Hersubeno Arief, Penulis ‘Aksi ‘Bunuh Diri Massal’ Pers Indonesia

Ketika banyak media mewartakan kalau Prabowo mengucapkan kalimat yang kontroversial (lagi) dalam komentarnya tentang pemindahan kedutaan besar Australia ke Yerusalem, salah satu artikel yang banyak dikutip oleh para warganet untuk mengklarifikasi, atau sekadar mengelak pemberitaan tersebut, adalah artikel yang berjudul Aksi ‘Bunuh Diri Massal’ Pers Indonesia yang ditulis oleh Hersubeno Arief. Tulisannya dipublikasikan dalam kolom Opini di kumparan.com. Dalam tulisan tersebut, ia menilai bahwa pers Indonesia kini sedang bunuh diri massal karena mewartakan berita atas kepentingan rezim penguasa. Ya, rezim pemerintahan Joko Widodo. Ia menilai bahwa gambaran tentang Prabowo seringkali di-framing, dipelintir, atau bahkan digoreng tanpa fakta yang benar adanya. Dengan membeberkan fakta bahwa banyak media yang merubah judul berita tentang pemindahan kedubes tersebut, ia berargumen bahwa Prabowo merupakan korban dari pers.

Namun ternyata, artikel karya Hersubeno ini tidak berhenti sampai klarifikasi tentang judul saja. Di dalam artikelnya, ia juga berargumen kalau Prabowo tidak salah ketika mengucapkan kata ‘Bank Indonesia’ alih-alih ‘perbankan Indonesia’, sesuatu yang diklarifikasi bukan oleh Prabowo ketika berbicara, tetapi oleh tim kampanyenya beberapa saat kemudian.

Karena artikel tersebut tidak murni dari Kumparan, melainkan dari opini seseorang bernama Hersubeno Arief, tentu hal yang menjadi pertanyaan wajar dari benak pembaca awam adalah, siapa ya Hersubeno Arief ini?“

Hersubeno Arief, Wartawan Senior kini Konsultan Media dan Politik

Mencari profil Hersubeno Arief, apalagi berkenalan melalui media sosialnya, ternyata cukup sulit. Di Twitter, pencarian Hersubeno Arief tidak memberikan hasil yang relevan. Begitu pun hasil pencarian Google. Kalau yang lebih sederhana, di laman Kumparan.com tersebut, Hersubeno disebutkan sebagai seorang Konsultan Media dan Politik. Namun tidak ada penjelasan yang lebih komprehensif dari itu. Gambar foto profilnya saja bendera merah putih yang sedang berkibar. Tidak ada kejelasan siapa Hersubeno, terutama di era digital ini, dengan profil-profil di media sosial yang seharusnya lebih mudah ditemukan.

Memahami Pikiran Hersubeno Arief dari Tulisan-Tulisannya

Dengan segala usaha yang sudah dilakukan pada tahap pertama, ternyata nama Hersubeno hanya memberikan sedikit sumber yang relevan. Beberapa sumber relevan yang dapat menjadi rujukan adalah tulisan-tulisan di blog pribadinya. Dari sini, nampaknya satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah memahami jalan pikiran Hersubeno melalui tulisan-tulisan tersebut.

Jelas akan sulit untuk melihat Hersubeno dari tulisannya secara keseluruhan, karena bahkan di blognya ada banyak sekali, belum lagi yang tersebar di berbagai media. Namun coba lihat dari beberapa tulisannya tentang isu-isu terbaru. Alasannya, dengan melihat dari tulisannya yang terbaru, harapannya akan terlihat ‘pemikirannya’ yang terbaru dan masih hangat, bukan pemikirannya yang lama-lama.

Di blog pribadinya, tiga artikel dengan topik yang berbeda, yang bisa dipilih untuk melihat posisi Hersubeno adalah artikel yang berjudul ‘Mengapa Ratna Sarumpaet Harus Berbohong?’, ‘Metamorfosa dan Blunder-Blunder Politik Kyai Ma’ruf Amin’, dan ‘Jokowi di Mata Pengamat Asing: Anti Demokrasi dan Berubah Menjadi Otoriter’. Mari cek satu-satu.

