General

Sosialisme Islam HOS Tjokroaminoto

Dinda Sekar Paramitha — Asumsi.co

featured image

Raden Mas Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto merupakan pendiri Sarekat Islam (SI), organisasi pergerakan berskala nasional pertama di Indonesia. Sebagai pelopor antikolonialisme dan kesadaran kebangsaan, ia merumuskan gagasan yang menurutnya paling sesuai untuk diterapkan di Indonesia. Itulah sosialisme Islam. Dalam buku H.O.S Tjokroaminoto: Hidup dan Perjuangannya karya Amelz (1952), Tjokroaminoto mengatakan, “Bahwa rasa persaudaraan dan persatuan dalam dunia Islam, yaitu dasar yang sesungguh-sungguhnya bagi sosialisme, tiada akan pernah mati bahkan akan selalu bertambah-tambah di dalam hati umat Islam!”

Ada banyak cabang dan aliran pemikir yang dicakup sosialisme, namun, sebagaimana dinyatakan Karl Marx dan Friedrich Engels, sosialisme muncul lantaran kemajuan teknologi dan kesadaran kelas pekerja melahirkan gejolak perlawanan. Sosialisme percaya bahwa kelak para pekerja akan membebaskan diri dari belenggu. Dan saat mereka terbebas, pertentangan antarkelas akan berakhir bersama sistem penghisapan yang hanya menguntungkan penguasa.

Dalam bukunya Islam dan Sosialisme, Tjokroaminoto percaya sosialisme Islam yang ia cita-citakan dilandasi oleh hukum Tuhan; bukan pemikiran manusia. Islam mengajarkan bahwa semua manusia bersaudara dan bernilai sama di mata Tuhan, maka seharusnya tidak ada perbedaan kelas. Namun, bukan berarti Tjokro mengecam teori-teori Marx dan Engels. Ia justru menilai bahwa sosialisme memberikan penjelasan lanjutan atas nilai-nilai persaudaraan, humanisme, dan persamaan hak dalam Islam.

Bila disarikan, ada tiga pokok sosialisme Islam Tjokroaminoto, yaitu kemerdekaan (vrijheid-liberty), persamaan (gelijk-qualty), dan persaudaraan (broederchap-fraternity).  Etika mengambil banyak bagian dalam teori ini. Menurut Tjokroaminoto, syarat kesejahteraan dan keadilan  adalah perbaikan perilaku serta penyingkiran nafsu-nafsu buruk. Segala kerusakan sosial dipandangnya bermula sebagai persoalan etik, dan hukum Tuhan, yang adil dan tak memihak kelas atau golongan tertentu, adalah dasar sebuah negara sosialistik sejati.

Sebagai organisasi politik, jumlah anggota SI bertambah dengan cepat dan menimbulkan kekhawatiran bagi pemerintah Belanda.

Hal itu terbukti dari perjuangan SI memperoleh badan hukum sampai akhirnya berubah menjadi partai politik (1917). Pada tahun yang sama, Tjokroaminoto dan Abdul Muis selaku perwakilan SI duduk di Volksraad atau Dewan Perwakilan Rakyat. Dalam kongres internal SI, Tjokroaminoto menyatakan hendak membentuk pemerintahan.

Pertumbuhan pesat SI dan sosialisme Islamnya pun jadi “kesempatan” untuk masuknya paham lain. Paham ini disebarkan oleh H.J.F.M Sneevliet lewat organisasinya, ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging), menggunakan taktik infiltrasi. Mereka menyusup ke SI dan menimbulkan perpecahan. Mereka hendak membela rakyat dan menentang kapitalisme dengan caranya sendiri.

Inilah yang memecah SI menjadi dua: SI Putih dan SI Merah. SI Putih, yang Islam, tetap dipimpin Tjokroaminoto; sedangkan SI Merah, yang komunis, dipimpin Semaoen. Pada akhirnya, SI Merah memisahkan diri menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).

Yang perlu diingat: Semaoen merupakan murid Tjokroaminoto. Bersama Soekarno, Alimin, Muso, Kartosuwiryo, dan bahkan Tan Malaka, Semaoen pernah dididik oleh Tjokroaminoto di rumahnya. Sekalipun gagasan Tjokroaminoto pada akhirnya tak dijadikan dasar negara, sumbangannya sebagai guru para pemimpin bangsa sungguh tak terkira.

Share: Sosialisme Islam HOS Tjokroaminoto