post

Current Affairs

Ibu Saya Bukan Sekadar Angka

MM Ridho, 16 Maret 2020

Akhir pekan kemarin, kami sekeluarga pulang ke Bandar Lampung untuk menghadiri pernikahan sepupu saya. Kami berangkat dari Depok pada Jumat malam dan tiba di rumah keluarga besar pukul 6 pagi. Mata saya langsung tertuju pada rak tua berisi album foto.

Sambil menunggu sarapan disajikan, saya mengambil satu album untuk melihat-lihat. Ada foto seorang perempuan menggendong anak telanjang yang habis dibedaki. Sesaat kemudian saya baru menyadari bahwa anak dalam foto tersebut adalah saya dan perempuan itu adalah ibu saya.

Tidak ada keriput di wajah Ibu dalam foto tersebut. Di sudut bawahnya tertulis “19/4/2000”. Sudah 20 tahun. Sejak itu, waktu telah menghadiahi banyak penderitaan untuk Ibu, termasuk lewat saya. Umurnya kini 65 tahun. Namun, nyeri di persendian tidak membuatnya jadi pemalas. Ia masih sering bepergian ke sana ke mari untuk mengurusi berbagai keperluan sehari-hari. Keriput di wajah juga tidak membuatnya malu untuk tetap mempelajari berbagai hal, salah satunya bahasa Arab.

Gairah belajar ini membuat Ibu harus menumpang KRL ke Lembaga Bahasa dan Ilmu Alquran di Tanah Abang tiga kali sepekan. Ia bahkan menyempatkan diri menghadiri kelasnya pada Jumat pagi sebelum kami berangkat ke Bandar Lampung.

Saya minta ia absen dulu karena pemerintah mengumumkan ada dua WNI positif terjangkit COVID-19, tapi ia tetap berangkat.

Ibu keras kepala dan saya sama saja. Kenyataan bahwa banyak orang berusia lanjut yang meninggal dunia karena terinfeksi virus ini membuat saya sangat khawatir. Dan kekeraskepalaan Ibu untuk tetap bepergian membuatnya semakin menjadi-jadi. Ditambah lagi, kabarnya, risiko kontaminasi terbesar COVID-19 terjadi di transportasi umum.

Ibu memang sumber tekanan nomor satu dalam hidup saya. Saat ia masih bekerja, sering kali saya tak mau bicara dengannya yang baru pulang, karena tak jarang obrolan kami berakhir menjadi kemarahannya. Setelah pensiun, temperamen Ibu mereda tapi tekanannya berubah bentuk: fakta bahwa saya adalah anak sulung sering kali membuat harapan dan tuntutannya membuat saya ingin terlahir jadi belimbing saja.

Tetapi saya mencintai ibu saya.

Dia sering marah karena perkataan saya mungkin kelewat sensitif baginya yang kelelahan. Ia bekerja untuk menghidupi dua anaknya dengan layak, agar kami mendapat pendidikan yang layak meski tanpa bantuan dana dari siapa pun, termasuk suaminya. Dan tuntutan demi tuntutan tentu disampaikannya agar saya dapat menjadi manusia yang bermartabat, yang terus memperbaiki diri dan tak mengulang-ulang kesalahan seperti keledai.

Belakangan, dengan alasan hendak meredam kepanikan masal, banyak orang mengedarkan narasi yang menempatkan orang-orang berusia lanjut secara kurang ajar, seolah-olah mereka boleh saja dikorbankan. Padahal, selain jumlahnya jutaan, setiap orang tua pasti punya orang-orang yang menyayanginya.

Narasi yang mereduksi orang-orang tua menjadi sekadar angka, sekadar demi meredam kepanikan banyak orang berusia muda, jelas gagal memahami bahwa di balik angka-angka tersebut ada manusia seutuhnya, yang merasakan sakit sebelum kehilangan nyawa, yang dapat membuat banyak orang yang diperjuangkannya bisa bersedih bukan main karena kepergiannya.

Kenyataan ini belakangan menghantui pikiran saya. Buruknya penanganan wabah oleh pemerintah juga membuat kekhawatiran ini kian bertambah dan menghasilkan sebuah prinsip: jika tidak saling melindungi, kita bisa kehilangan orang yang kita cintai.

Siapa yang rela meninggalkan pekerjaannya memeriksa ratusan pasien di Puskesmas untuk merawat anaknya yang sakit? Ibu saya. Siapa yang menangis tiada henti ketika anaknya hampir mati karena kebodohannya ikut-ikut tawuran pelajar? Ibu saya juga. Siapa yang berulang kali mengirimi pesan karena khawatir akan kesehatan anaknya yang terlalu asyik bekerja? Tentu saja ibu saya.