Harapan di Pintu Unit Pinere RS Persahabatan

“Mohon bertanya, apakah persediaan surgical mask di tempat Dokter Teguh saat ini cukup? Bila tidak cukup (karena banyak RS yang kekurangan surgical mask dan APD), saya bersedia mencarikan dan membeli sejumlah boks surgical mask di pasaran sebagai sumbangsih saya kepada RS tempat Dokter Teguh bertugas.”

Pesan WhatsApp ini dikirim Pak Hakaha, bukan nama sebenarnya, seorang pria paruh baya yang hobi fotografi di Jakarta, kepada dokter Teguh Wijaya, ahli paru terkenal di Bandung. Keterbatasan masker serta alat kesehatan lain di tengah wabah COVID-19 membuat Pak Hakaha tergerak untuk turun tangan membantu, mencari entah di mana, sedapatnya.

Di sebuah grup WhatsApp, ia mengajak anggota grup untuk ikut berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan—yang ia namakan “Komunitas Fotografer”—untuk menghadapi COVID-19. Ia membuka rekening baru, anggota dipersilakan berdonasi semampunya.

“Dari dulu juga saya sudah sering menyumbang untuk aksi sosial. Mau apapun agamanya, saya ikut partisipasi. Semua agama sama, harus saling membantu dalam segala bentuk. Saya berusaha semampunyalah untuk kemanusiaan,” kata Pak Hakaha saat bercerita kepada Asumsi.co, Jumat (20/03/20).

Andai saja syarat untuk menjadi relawan resmi perangi COVID-19—yang diinisiasi Menteri BUMN Erick Thohir—bisa sedikit longgar, Pak Halim mengaku bakal jadi yang terdepan mendaftar. Sayangnya, usia maksimal 36 tahun dan belum berkeluarga. Pak Halim dipastikan sudah tak bisa memenuhi syarat itu.

“Seandainya saja saya masuk kriteria, saya pasti daftar untuk aksi kemanusiaan ini,” ucapnya. Tapi, banyak jalan menuju Roma. Pak Halim tak perlu mendaftar menjadi relawan. Sebab ia sendiri sudah menjelma menjadi kabar baik yang menumbuhkan harapan di tengah banyaknya berita suram saat pandemi seperti sekarang ini. 

Hingga Jumat (20/03) sore WIB, jumlah pasien positif COVID-19 di Indonesia kembali meningkat: 369 kasus, dengan laju kematian 8,6 persen. Dari data real time WHO di hari yang sama, ada 209.839 kasus positif di seluruh dunia, di antaranya 8.778 orang meninggal.

“Kemarin sore, saya mengunjungi RS Persahabatan. Dari kejauhan, saya terenyuh menyaksikan para tenaga medis di unit Pinere, unit yang menangani virus Corona, yang sudah bersedia mengemban tugas mulia untuk menangani para pasien, yang mungkin sudah terpapar virus Corona. Di hati saya, mereka adalah para ksatria kemanusiaan,” ucapnya.

Di pintu menuju ruang isolasi itu, petugas medis bergantian keluar-masuk menyambut pasien. “Saya cuma melihat dari jauh, kan itu di dalam tenda ada petugas-petugas medis. Ini luar biasa, ini nekat juga, mereka berani sekali. Karena mereka bisa saja terpapar virus SARS-CoV-2.”

Setiap sore, dari donasi yang didapat dari teman-teman di grup “Komunitas Fotografer”, Pak Hakaha mengirimkan total 25 boks nasi beserta lauk pauk ke RS Persahabatan. Rencananya, sumbangan nasi kotak itu akan rutin dikirim ke RS Persahabatan sampai Lebaran Idul Fitri pada Mei nanti.

“Tapi kebetulan hari ini ada permintaan nggak usah kirim nasi boks dulu, karena sekarang mendadak stok nasi kotaknya sudah berlimpah. Jadi minta diganti makanan yang tahan lama dan bisa disimpan kayak roti dan susu. Seandainya dana yang masuk tidak mencukupi untuk berlanjut sampai lebaran, saya akan menanggung kekurangan biaya pengeluaran untuk para pejuang medis.”

Menurut Pak Hakaha, tim medis di RS Persahabatan sebetulnya sudah dapat stok makanan. Tapi, ia berpikir stok yang ada mungkin saja tak mencukupi sehingga harus dikirim lagi. Menurutnya, selain untuk tim medis, kalau lebih juga bisa dimakan untuk keluarga pasien yang lumayan banyak di sana.

Pada kesempatan lain, selain nasi kotak, sejumlah boks masker juga diantar ke RS Persahabatan, termasuk juga tisu disinfektan.

“Kalau steril coat, saya belum menemukan penjual yang punya stok. Di USA saja bakal kekurangan. Saya sudah tanyakan ke Dokter Teguh, kalau diperlukan, saya pribadi bersedia membeli 10 boks surgery mask dari pasar gelap karena di Jakarta memang sudah langka at any price untuk saya donasikan ke tenaga medis di Bandung.”

