Iklan "Bergerak" Prabowo dan 3 Kesalahan Pemuda Lulusan Arisitektur dalam Video

Masa kampanye sudah diresmikan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sejak Sabtu, 22 September 2018 lalu. Makanya, baik calon presiden (capres), calon wakil presiden (cawapres), maupun calon legislatif (caleg) berhak membuat bahan kampanyenya masing-masing. Tapi ada syaratnya, mereka harus membuat suasana Pemilihan Umum (Pemilu) menjadi damai.

Kita perlu memberi apresiasi kepada mereka yang mau membuat promosi tanpa ada unsur SARA dan menghindari percobaan adu domba. Promosi pun dilakukan dengan membuat iklan yang bisa disaksikan masyarakat luas. Ada satu iklan kampanye yang baru-baru ini cukup jadi bahan perbincangan. Yaitu iklan milik pasangan calon nomor nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Iklan yang diunggah akun Twitter @Gerindra itu menggambarkan bagaimana susahnya mencari lapangan pekerjaan yang sesuai dengan jurusan semasa kuliah. Dimulai dari seorang pemuda jurusan arsitektur yang baru lulus dengan predikat cumlaude, atau lulusan dengan pujian. Setelah lulus, ia melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan.

Namun sayang pengumuman menyenangkan tak kunjung datang. Akhirnya ia mencoba untuk bekerja sebagai ojek, penjaga pintu, tukang parkir eksekutif, dan terakhir ia sempat menjadi fotografer. Sayangnya keempat pekerjaan itu tak mampu membuat hati orang tuanya bahagia.

Di akhir video, sang bapak bilang kalau anaknya butuh perubahan. Makanya kudu pilih Prabowo-Sandi untuk jadi presiden baru. Tentunya, video yang tersebar pada 14 Desember 2018 itu menjadi sentilan bagi lawan mereka. Sebab capres petahana Joko Widodo kerap memberikan jargon kerja-kerja-kerja. Namun mencari kerja nyatanya tak mudah.

Eh, tunggu dulu deh! Kalau nanti Prabowo-Sandi benar terpilih jadi Presiden Indonesia, apakah kira-kira si pemuda dalam video bisa langsung dapat pekerjaan? Belum Tentu! Setidaknya, ada tiga kesalahan si pemuda jurusan arsitektur itu dalam mencari kerja, apa saja?

CV dan Portofolionya Salah

Kita bisa melihat dalam video, si pemuda, sebut saja namanya Emen, memberikan beberapa lembaran kertas lamaran kerja kepada HRD. Kalau diteliti, kertas yang digunakan Emen itu berjenis HVS, alias kertas paling mainstreem yang biasa digunakan untuk cetak soal ujian sekolah. Dari kertas lamaran yang ditampilkan dalam video, tidak tampak coretan apapun.

Padahal si Emen perlu memberikan contoh-contoh karyanya. Dikutip dari blog seorang arsitek gedung bertingkat, fahryadam.com menulis kalau ada lima tugas paling umum yang biasanya dikerjakan oleh mahasiswa jurusan arsitektur. Yaitu ada tugas bikin sketsa, buat model, desain rumah sederhana, desain bangunan publik, sampai bikin poster.

Ya, berarti arsitek ini mirip-mirip sama anak seni, bedanya dia harus menggambar dengan memakai pehitungan yang real agar bisa benar-benar terealisasikan. Nah, si Emen kalau mau cari kerja, mestinya memberikan contoh karya dan tugas yang udah dia buat. Bukan cuman kertas HVS kosong. Pantas saja orang HRD-nya senyum-senyum miris dan si Emen tak kunjung dapat panggilan kerja.

Kurang Inovasi

Dalam kebimbangan Emen mencari kerja, tiba-tiba muncul iklan Prabowo-Sandi di televisi. Dibilangnya, bahwa “Dicita-citakan bangsa dan negara Republik Indonesia yang adil, makmur, dan berdiri di atas kaki sendiri di bidang ekonomi.” Kemudian di akhir video ada narator yang mengatakan, “Saatnya Indonesia bergerak bersama Gerindra dan rakyat menuju Indonesia adil dan makmur.”

Ya, jika Emen benar-benar mengidolakan Prabowo-Sandi, mestinya ia bisa ‘berdiri di atas kaki sendiri’ sesuai dengan ucapan narator dalam iklan. Sang cawapres Sandiaga Salahuddin Uno pun adalah salah satu orang yang lulus dengan IPK 4,0, alias sempurna. Namun di tahun 1997 ia juga sempat menganggur dan tinggal bersama orang tuanya akibat dari krisis moneter.

Tapi hal tidak membuatnya justru kehabisan ide. Sandiaga berinovasi dengan membuka usaha bersama teman-temannya. Usahanya terbukti, dengan beridrinya PT Recapital yang menjadi salah satu perusahan jasa konsultan keuangan sukses di tengah badai krisis. Lalu, bagaimana dengan Emen dalam video kampanye tadi?

Salah satu kesalahan terbesar Emen adalah dia tidak mencoba membuat inovasinya sendiri. Sebagai lulusan arsitektur, Emen semestinya bisa bekerja sebagai arsitek lepas dan mampu berwiraswasta. Beberapa universitas bahkan sengaja menyisipkan mata kuliah kewirausahaan agar kelak lulusannya dapat mengelola bisnisnya sendiri.

Kalau Emen belum dapat panggilan kerja, bikin sketsa lagi aja, Men! Terus unggah di sosial media. Kalau ada yang tertarik ngajak kerja sama, kan bisa dapat uang juga. Yang penting, jangan main hape aja.

Tak Berdoa

Sebagai pihak oposisi, pasangan Prabowo-Sandi kerap digambarkan dekat dengan ulama. Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN)-nya saja seorang ustazah. Prabowo sendiri sempat ikutan ke reuni aksi 212, yang kita ketahui bersama itu adalah gerakan yang diinisiasi oleh sensi agama.

Sayangnya, di dalam video iklan kampanye, tidak ada satupun adegan si Emen sedang berdoa. Padahal sebagai orang beragama, doa adalah salah satu senjata dalam memanjatkan harapan pada yang maha kuasa. Tak hanya meminta dapat pekerjaan, dalam berdoa kita bisa memohon apa saja. Termasuk memohon agar diberikan pemimpin negara yang adil dan kreatif.

Related Article