Hoaks Ratna Sarumpaet dan 3 Cara Prabowo Bangkit

Ratna Sarumpaet, aktivis sekaligus anggota tim pemenangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019, menghebohkan masyarakat se-Indonesia beberapa hari ini. Ibu dari artis Atiqah Hasiholan itu mengaku berbohong terkait lebam di wajahnya. Situasi ini pun jadi sedikit rumit dan kurang menguntungkan bagi Prabowo sendiri mengingat jabatan Ratan dalam timses.

Sebelumnya, Fadli Zon, Rachel Maryam, Hanum Rais, dan politisi lain di belakang Prabowo memulai pemberitaan ini dengan mengatakan bahwa Ratna menjadi korban pemukulan oleh oknum tak dikenal pada 21 September lalu. Bahkan Prabowo pun sempat mengadakan konferensi pers terkait hal ini. Namun, Ratna tak pernah mengucapkan satu kata pun dari mulutnya.

Ramai diberitakan di media massa dan menjadi bahan pembicaraan publik, Ratna akhirnya memberikan pernyataannya di hadapan para jurnalis pada 3 Oktober kemarin. Pada kesempatan itu, ternyata Ratna sama sekali tidak mengalami penganiayaan. Melainkan, ia telah menjalani prosedur operasi plastik di salah satu rumah sakit bedah di Jakarta Pusat. 

"Tanggal 21 saya mendatangi rumah sakit khusus bedah menemui dokter Sidik, ahli bedah plastik. Kedatangan saya ke situ karena kami sepakat beliau akan menyedot lemak di kiri-kanan saya," ujarnya

Ratna sendiri menjelaskan bahwa awal hebohnya kebohongan tersebut berawal dari dirinya yang hanya ingin mencari alasan kepada anak-anaknya. "Saya dengan sangat memohon maaf kepada Pak Prabowo, yang kemarin dengan tulus membela saya, membela kebohongan yang saya buat. Tapi saya berjanji akan memperbaiki, yang memberikan perjuangan kami yang sekarang terenyak," ucapnya.

Saat menggelar konferensi pers, Ratna bahkan mengaku bahwa dirinya adalah pencipta hoaks terbaik. Sambil menahan tangis, ia juga meminta maaf kepada banyak pihak, termasuk kepada pihak yang selama ini dikritiknya. Ratna mengaku berbohong soal penganiayaan dirinya saat bertemu dengan sejumlah orang, di antaranya Prabowo Subianto, Fadli Zon, dan Amien Rais.

"Saya juga meminta maaf kepada semua pihak yang selama ini mungkin dengan suara keras saya kritik dan kali ini berbalik ke saya, kali ini saya pencipta hoaks terbaik ternyata, menghebohkan semua negeri," kata Ratna dalam jumpa pers di kediamannya, Jl Kampung Melayu Kecil V/24, Bukit Duri, Jakarta Selatan.

Dengan pengakuannya tersebut, Ratna berharap kegaduhan segera berakhir. Sambil bersumpah, Ratna tidak berniat berbohong. Lalu, dengan peristiwa heboh ini, bagaimana situasi kubu Prabowo? Akankah berpengaruh terhadap elektabilitas Prabowo? Bagaimana cara agar Prabowo bisa bangkit?

Hoaks Membuat Ratna Merusak Dua Hal

Direktur Paramater Politik Indonesia Adi Prayitno melihat aksi hoaks yang dilakukan Ratna ini merusak dua hal sekaligus yakni citra dirinya dan elektabilitas Prabowo-Sandi. Peristiwa hoaks Ratna juga seperti ingin menegaskan bahwa kubu oposisi memang memiliki wajah ‘sangar’.

“Hoaksnya Ratna ini merusak dua hal, pertama merusak kredibilitas dirinya sebagai aktivis yang selama ini kritis, lantang mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah, itu otomatislah. Artinya, integritas Ratna saat ini sudah mulai mengabur,” kata Adi saat dihubungi Asumsi.co, Kamis, 4 Oktober.

“Yang kedua tentu daya rusaknya terhadap koalisi Prabowo karena suka enggak suka Ratna ini juga merepresentasikan salah satu kelompok kepentingan kan di kubunya Prabowo karena dia kan bagian dari timses kan.”

Menurut Adi, secara alamiah, kejadian ini akan berpengaruh seakan-akan bahwa di kubu Prabowo ada orang yang dibiarkan bermain hoax, yang mengeluarkan satu tindakan tidak terpuji dan selama ini dimusuhi banyak pihak. Sehingga citra yang ditimbulkan jadi buruk dan daya rusaknya di situ.

“Seakan-akan semakin mengkonfirmasi bahwa kubu oposisi selama ini memang kerap membabi buta, mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah tanpa dasar yang kuat. Misalnya kritik terhadap pekerja asal Cina yang dibantah menteri tenaga kerja, kritik terhadap utang luar negeri juga dibantah.”

“Artinya banyak hal-hal yang dijadikan amunisi untuk mengkritik pemerintah ini sering kali terbantahkan dengan mudah.”

Pukulan Berat bagi Prabowo-Sandi

Tentu hal peristiwa ini menjadi pukulan bagi pasangan Prabowo-Sandi. Direktur Eksekutif Developing Countries Studies Center (DCSC), Zaenal A. Budiyono mengatakan bahwa aksi hoaks yang dilakukan Ratna, sedikit banyak tentu akan berpengaruh dengan elektabilitas Prabowo-Sandi.

“Dalam jangka pendek kebohongan Ratna merupakan pukulan berat bagi Prabowo-Sandi. Apalagi mereka sampai “terseret” drama Ratna dengan menggelar konferensi pers resmi,” kata Zaenal kepada Asumsi.co, Kamis, 4 Oktober.