Alat-alat kesehatan itu untuk stok preventif. Pak Hakaha sudah mendonasikannya ke beberapa RS di Jakarta dan Cirebon, termasuk juga ke RS Persahabatan. Untuk masker, ia mengaku mendapatkannya susah payah dari pasar gelap dengan harga selangit.

“Masker berapa pun harganya saya langsung beli, yang penting ada stoknya sebab di pasaran itu sebetulnya sudah nggak ada. Teman saya, Bu Fafa, setiap hari bantu saya mencari masker di Bogor. Harganya unreasonable, mencapai Rp400.00 per boks. Karena pasar gelap, penjualnya ketakutan, enggak berani menjual secara terbuka dan sebelum bertemu ia meminta foto wajah pembelinya dulu, minta KTP.”

Pak Hakaha juga menyebut permintaan penting lainnya dari RS Persahabatan adalah masker N95, yang diperlukan para dokter untuk menangani COVID-19. Namun, masker yang dimaksud memang tak ada di pasaran serta sangat susah dicari.

Selain itu, lanjut Pak Hakaha, RS Persahabatan juga butuh alat pelindung diri (APD), yang berbentuk serupa jas hujan. Sayangnya, APD juga sulit dicari dan masih belum didapat. Namun, ia tetap akan berusaha mencarinya.

Karangan bunga penyemangat dari Pak Hakaha untuk tim medis di RS Persahabatan, Jakarta. Foto: Dok. Asumsi.co

Kelangkaan masker di tengah pandemi memang mengkhawatirkan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor masker di Indonesia meningkat dari 2,1 juta dolar AS (Januari 2020) menjadi 74,7 juta dolar AS (pada Februari 2020).

Di negara adidaya Amerika Serikat, kondisi juga tak jauh berbeda. Seperti laporan The New York Times, Kamis (19/03), stok masker dan alat kesehatan lainnya juga mulai sulit dicari. Bahkan, lantaran stok menipis, dokter dan perawat di sana harus memutar otak bagaimana caranya agar persediaan masker mereka bisa bertahan lama. Di AS, per hari ini, sudah ada total 12.392 kasus, dengan 195 orang meninggal dunia.

Seorang perawat di Illinois terpaksa memanfaatkan masker sekali pakai untuk dipakai selama lima hari. Sementara seorang dokter unit gawat darurat di California menyebut rekan-rekannya sudah mulai menyimpan masker kotor dalam wadah plastik untuk digunakan lagi nanti dengan pasien yang berbeda. Mereka menggambarkan situasi ini sangat mengerikan, sebab berperang tanpa amunisi (tanpa masker dan alat pelindung kesehatan lainnya) justru membahayakan diri sendiri.

Bahkan, seorang dokter spesialis anak di Washington berupaya memaksimalkan stoknya yang tinggal sedikit, dengan cara menyemprot setiap masker dengan alkohol setelah digunakan, sampai rusak. Tak heran, tim medis di sana mengimbau kepada masyarakat untuk membantu menghadapi pandemi COVID-19 bersama-sama dengan menyumbangkan peralatan kesehatan yang ada ke rumah sakit terdekat.

Dokter, perawat, dan tim medis lainnya menggaungkan tagar #GetMePPE di media sosial merujuk pada alat pelindung diri seperti masker, baju pelindung, dan pelindung wajah. Mereka mendesak para pemimpin agar bisa menyediakan lebih banyak perlengkapan untuk melindungi dari infeksi.

Tim medis tentu saja membutuhkan persediaan masker dalam jumlah yang besar karena mereka bersentuhan langsung dengan pasien yang terinfeksi COVID-19, dan harus mengganti masker mereka berulang kali. Imbauan WHO pun jelas bahwa para pekerja kesehatan direkomendasikan menggunakan masker bedah untuk menutupi mulut dan hidung mereka. 

Namun, sejumlah rumah sakit membutuhkan masker N95, sama halnya dengan yang dicari Pak Hakaha untuk kebutuhan tim medis di Jakarta dan sekitarnya. Sebab masker N95 jauh lebih tebal dan bisa menangkal partikel yang berukuran lebih kecil daripada masker bedah biasanya.

Belajar dari situasi sulit di AS, Pak Hakaha pun berpesan agar masyarakat di Indonesia bisa bahu-membahu saling membantu, misalnya dengan tak membeli masker berlebihan dan kalau bisa ikut menyumbangkan ke tim medis yang jauh lebih membutuhkan. Selain itu, ia juga meminta masyarakat untuk menjaga kebersihan dan menjalankan pola hidup sehat. 

“Memang cara paling bagus ya mencuci tangan dengan sabun di air bersih mengalir atau menggunakan cairan disinfektan beralkohol. Tapi kalau fasilitas itu tidak ditemukan, semoga wet wipes anti bacterial yang kami sumbangkan ini bisa menggantikan.”

Kalian tentu saja tak mengenal siapa Pak Hakaha dan bagaimana rupanya. Tapi semangatnya di hari-hari sulit ini, jadi barang mewah. Setidaknya untuk membantu tim medis yang berada di garis depan memerangi COVID-19. Dan percayalah, setiap orang bisa seperti Pak Hakaha. Bergeraklah.

Related Article