Dalam artikel ‘Mengapa Ratna Sarumpaet Harus Berbohong?’ Hersubeno mengatakan kalau prestasi polisi kali ini sangat baik dengan nada yang cukup satir. Secara spesifik ia mengatakan hal berikut dalam artikelnya, “untuk kali ini prestasi polisi top! Sangat sigap. Kita berharap kasus lain yang lebih serius seperti Novel Baswedan, kasus teror terhadap Neno Warisman dan Mardani Ali Sera segera terungkap. Oh iya, hampir lupa, kasus editing video pengeroyokan suporter Persija yang ditambahi kalimat tauhid, dan ujaran kebencian yang mengikutinya juga belum terungkap.”

Kemudian, spesifik pada kasus Ratna Sarumpaet dan respon Prabowo, iya ‘mewajarkan’ kegagalan Prabowo dalam mencerna kebohongan Ratna Sarumpaet karena ia adalah seorang manusia yang polos dan tidak terbiasa hidup dengan kebohongan. Selain itu, ia juga merasa bahwa Prabowo melihat orang lain dengan cara yang positif. Hersubeno mengatakan, “Seorang tokoh berhasil dibohongi, apalagi oleh seseorang yang punya reputasi cukup bagus seperti RS, sebenarnya merupakan peristiwa biasa. Dari sudut yang netral kita bisa mendapat gambaran bahwa Prabowo adalah manusia yang polos. Bukan seorang politis yang terbiasa hidup dengan kebohongan. Dia selalu melihat orang lain dengan cara positif (positive thinking).” Kalau kalian ingin membaca secara keseluruhan, berikut artikel di blog pribadinya.

Kemudian artikel yang kedua adalah artikelnya yang berjudul ‘Metamorfosa dan Blunder-Blunder Politik Kyai Ma’ruf Amin’.  Di kalimat pembuka tulisan tersebut, Hersubeno merasa bahwa Kyai Ma’ruf Amin telah berubah dari seorang ulama menjadi politisi sejati.”Hanya butuh waktu kurang dari empat bulan bagi Kyai Ma’ruf Amin untuk bermetamorfosa (berubah bentuk) kembali dari seorang ulama menjadi politisi sejati.” Apa makna kata politisi sejati ini?

Menurut Hersubeno, di artikel yang sama, politisi dan pesulap dianggap memiliki kesamaan. Yaitu pandai mengecoh publik. Bedanya, Hersubeno merasa bahwa pesulap melakukannya hanya untuk hiburan, sedangkan politisi dinilai memiliki tujuan yang lebih besar, yaitu memanipulasi pikiran publik untuk sebuah kekuasaan. Dengan alur logika sederhana, itu artinya Hersubeno merasa Kyai Ma’ruf Amin sedang memanipulasi pikiran publik untuk sebuah kekuasaan. Hersubeno mengungkapkan, “politisi dan pesulap itu memiliki banyak kesamaan. Keduanya menarik perhatian kita menjauh dari apa yang sesungguhnya mereka lakukan. Dengan kata lain mereka mengecoh publik. Bedanya pesulap melakukannya sekedar untuk hiburan. Politisi punya tujuan yang lebih besar, yakni memanipulasi pikiran publik untuk sebuah kekuasaan.” Untuk lebih lengkapnya, berikut artikel aslinya.

Kemudian, dalam artikel ketiganya yang berjudul ‘Jokowi di Mata Pengamat Asing: Anti Demokrasi dan Berubah Menjadi Otoriter’ posisi Hersubeno terasa begitu jelas bahkan dari kalimat pertamnya. Dengan menyatakan bahwa dirinya membaca dari sejumlah publikasi kajian dan artikel yang ditulis pengamat asing, ia menuliskan bahwa Jokowi adalah tokoh populer yang telah berubah menjadi anti demokrasi dan otoriter. “Sejumlah publikasi kajian dan artikel yang ditulis pengamat asing, menyampaikan sebuah kekhawatiran yang hampir seragam. Jokowi, seorang tokoh populer yang dianggap mewakili wajah politisi baru – di luar elit politik yang pernah terlibat di era Orde Baru – telah berubah menjadi anti demokrasi dan otoriter,” begitu ungkap Hersubeno.

Dalam tulisannya, benar ia mengutip dari berbagai sumber. Publikasi kajian dan artikel yang mendukung argumentasinya tersebut ada beragam. Antara lain Ia mengutip dari Foreign Affairs, Australian Strategic Policy Institute, dan East Asia Forum. Untuk melihat lebih lanjut, tulisannya dapat dibaca di sini.

Related Article