festival musik internasional gagal diselenggarakan pada jadwal aslinya. Mulai dari festival musik metal dan rock Hammersonic 2020 hingga penyelenggaraan perdana festival musik dengan penampil yang sepenuhnya berdarah Asia, Head In The Clouds 2020.

Dengan pembatalan We The Fest 2020, sejumlah orang gusar karena khawatir kehilangan hiburan dan kesempatan menyaksikan konser di sepanjang tahun 2020. Satu-satunya harapan mereka tinggal Synchronize Fest yang bakal dilaksanakan pada 2-4 Oktober 2020 mendatang. 

Direktur Program Synchronize Festival Kiki Aulia Ucup percaya diri dengan festival yang menampilkan berbagai warna musik lokal tersebut. Ia mengungkapkan bahwa pihaknya masih terus memformulasikan berbagai mekanisme agar perhelatan itu dapat terlaksana pada Oktober mendatang.

Menimbang perlunya kewaspadaan dalam menyelenggarakan acara selama pandemi COVID-19, tidak menutup kemungkinan jika diadakan beberapa penyesuaian dalam pelaksanaan Synchronize Fest tahun ini. Ucup mengatakan pihaknya juga berkoordinasi dengan instansi pemerintah terkait protokol yang bakal diterapkan demi menjamin berlangsungnya Synchronize Fest 2020.

“Bisa jadi akan ada penyesuaian, tapi tidak mengurangi DNA-nya Synchronize Fest itu sendiri. Kita masih pemaparan ke beberapa instansi pemerintah juga tentang protokol yang mau kita jalankan,” kata Ucup kepada Asumsi.co

Ucup mengungkapkan sempat ditanyai oleh beberapa musisi yang direncanakan bakal tampil di festival tersebut terkait status keberlangsungannya. Festival yang tahun lalu dihadiri oleh 69 ribu pengunjung tersebut berencana mengumumkan line up-nya pada 2 September mendatang.

“Jawaban gue tetap sama: masih on track,” tegasnya. “Jadwal masih aman, karena kita udah tentuin, sih. Cuma bisa jadi ada perubahan juga dalam konsep yang baru.” 

Ia berharap penanganan pandemi oleh pemerintah dapat berjalan seiring dengan harapannya menyirami masyarakat yang kekeringan hiburan sepanjang tahun 2020. Meski sudah membuat rencana cadangan sebanyak mungkin, menurutnya akan lebih mudah jika vaksin COVID-19 sudah tersedia.

“Sudah sampe plan E kita bikinnya. Plan A, B, C, D, E udah ada kita,” ungkap Ucup. “Cuma, kan, kuncinya sebenernya ada di vaksinnya.”

Dalam jangka panjang, pandemi COVID-19 dinilai akan mengubah penerapan dan cara pandang masyarakat terhadap berbagai event. Namun, bagi Ucup, pandemi yang telah membatalkan pelaksanaan ribuan festival di dunia ini tidak akan mengubah wajah industri event. Pandemi justru membuat pelakunya banyak mencoba berbagai hal baru yang memungkinkan penyelarasan dengan dunia digital.

“Kalau industri event, wajahnya gue rasa nggak akan berubah. Once vaksin itu ditemukan, event akan berjalan seperti biasa menurut gue. Cuma sekarang jadi kebuka untuk lebih ngulik,” ujar Ucup.

“Ibaratnya musisi dan penyelenggara jadi melek mainan baru dengan adanya online concert dan sejenisnya,” tambahnya.

Related Article