post

Current Affairs

Indonesia Sepakati 100 Juta Vaksin COVID-19 dari Inggris Tahun 2021

Ramadhan, 15 Oktober 2020

Indonesia terus gencar menjalin kesepakatan dengan berbagai negara untuk penyediaan vaksin COVID-19. Teranyar, Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi bersama Menteri BUMN Erick Thohir melakukan kunjungan ke Inggris. Di Negeri Ratu Elizabeth, kesepakatan terkait pengadaan 100 juta vaksin pun terjalin.

Indonesia menggelar sejumlah pertemuan yakni dengan perusahaan farmasi asal Inggris, AstraZeneca, Imperial College London (ICL), dan juga CEPI, untuk membahas soal kerja sama terkait pengadaan vaksin dan memperkuat pengelolaan COVID-19.

Pertemuan pertama dilakukan dengan CEPI. Pertemuan kali ini melanjutkan pertemuan sebelumnya yang telah dilakukan antar CEPI dengan Bio Farma pada September lalu. Menlu Retno menyebut CEPI menghargai komitmen Indonesia untuk melakukan kerjasama dengan CEPI.

"CEO CEPI menyampaikan bahwa hasil due diligence terhadap Bio Farma menunjukkan hasil yang sangat baik. Oleh karena itu, CEPI siap melakukan kerja sama dengan Bio Farma," kata Retno dalam konferensi virtual, Rabu (14/10/20).

Hasil baik due diligence itu merupakan pengakuan terhadap kapasitas dan kualitas yang dimiliki Bio Farma untuk memproduksi vaksin COVID-19. Dalam hal ini, CEPI juga menyambut baik keinginan Indonesia untuk melakukan kerja sama strategis jangka panjang, meliputi pengembangan berbagai platform teknologi rapid vaccine dan imunoprofilaksis untuk melawan patogen yang tidak diketahui.

Tak hanya itu, kerja sama juga bakal terjalin dalam hal melakukan riset dan pengembangan inovasi vaksin dari wabah yang berpotensi menjadi epidemi atau pandemi.

"Sebagai bentuk komitmen Indonesia terhadap upaya multilateral untuk menjamin akses setara terhadap vaksin yang aman dan dengan harga terjangkau, maka selama pertemuan dengan CEPI, Indonesia telah menyampaikan keinginannya untuk menjadi bagian dari CEPI Investors Council," ucap Retno.

Langkah tersebut merupakan salah satu bentuk dukungan Indonesia terhadap penyediaan akses vaksin bagi semua atau vaccine for all. "Kita memiliki komitmen yang sama untuk mendukung platform kerjasama multilateral seperti WHO, GAVI, dan CEPI dalam kerangka COVAX Facilities, terutama terkait akses setara terhadap vaksin yang aman dan terjangkau," ujarnya.

Selanjutnya, Indonesia menggelar pertemuan dengan jajaran pimpinan Astra Zeneca (AZ) yang kemudian ditindaklanjuti dengan penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara AZ dan Kementerian Kesehatan (Kemkes).

Sebelum melakukan pertemuan secara langsung, Indonesia sebetulnya sudah menggelar serangkaian pertemuan virtual secara intensif dengan AZ. "Pertemuan dengan jajaran pimpinan AstraZeneca telah berjalan dengan baik. Indonesia telah menyampaikan permintaan penyediaan vaksin sebesar 100 juta untuk 2021.”

Pihak AZ pun menyambut baik permintaan Indonesia tersebut. Nantinya, pengiriman pertama diharapkan bisa terealisasi pada semester pertama 2021 dan akan dilakukan secara bertahap. Vaksin AZ sendiri merupakan salah satu kandidat vaksin yang oleh WHO tercatat telah memasuki tahap uji klinis III. Vaksin AZ ini menggunakan platform non-replicating viral vector.

Dalam pertemuan tersebut, Indonesia menegaskan soal pentingnya faktor keamanan dan efikasi dari vaksin. Faktor-faktor tersebut akan menjadi bagian penting dari kerja sama vaksin Indonesia dengan AZ termasuk berbagi informasi mengenai hasil uji klinis tahap I dan II.

Selanjutnya, pertemuan ditutup dengan penandatanganan LoI terkait dengan rencana pengadaan Vaksin COVID-19 dari AZ. Dalam kesepakatan ini, pemerintah Indonesia diwakili oleh Sekjen Kemenkes. Selain itu, delegasi Indonesia juga melakukan penandatanganan LoI juga antara Imperial College London (ICL), VacEquity Global Health ltd (VGH) dan Kemenkes.

Dalam pertemuan dengan ICL dan VGH, dibahas berbagai potensi kerja sama strategis ke depan, di antaranya terkait penelitian, pendidikan dan inovasi terkait dengan pengembangan platform vaksin “self-amplifying RNA” (saRNA). Selain itu, ada pula kerja sama terkait pencegahan dan pengendalian penyakit menular, teknologi kesehatan, serta peningkatan SDM di bidang kesehatan.

"Indonesia dan ICL masih terus membahas kemungkinan dilakukannya uji klinis tahap III vaksin saRNA di Indonesia," kata Retno. Menurutnya, vaksin saRNA ini memiliki arti penting karena memungkinkan pengembangan unit manufaktur modular atau “pop up” yang dapat memastikan akses cepat atas vaksin di mana pun di penjuru dunia.

Siapa Saja yang Mendapatkan Suntikan Vaksin Prioritas?

Dari dokumen Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian usai rapat terbatas Senin (12/10) kemarin, setidaknya ada enam kelompok prioritas penerima vaksin COVID-19. Siapa saja mereka?

Pertama, kelompok yang bertugas di garda terdepan penanggulangan COVID-19. Nantinya, vaksin COVID-19 akan disuntikkan kepada 3,4 juta orang tenaga medis, aparat hukum seperti TNI, Polri, serta aparat pelayanan publik. Untuk kelompok ini, dibutuhkan sekitar 6,9 juta dosis vaksin.

Kedua, vaksin akan disuntikkan kepada 5,6 juta orang tokoh agama atau tokoh masyarakat, hingga perangkat daerah seperti kecamatan, desa, maupun RT/RW. Kebutuhan vaksin untuk kelompok ini diperkirakan sekitar 11 juta dosis.

Ketiga, vaksin akan disuntikkan kepada 4,3 juta orang tenaga pendidik (PAUD) atau TK, SD, SMP, SMA, hingga sederajat perguruan tinggi. Total kebutuhan vaksin untuk kelompok ini diperkirakan mencapai 8,7 juta dosis.

Keempat, sebanyak 2,3 juta orang aparatur pemerintah pusat, daerah dan legislatif juga akan mendapatkan suntikan vaksin. Kebutuhan vaksin untuk kelompok ini diperkirakan mencapai sekitar 4,6 juta dosis.

Kelima, sekitar 86 juta orang penerima bantuan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan juga mendapatkan suntikan vaksin. Total kebutuhan vaksin untuk kelompok ini diperkirakan mencapai sekitar 173 juta dosis.

Terakhir, vaksin juga akan diberikan kepada 57 juta orang masyarakat berusia di rentang 19-59 tahun. Kebutuhan vaksin untuk kelompok ini diperkirakan mencapai sekitar 115 juta dosis.

Setidaknya ada sekitar 160 juta penduduk Indonesia yang ditargetkan mendapatkan vaksin COVID-19 dengan total kebutuhan 320 juta dosis, dengan 135 juta orang akan mendapatkan vaksin pada 2021.