Menurut Zaenal, publik akan berasumsi bahwa Timses Prabowo tidak kredibel dalam menyaring informasi. Lalu, lanjut Zaenal, masyarakat akan bertanya, bagaimana jika Prabowo nantinya memimpin negara dengan manajemen semacam ini?

Meski situasi rumit tengah dihadapi Prabowo saat ini, Zaenal meyakini bahwa semua itu tidak akan berlangsung lama. Zaenal menilai Prabowo masih punya kesempatan besar memperbaiki citranya di bulan-bulan terakhir jelang Pilpres 2019.

“Namun demikian, pemilu masih 6 bulan lagi. Dan biasanya memori masyarakat kita tidak akan lama merekam kejadian-kejadian tertentu. Apa yang terjadi di bulan Maret dan April 2019 nanti lebih berpengaruh terhadap pilihan nantinya.”

Apalagi, kata Zaenal, mengenai insiden “dibohongi” ini, memang bukan hanya Prabowo saja yang pernah mengalami. Ia mencontohkan bahwa pemerintah pada 2015 lalu juga sempat “kecolongan” ketika mengangkat Wakil Menteri yang masih berstatus WNA. 

“Dengan kata lain, bahkan di level elit pun banyak politisi kita yang belum memiliki mekanisme manajemen informasi yang profesional untuk menghindari terjadinya hoaks maupun kecolongan tersebut,” kata Dosen FISIP Universitas Al Azhar Indonesia tersebut.

Tiga Cara Prabowo Bangkit dari Situasi Ini

Memang berat bagi Prabowo untuk bangkit dari situasi tidak mengenakkan seperti ini, apalagi menyangkut kredibilitasnya serta kepercayaan masyarakat. Namun, menurut Zaenal, Prabowo akan tetap bisa memperbaiki citranya yang terlanjur terganggu oleh ulah Ratna.

Setidaknya ada tiga cara Prabowo untuk bangkit dan kembali membangun citra baiknya di hadapan masyarakat. Yang jelas masih banyak waktu bagi pasangan Prabowo-Sandi untuk mengembalikan kepercayaan publik jelang bertarung di Pilpres 2019 mendatang.

“Pertama, kubu Prabowo dalam waktu dekat ini harus menunjukkan ketegasannya dalam mengatasi hoaks. Sebab mereka sejak awal menjanjikan kampanye anti hoaks. Mengeluarkan atau mundurnya Ratna dari timses sedikit langkah maju. Namun tantangan ke depan masih berat, karena Pilpres masih 6 bulan lagi dan potensi munculnya hoaks masih bisa terjadi.”

“Kedua, sebagai oposisi tak ada jalan lain untuk menaikkan elektabilitas kecuali melalui program kerja tandingan yang tidak hanya berbeda dengan incumbent, namun juga harus rasional dan solutif.”

Zaenal mengatakan bahwa isu-isu penting seperti tekanan dolar terhadap rupiah misalnya, harus dijadikan alat kampanye dengan menawarkan resep mujarab yang mudah dipahami publik. Bila narasi cerdas semacam ini yang dibangun di berbagai isu, maka peluang untuk rebound tentu ada.

“Ketiga, makin mengintensifkan aksi turun ke lapangan dan bersentuhan dengan akar rumput sesering, sebanyak, dan seoptimal mungkin. Karena suara riil itu ada di bawah, di masyarakat awam, bukan di “udara” dan sosmed.”

Sementara itu, menurut Pengamat Politik dari Universitas Padjadjaran Idil Akbar, dalam situasi seperti ini, kubu Prabowo-Sandi mau tak mau memang harus terus maju dan menghadapi masalah yang ada.

“Menurut saya jika sudah begini, maka hadapi saja jika ada yang melakukan tuntutan. Membawa pembenaran hanya semakin membuat runyam permasalahan. Karena bagaimanapun perbuatan ini sudah masuk dalam ranah hukum,” kata Idil kepada Asumsi.co hari ini.

Idil mengatatakan bahwa secara politik peristiwa ini jelas tidak menguntungkan dan membawa preseden negatif bagi rakyat. Apalagi, kasus hoaks Ratna ini juga akan berpengaruh terhadap elektabilitas Prabowo-Sandi.

“Tidak bisa pula mereka (kubu Prabowo-Sandi) mengatakan ini adalah skenario untuk menjatuhkan citra mereka, sebab ini dilakukan oleh tim mereka sendiri.”

“Saya kira rakyat akan melihat ini sebagai bentuk pelanggaran moral yg cukup memalukan dan dampak elektoralnya tentu akan mendegradasi pilihan rakyat terhadap pasangan Prabowo-Sandi.”

Idil pun sepakat bahwa situasi rumit ini bakal bisa dihadapi kubu Prabowo-Sandi, meski akan sulit untuk mengangkat lagi elektabilitas mereka. Yang jelas, lanjut Idil, mereka harus bisa menghadapi proses hukuman jika ada tuntutan bahwa mereka harus bertanggung jawab. 

Namun, lanjut Idil, jika kubu Prabowo-Sandi mengklaim bahwa mereka semata korban maka mereka harus membuktikan bahwa mereka bukanlah orang-orang yg mengetahui atau bahkan mendesain masalah ini sejak awal. 

“Tapi hal itu tetap saja menurut saya masih sulit utk menaikkan elektabilitas disebabkan yang disentuh adalah persoalan moral dan perasaan rakyat yang merasa ikut dibohongi oleh Ratna.”

Related Article