Hubungan Prabowo dan Rachmawati Soekarnoputri di Dunia Politik

Rachmawati Soekarnoputri mewakili Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno hadir pada acara apel akbar dan pembekalan caleg parpol koalisi pendukung. Acara itu diadakan di Gelanggang Olahraga (GOR) Maulana Yusuf Kota Serang, Banteng, Minggu, 10 Maret 2019. Pada kesempatan tersebut, putri ketiga Proklamator RI Soekarno itu memberi semangat kepada ribuan relawan dan pendukung Prabowo-Sandi.

Rachmawati mengingatkan para pendukung Prabowo-Sandi untuk mengawal Pemilu 2019. Maka dari itu, ia berharap seluruh elemen bisa bekerja keras untuk memenangkan pasangan capres-cawapres nomor urut 02 tersebut.

"Pada tanggal 17 April 2019 adalah tahun penentuan. Kita harus waspada dan bekerja keras untuk memenangkan Prabowo-Sandi," kata Rachmawati dalam acara apel akbar dan pembekalan caleg parpol koalisi pendukung Prabowo-Sandi, Minggu, 10 Maret 2019 seperti dikutip dari Antara.

Selain itu, Rachmawati juga membeberkan alasannya mengapa memilih pasangan Prabowo-Sandi. Ia mengatakann salah satu alasannya karena pada tahun ini bangsa Indonesia dalam posisi bahaya lantaran mengalami penjajahan gaya baru. Menurut Rachmawati, Indonesia memiliki utang yang sangat besar saat ini.

"Bukan hanya sembako yang kita impor, melainkan orangnya juga diimpor. Ini artinya penjajahan gaya baru, utang kita sangat besar, setiap kepala dibebani Rp 15 juta, uang kita juga sudah dibawa ke luar negeri," ucapnya.

Maka dari itu, Rachmawati menegaskan bahwa bangsa Indonesia yang sudah merdeka ini jangan mau dijajah oleh bangsa asing. Demi Pemilu 2019 yang aman dan lancar, ia pun mengajak pendukung, simpatisan, dan para sukarelawan Prabowo-Sandi untuk siap menjadi saksi di TPS wilayahnya masing-masing guna mengantisipasi kecurangan. 

"Jangan sampai ada kecurangan yang terstruktur, sistematis, dan masif. Kita harus waspadai semua dan tetap harus menjaga ketertiban, keamanan, serta persatuan dan kesatuan," ujarnya.

Rachmawati Sempat Merapat ke Nasdem

Dukungan Rachmawati untuk Prabowo sendiri tak serta merta datang begitu saja Keduanya melewati perjalanan panjang sampai akhirnya memiliki hubungan yang kuat di dunia politik. Perjalanan politik Rachmawati sendiri mulai terlihat pada pertengahan tahun 2001. 

Saat itu, Rachmawati mendeklarasikan Forum Nasional yang mengkritisi elit pemerintahan. Ketika Forum Nasional melahirkan Partai Persatuan Bangsa Indonesia, ia justru langsung dijadikan calon presiden. Lalu, setahun berselang, ia langsung mendirikan Partai Pelopor. 

Partai Pelopor yang disebut-sebut memiliki semangat marhaenis tersebut sempat menjanjikan tidak akan berkompromi terhadap para pelanggar HAM, menolak Dwifungsi TNI/Polri dan menolak ketergantungan ekonomi pada lembaga dana internasional. Sayangnya, Partai Pelopor justru tak mengalami perkembangan.

Lalu, pada 16 September 2012, Rachmawati justru bergabung dengan Partai Nasional Demokrat (NasDem) pimpinan Surya Paloh. Bahkan, adik dari Megawati Soekarnoputri itu diberi jabatan sebagai ketua dewan pertimbangan. Saat itu, ia menyatakan mempunyai visi misi sama dengan Partai NasDem.

Saat pertama kali bergabung, Rachmawati merasa terharu dengan sambutan ribuan kader NasDem. Bahkan beberapa kali ia terdengar tak bisa meneruskan kata-katanya. "Saya terharu," ucap Rachmawati sambil menahan suaranya saat mendengar namanya disebut-sebut para kader dalam acara Pelantikan DPD, DPC dan DPRt di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Minggu, 16 September 2012 lalu. 

