Hari Buruh: Pekerja Ritel dan Ekspedisi Mogok Besar-Besaran di Amerika Serikat

Menyambut Hari Buruh Sedunia, para pekerja perusahaan-perusahaan ritel dan ekspedisi besar berencana mogok beramai-ramai di Amerika Serikat. Buruh Walmart, FedEx, Target, Instacart, Amazon, dan Whole Foods Market akan cabut dari kantor lebih cepat untuk memprotes kondisi kerja yang tak manusiawi di tengah pandemi COVID-19. Mereka dipaksa berjibaku untuk memenuhi permintaan pasar yang terus melonjak, sementara para bos meraup keuntungan pribadi hingga puluhan miliar dollar.

Tidak, kamu tidak salah baca: Puluhan. Miliar. Dollar.

Kala COVID-19 melanda, perusahaan macam Amazon dan Walmart justru untung besar. Mereka termasuk bisnis “esensial” yang memegang peranan kunci dalam rantai pasokan. Oleh karena itu, mereka tidak diperintahkan menutup gudang atau merumahkan pegawainya. Justru, mereka menambah jumlah pekerja guna mengimbangi permintaan pasar.

Maret lalu, Amazon mengumumkan rencana mempekerjakan 100 ribu pegawai baru di bagian gudang dan pengepakan. Bulan ini, mereka menargetkan sedikitnya 75 ribu pekerja baru. Adapun perusahaan pengiriman bahan baku Instacart mempekerjakan 300 ribu orang pada bulan Maret untuk menjadi pengantar bahan belanjaan. Jumlah itu melebihi keseluruhan pekerja mereka sebelum pandemi.

Penyebabnya jelas: dalam kondisi begini, perusahaan yang dapat mengirimkan barang jarak jauh dan menyediakan bahan makanan jadi andalan. Transaksi belanja daring bertambah, dan orang-orang yang terpaksa dirumahkan bergantung pada mereka untuk membeli kebutuhan sehari-hari serta barang-barang iseng untuk menghibur diri. 

Para petinggi perusahaan menang banyak. CEO Amazon Jeff Bezos, misalnya, meraup keuntungan pribadi setidaknya 24 miliar dollar sejak pandemi dimulai.

Namun, banjir harta ini berbanding terbalik dengan nasib ratusan ribu pekerja yang membanting tulang untuknya. Mereka berdesak-desakan di gudang tanpa protokol kesehatan yang jelas. Tak ada aturan social distancing dalam gudang. Pekerja pun tak diberikan sarung tangan, masker, dan hand sanitizer. 

Tunjangan dan jaminan cuti untuk pekerja yang sakit juga dicabut tanpa alasan jelas, dan perusahaan tak terbuka tentang jumlah pekerja yang sudah terkena COVID-19. Lebih buruk lagi, pekerja yang berusaha memprotes atau melaporkan kejanggalan tersebut kerap dipecat tanpa alasan yang jelas. Semua itu terjadi selagi dunia terus menggaungkan pesan: bersyukurlah kalian karena masih punya pekerjaan.

Salah satu kejanggalan pertama terjadi pada 30 Maret di New York City, AS. Hari itu, puluhan buruh di sebuah fasilitas Amazon meninggalkan tempat kerja untuk memprotes kondisi kerja yang tak wajar. Chris Smalls, pengorganisir protes kecil-kecilan tersebut, menyatakan bahwa pihaknya menuntut Amazon menyediakan alat pelindung yang memadai (seperti masker) dan hazard pay atau bayaran khusus untuk pekerjaan yang berbahaya. 

Setelah kolega mereka ditemukan positif COVID-19, mereka pun menolak kembali ke gudang pengepakan sebab gedung tersebut belum dibersihkan secara menyeluruh dengan disinfektan. Siang harinya, Smalls malah dipecat dari perusahaan. Alasannya, ia berstatus sebagai ODP dan Amazon berpendapat bahwa protesnya mengancam kesehatan para koleganya.

Banyak pihak meragukan keabsahan pemecatan ini, termasuk pemerintah daerah New York. Walikota New York City Bill de Blasio langsung memerintahkan komisioner HAM kotanya untuk menginvestigasi pemecatan tersebut, dan Jaksa Agung New York Letitia James telah meminta Badan Perburuhan Nasional AS untuk mengusut tuntas kasus tersebut. 

Mereka menduga Amazon memecat Smalls karena ia mengorganisir protes. Hal ini diperkuat temuan pada awal April lalu: memo internal Amazon yang bocor ke publik. Berkat memo tersebut, sejumlah petinggi perusahaan ketahuan sedang kongkalikong merancang kampanye kehumasan buat mencoreng nama baik Smalls. Tak lama setelah Smalls dipecat, rekan-rekannya dari fasilitas di New York tersebut unjuk rasa lagi.

Namun, Amazon tidak kapok. Pertengahan April lalu, mereka memecat tiga orang pegawai yang bersikap kritis terhadap kondisi kerja perusahaan di tengah pandemi. Dua UX designer, Maren Costa dan Emily Cunningham, dipecat setelah mempertanyakan efektivitas protokol kesehatan Amazon dan menggalang dana untuk mendukung para pekerja gudang yang berisiko terkena virus. 

Amazon pun memecat Bashir Mohamed, buruh gudang di Minnesota yang rutin memperingatkan koleganya tentang bahaya COVID-19 dan meminta manajemen membersihkan gudang pengepakan. Imbas dari kerja keras Bashir, rekan-rekannya di gudang melaporkan manajemen mereka ke Badan Keselamatan dan Kesehatan Kerja AS setelah salah seorang pekerja positif COVID-19 dan manajemen berpangku tangan. 

Alasan pemecatan Bashir? “Kelakuan dan ucapan tidak pantas.”

Hari Minggu (26/4) lalu, para pekerja di pusat pengepakan Amazon di Shakopee, Minnesota, angkat kaki dari kantor untuk memprotes pemecatan semena-mena rekan kerja mereka. Faiza Osman, seorang ibu dua anak, tiba-tiba dipecat karena ia tetap di rumah untuk merawat anaknya yang sakit. Menurut kebijakan Amazon sebelumnya, setiap pekerja berhak mengambil cuti berbayar bila ia atau anggota keluarganya sakit. Namun, akhir April ini, tunjangan tersebut tiba-tiba dicabut.

Menurut Awood Center, pusat advokasi untuk pekerja Amazon di Minnesota yang sebagian besarnya merupakan imigran Somalia, Faiza sebenarnya sudah diizinkan atasannya untuk “tetap di rumah” bila mereka sakit atau butuh beristirahat. Namun, saat Faiza betulan tetap di rumah, ia justru dipecat. 

Awood Center pun mempertanyakan kenapa Amazon mencabut hak pekerja atas cuti berbayar saat sakit menjelang bulan Ramadan, saat mayoritas pekerja mereka bakal berpuasa. “Setelah kebijakan Amazon berubah, pekerja yang sakit juga harus tetap masuk kantor, atau mereka bakal kena denda, bahkan dipecat,” ucap Hafsa Hassan, pengorganisir protes di Minnesota. “Padahal, sudah ada tiga pekerja gudang yang sakit, dan kami tak tahu berapa banyak lagi yang pasti kena COVID-19.”

Poin terakhir inilah yang jadi keresahan para pekerja Amazon. Menurut laporan perusahaan, setidaknya 75 pekerja mereka positif kena COVID-19 di 110 gudang dan pengepakan di seluruh AS. 31 Maret lalu, seorang manajer operasional di California Selatan jadi pekerja Amazon pertama yang meninggal akibat pandemi ini.

Namun, angka ini dinilai kelewat sedikit. Seperti dilansir The Intercept, seorang pekerja Amazon di Indiana melakukan penelusuran mandiri. Data tersebut dihimpunnya berdasarkan bocoran tangkapan layar memo internal perusahaan, voicemail, dan chat perusahaan. Berdasarkan investigasi tersebut, ia dapat memverifikasi bahwa terdapat setidaknya 500 kasus COVID-19 di 125 gudang Amazon di seluruh AS.

Seperti diberitakan VICE, Amazon umumnya baru memberitahu pekerja bahwa koleganya positif COVID-19 “beberapa hari” setelah pekerja yang positif COVID-19 terakhir masuk kantor. Kabar tersebut pun hanya disampaikan lewat SMS. Nama pekerja yang terinfeksi pun tidak diberitahu, sehingga para pekerja yang lain waswas dan tak paham cara melindungi diri.

Gerah melihat manajemen berpangku tangan selagi terus mengeksploitasi para buruh sampai mati, akhirnya para pekerja gudang dan pengepakan dari berbagai perusahaan sejenis berserikat. Koalisi buruh Amazon, Instacart, Walmart, dan FedEx berencana walk out dari pekerjaan mereka setelah jam makan siang pada Hari Buruh Sedunia, dan berdemo. Di AS, 1 Mei bukanlah hari libur. Negara itu memperingati Hari Buruh pada bulan September.

Para pekerja menuntut kompensasi untuk cuti tak berbayar yang terpaksa mereka ambil setelah pandemi dimulai pada bulan Maret; cuti sakit berbayar atau hazard pay sampai akhir pandemi; perusahaan menyediakan alat perlindungan diri seperti masker dan peralatan kebersihan di fasilitas perusahaan; dan transparansi dari perusahaan soal jumlah kasus COVID-19 di setiap gudang pengepakan.

Stephen Brier, sejarawan hak buruh dan profesor CUNY School of Labor and Urban Studies menyatakan bahwa protes ini adalah konsekuensi yang wajar. “Para pekerja ini dieksploitasi habis-habisan oleh perusahaannya, padahal fungsi mereka amat penting,” tuturnya. “Sekarang, di tengah pandemi, mereka dianggap pekerja esensial dan fungsi mereka dihargai. Kini mereka punya posisi tawar yang kuat dan kekuatan berlebih bila mereka bergerak secara kolektif.”

Seorang pekerja yang dikutip The Intercept berkata: “Nasib kami bergantung pada perjuangan kami.”

Related Article