Pada sesi pidato tersebut, Rachmawati pun mengungkapkan alasan dirinya memilih bergabung dengan Partai NasDem. "Awalnya saudara saya Surya Paloh yang meminta saya bergabung dengan NasDem. Saya tadinya berkontempelasi, saya ini dulunya nonpartisan. Apa saya tetap jadi nonpartisan. Tapi karena saya tahu sahabat saya punya visi misi yang sama. Akhirnya saya pun bergabung,” ucapnya.

Sebagai anak proklamator, Rachmawati mengatakan bahwa dirinya memiliki tugas meneruskan perjuangan ayahnya guna membangun bangsa. "Saya selalu mengatakan bahwa saya ini tidak cukup hanya sebagai anak biologis Soekarno, saya juga harus jadi anak ideologi Bung Karno. Saya harus bermanfaat sebagai pembangun bangsa,” ujarnya.

"Saya akan ikut berjuang untuk ikut memenangkan Partai Nasdem sebagai satu-satunya pemenang (pemilu) di 2014.”

Berpisah dengan Nasdem dan Dukung Prabowo

Menariknya, ketika Pilpres 2014, Rachmawati justru berseberangan pemikiran dengan Surya Paloh. Ia malah membelot dan lebih memilih mendukung pasangan Prabowo-Hatta sebagai capres-cawapres. Padahal, saat itu NasDem berkoalisi dengan PDIP mengusung Jokowi-JK.

Sikap membelot itu pun langsung membuat Rachmawati dicopot dari NasDem. Ia dianggap sudah tidak lagi sejalan dengan kepentingan NasDem lantaran memutuskan memberi dukungan kepada Prabowo-Hatta.

Sekretaris Jenderal DPP Partai Nasdem saat itu Patrice Rio Capella mengatakan, salah satu alasan pemecatan Rachmawati dari jabatan Ketua Dewan Pertimbangan NasDem yakni karena ia dianggap tidak lagi percaya kepada Nasdem. Menurut Patrice, hal ini karena ada perbedaan prinsip antara NasDem dan Rachmawati.

"Kami melihat perlu diadakan pengambilan keputusan untuk mengganti Ketua Dewan Pertimbangan Rachmawati dengan alasan bahwa ada sebuah perbedaan pandangan yang cukup tajam yang menurut kami tidak sesuai dengan etika dan disiplin organisasi serta basis perjuangan partai," kata Patrice Rio Capella saat konferensi pers di Kantor DPP Partai NasDem, Jakarta, Selasa, 5 Agustus 2014.

Rachmawati Berikan ‘The Star of Soekarno’ ke Prabowo

Bahkan, Rachmawati pernah menganugerahkan penghargaan The Star of Soekarno kepada bakal Prabowo Subianto. Penghargaan tersebut diberikan di sela-sela upacara Peringatan Kemerdekaan RI ke-73 di Kampus Universitas Bung Karno (UBK), Jakarta Pusat, Jumat, 17 Agustus 2018. Menurut Rachmawati, Prabowo layak diberikan penghargaan The Star of Soekarno lantaran Prabowo sebagai tokoh yang selalu memperjuangkan masalah keadilan, perdamaian, dan demokrasi. 

"Bapak Haji Prabowo Subianto adalah satu tokoh yang selalu memperjuangkan masalah keadilan, perdamaian dan demokrasi," kata Rachmawati seusai upacara, Jumat, 17 Agustus 2018.

Perlu diketahui, penghargaan The Star of Soekarno pernah diberikan kepada Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad, Presiden Venezuela Hugo Chavez, tokoh revolusioner sekaligus Presiden Kuba Fidel Castro dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pada 2015 lalu. Rachmawati mengatakan penghargaan the Star of Soekarno diberikan kepada tokoh-tokoh yang dianggap mengukir sejarah.

Misalnya saja, Rachmawati mencontohkan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad yang kembali terpilih dalam usia 92 tahun. Mahathir berhasil mengalahkam Barisan Nasional, koalisi pimpinan perdana menteri sebelumnya Najib Razak. Hasil pemilu itu menjadi kekalahan perdana Barisan Nasional semenjak Malaysia merdeka, atau pada 60 tahun terakhir. 

"Alhamdulillah penerima penghargaan tersebut ternyata semua mengukir sejarah. Kita juga tahu peranan Fidel Castro dan lain sebagainya yang tidak bisa saya sebutkan," kata Rachmawati.

Rachmawati pun berharap Prabowo dapat menjadi pemimpin Indonesia di masa mendatang. "Semoga beliau dapat memimpin Indonesia di masa mendatang. Mohon doa restunya," ucapnya.

Related Article